Ketelanjangan Sosial dan Kejahatan yang Sempurna

Ketelanjangan Sosial dan Kejahatan yang Sempurna
©MovieWeb

Ketelanjangan atau kecabulan rahasia berlangsung dalam bentuk yang lain.

Sosial dan sosialisasi kini hadir dalam wujud informasi di dalam ruang-ruang virtual (virtual social space), bukan di ruang-ruang sosial yang nyata (social space). Reuni, ritual, pertemuan, silaturahmi, bincang-bincang, bahkan perdebatan dan protes kini hadir dalam wujud virtualnya di dalam media.

Sebagaimana yang Baudrillard ungkap, media tidak menyebabkan sosialisasi, melainkan yang sebaliknya: implosi sosial ke dalam massa.

Apa yang terjadi di dalam ruang-ruang yang ia sebut media tersebut, yang di dalamnya apa-apa yang jadi rahasia secara sosial di dunia nyata, justru tertelanjangi untuk massa. Ia adalah tempat di mana rahasia pribadi seseorang dapat dibongkar, dibawa, dan dipertontonkan dalam ruang publik. Di sinilah ketelanjangan terjadi.

Baudrillard berbicara mengenai apa yang ia sebut ketelanjangan atau kecabulan (obscene). Kecabulan yang ia maksudkan tidak mesti (meskipun termasuk di dalamnya) berkaitan dengan seks. Akan tetapi, dengan fenomena sosial yang lebih luas (sosial, agama, politik, informasi, budaya, media, dll).

Ketelanjangan atau kecabulan rahasia tersebut juga berlangsung dalam bentuk yang lain. Ia datang dari seseorang (kelompok orang) terhadap orang lain secara tak tampak di balik jaringan media.

Di depan layar TV atau gadget dan internet, orang tidak sekadar menonton, melihat, merespons. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan, seseorang sedang mengawasi, memata-matai, merekam, mendata, dan menklasifikasi untuk berbagai kepentingan (perampok, penipu, atau pemalsu).

Perbincangan mengenai media tidak dapat kita pisahkan dari kepentingan yang ada di balik media. Di dalam perkembangan media mutakhir , setidaknya ada dua kepentingan utama. Yakni, kepentingan ekonomi (economic interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest). Keduanya membentuk isi media (media content), namun mengabaikan kepentingan utama dari sebuah media: kepentingan publik. Itu terabaikan atas kepentingan tadi.

Kuatnya kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik inilah yang menyebabkan media hari ini tidak dapat netral, jujur, adil, objektif, dan terbuka, dan hanya menampilkan ketelanjangan. Akibatnya, kedua kepentingan tadi menjadi penentu apakah informasi yang media sampaikan akan memuat sebuah kebenaran (truth) atau sebuah kebenaran palsu (pseudo-truth). Ia mempresentasikan atau memelintir fakta.

Baca juga:

Dan publik menjadi korbannya karena berada di balik kedua kepentingan ini. Ini menjadikan mereka (publik) sebagai mayoritas yang diam, karena tidak memiliki kekuasaan dalam membangun atau menentukan informasi di dalam ranah publik (public sphere).

Menurut Gramsci, dominasi kekuasaan harus kita perjuangkan. Di samping lewat kekuatan senjata, juga lewat penerimaan publik (public consent). Yaitu, terterimanya ide kelas berkuasa oleh masyarakat luas, yang terekspresikan melalui mekanisme pembentukan opini publik.

Opini publik terbentuk dari realitas (kebenaran dan fakta) yang media suguhkan secara sungguh-sungguh. Semuanya tidak lebih dari sekadar realitas artifisial, yang menyampaikan sebuah kebenaran, dan menyembunyikan sebagian kebenaran. Ini kemudian membentuk opini publik dan sikap politik mereka, yang sesungguhnya telah terdistorsi oleh politik informasi.

Oleh karena itu, dalam upaya penerimaan publik, kita membutuhkan sebuah mediasi berupa ruang publik. Maka, di sini, Gramsci melihat pentingnya ada institusi-institusi dalam menyebarkan hegemoni ideologi tersebut. Gramsci menyebut institusi dan strukturnya sebagai alat hegemoni. Seperti sekolah, tempat ibadah, media massa, bahkan arsitektur atau berupa nama jalan.

Tujuannya dari kata hegemoni yang Gramsci maksudkan tidak lain untuk mempertahankan dan menyosialisasikan ide-ide atau ideologi hegemonik. Akibatnya, terjadi sebuah perebutan hegemoni di dalam ruang-ruang tersebut yang tidak ada henti-hentinya. Di dalamnya, gagasan ideologi dimenangkan, ditentang, diubah dalam sebuah persaingan demokratis.

Namun, bagi Gramsci, dalam persaingan yang demokratis, itu utopis. Dalam artian, sulit untuk tercapai jika tidak melibatkan paksaan atau kekerasan. Setidak-tidaknya paksaan atau kekerasan (berupa trik, rekayasa) yang halus dan tak tampak. Ini ia sebut sebagai kekerasan simbolik. Dan itu yang paling dominan dewasa ini.

Sungguh sangat mengkhawatirkan dalam menyerap sebuah informasi karena informasi telah kehilangan logikanya sendiri. Informasi tidak lagi mempunyai tujuan, fungsi, dan makna. Bentuk hidung Michael Jackson, misalnya, adalah informasi. Akan tetapi, apa nilai guna, fungsi, dan makna informasi tersebut bagi peningkatan kualitas manusia ketika ia dilaporkan, didialogkan, di-talk show-kan? The death of meaning.

Terjadi sebuah hiperrealitas di mana di dalamnya tidak ada lagi batas-batas mengenai baik/buruk, benar/salah, boleh/tidak boleh, berguna/tak berguna untuk kita komunikasikan di dalam sebuah media. Menciptakan semacam kondisi hipermoralitas, yaitu lenyapnya batas-batas moral itu sendiri di dalam wacana ketelanjangan media.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Muhammad Akbar (see all)