Ketika Agama Bertentangan dengan Fitrah Manusia – Kajian Atas Praktik Poligami

Ketika Agama Bertentangan dengan Fitrah Manusia - Kajian Atas Praktik Poligami
Ilustrasi: http://cdn2.tstatic.net

Apakah dogma praktik poligami itu sesuai dengan fitrah perempuan? Apakah diri setiap perempuan mau dipoligami? Kalau ternyata tidak, ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi agama dan perempuan.

Agama adalah sebuah ajaran yang mengatur seluruh bentuk kehidupan manusia. Mulai dari yang paling kecil sampai pada yang paling besar, semuanya ter-cover di dalamnya.

Praktik poligami, misalnya, yang telah mendapat asas legalitas mutlak dari agama, banyak kita temui di lapangan. Sehingga faktor tersebut menjadi alasan bagi laki-laki untuk selalu berpoligami. Dalam agama, laki-laki yang mampu diperbolehkan menikahi perempuan lebih dari satu, sedangkan perempuan tidak diperbolehkan menikah lebih dari satu.

Pertanyaannya, apakah dogma itu sesuai dengan fitrah perempuan? Apakah diri setiap perempuan mau dipoligami? Kalau ternyata tidak, ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi agama dan perempuan. Jika dibiarkan begitu saja, agama hanya akan tinggal nama saja. Tidak ada yang mau melaksanakan, sebab sudah bertentangan dengan fitrah manusia.

Inilah latar belakang dan tujuan penulis mengangkat tema tentang poligami untuk memberikan distribusi gagasan yang solutif, khususnya bagi masyarakat yang notabene senang menikahi perempuan lebih dari satu.

  • Ayat Poligami Q. S. Annisa’ ayat

“dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah jauh lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (Q.S. Annisa’ ayat 3) ”.

Berangkat dari satu ayat ini, para mufassir (baca: ulama) salaf berbeda pendapat. Pertama, melihat bahwa poligami itu haram sebab manusia itu lemah sehingga tidak akan berlaku adil pada perempuan-perempuan yang dinikahi.

Pendapat ini didasarkan pada ayat selanjutnya, Q.S. Annisa’ ayat 129. “dan kamu sekali-kali tidak akan berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat berlaku demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya allah lagi maha pengampun lagi maha penyayang.

Kedua, melihat ayat dengan cara berbeda bahwa poligami itu diperbolehkan. Ulama salaf yang sepakat dengan poligami didasarkan pada beberapa alasan: Jika memang benar poligami itu dilarang, maka tentunya rasulullah menyuruh para sahabat menceraikan istri-istri mereka seketika ayat itu dan cukup bagi mereka istri satu saja.

Tetapi, rasul dan para sahabat tidak melakukannya. Seterusnya, ulama yang sepakat dengan poligami mengartikan definisi berbeda dengan ulama yang mengharamkan poligami. Adil bagi ulama salaf diartikan sebagai “ketidak mampuan manusia merealisasikan keadilan di antara para istri dalam masalah cinta (baca: perasaan atau bagian hati) dan jima’”.

Jadi, manusia memang lemah dalam masalah hati atau perasaan dan itu sudah dijelaskan oleh Allah bahwa manusia tidak mampu menguasai kecondongan hati mereka terhadap sebagian. Tetapi dalam masalah nafkah manusia tetap bisa berlaku adil. Asumsi ini didasarkan pada sebuah hadist nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud “ya Allah, ini adalah pembagiannku terhadap apa yang mampu aku menguasainya, maka janganlah engkau mencelaku terhadap apa yang engkau kuasai dan tidak aku kuasai (yakni masalah hati/cinta/perasaan).

  • Poligami dan Humanisasi

Pada pembahasan selanjutnya, penulis ingin melihat poligami dari sisi humanismenya, tanpa mau terjebak pada perpedebatan teoritis seperti ulama salafus-soleh di atas. Penulis sengaja mengulang kembali gagasan tersebut agar pembaca tahu bahwa perdebatan itu bukanlah hal yang baru.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menjawab hipotesis bahwa praktik poligami bertentangan dengan fitrah seorang perempuan berdasarkan penelitian di lapangan.

Bagi penulis, secara umum tidak ada perempuan yang mau dipoligami sebab sacara psikologis perempuan menolak praktik seperti itu. Munculnya slogan “tolak poligami” atau “anti poligami” menjadi bukti nyata bahwa perempuan tidak mau dipoligami oleh laki-laki. Ketidaksepakatan perempuan terhadap praktik poligami tidaklah berangkat dari ruang yang kosong. hHl itu didasarkan pada beberapa alasan:

  1. Bagi perempuan, praktik poligami dianggap sistem yang tidak adil karena hanya memihak pada laki-laki.
  2. Jika perempuan dimadu, maka hak milik perempuan dari suami akan terbagi dengan istri mudanya.
  3. Kasih sayangnya pecah (ada kekhawatiran nanti suaminya lebih sayang pada istri mudanya).
  4. Takut tidak berlaku adil.

Di sini sudah sangat jelas sekali antara agama (baca: tafsir yang memperbolehkan poligami) dan fitrah individu (baca: Perempuan) sangat paradoksal. Di sisi lain, agama memperbolehkan poligami sedangkan perempuan tidak sepakat dengan poligami dengan beberapa alasan yang telah disebut di atas. Jika alasan-alasan itu dikontekskan dengan tradisi poligami di Madura, suami memang kebanyakan lebih condong pada istri mudanya daripada istri sebelumnya, belum lagi masalah nafkah.

Dalam buku Islam dan Teori Dunia Ketiga karangan Prof. DR. Mahmoud Ayoub yang diterjemahkan oleh Wahyudi Qurdi S. Tp. Dan Abdullah Haq, SH. Dituliskan tentang komentar Mu’ammar Qadhdhafi (tokoh revolusi lybia) tentang poligami. Qadhdhfi menolak dengan keras dan melihat poligami secara controversial. Baginya poligami yang direkomendasikan oleh Al-quran bukan sebagai hukum atau kewajiban, tetapi sebagai solusi yang diperlukan bagi sebuah permasalahan sosial, yaitu masalah wanita yatim piatu.

Karena bagi Qadhdhafi ketika sebuah hukum ditetapkan untuk mengesahkan permasalahan poligami, maka akan merusak sisi kemanusiaan, yakni dimensi kemanusiaan manusia (baca: perempuan) akan kehilangan maknanya.

Komentar Qadhdhafi tentang ayat poligami dalam Al-quran bahwa poligami tidak diperkenankan dalam Al-quran, poligami hanya diperbolehkan dalam kondisi khusus, yaitu dalam rangka menolong wanita yatim piatu, selain alasan itu tetap tidak diperbolehkan. Al-quran menyatakan:

dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) Perempuan yatim piatu, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak kan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah jauh lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (Q.S. Annisa’ ayat 3)”. Dalam artian jika seorang laki-laki khawatir tidak akan dapat menolong Perempuan yatim piatu kecuali dengan menikahinya maka solusinya adalah menikahinya.

Dalam buku yang sama juga disebutkan Qadhdhafi sepakat dengan pendapat pembaharu di mesir Muhammad Adduh yang mengatakan bahwa “tak ada seorang pun yang dapat mendisiplinkan sebuah masyarakat di mana di dalam masyarakat tersebut poligami tersebar luas”. Jika dipersempit lagi, jangan mimpi pemimpin bahkan ulama’ Madura dapat mendisiplinkan masyarakatnya sementara praktik poligami masih tersebar luas. Selain itu prediksi Qadhdhafi praktik seperti ini akan ditolak oleh masyarakat modern karena dianggap tidak humanis.

  • Solusi

Setelah Penulis panjang lebar mengupas pergulatan poligami, maka perlu memberikan solusi bagaimana jalan keluarnya? Bagi penulis jika terjadi konfrontasi antara doktrin agama dan sosial maka intinya kepentingan sosial haruslah lebih diutamakan? dengan beberapa alasan:

  • Eksistensi agama diturunkan oleh tuhan untuk stabilitas individu dan masyarakat bukan malah untuk mengekang/menekan.
  • Tuhan sudah terlalu sempurna, jadi tidak perlu dibela. Jika kita memilih poligami dan mengabaikan fitrah Perempuan berarti kita membela agama padahal tuhan tidak butuh dibela. Dia tidak butuh apa-apa dari kita. Yang perlu dibela adalah yang lemah yaitu manusia sehingga perlu dikedepankan. Inilah yang dimaksud Gusdur “tuhan tidak perlu dibela ”. dan hal ini sesuai dengan maqalah yang Penulis kutip dari opininya Anas Manunggal “kernet”:
  • Idza ijtma’a haqq adamiyyin wa haqq allah quddima haqqu adamiyyin (jika hak anak adam dan hal allah saling bercampur satu sama lain, maka dahulukanlah hak anak adam).

Maka penulis sangat sepakat dengan perempuan yang berada di garda paling depan menolak praktik poligami.

Catatan:

Mengedepankan HAM bukan berarti menomorduakan agama. Karena Alquran sendiri tidak anti HAM justru menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Dalam masalah praktik poligami kita tidak boleh terjebak pada klaim-klaim tertentu, karena hal itu hanyalah masalah perbedaan tafsir.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Imam Jasuli (see all)