Ketika Para Filsuf Bermedia Sosial

Murid Socrates yang lain adalah Diogenes dari Sinope. Berbeda dari Plato, dia berpendapat, karena kebijaksanaan tidak dapat dicapai oleh hampir semua warga, peran tepat dari seorang filsuf bukanlah untuk membimbing atau mengendalikan, melainkan menjauhkan diri untuk kemudian mengomentarinya dari sisi terluar.

Diogenes adalah filsuf seniman yang mengejutkan—hidup di jalanan, buang air dan bermasturbasi di depan umum, punya kebiasaan mengkritik orang yang lalu-lalang, berjuluk “si anjing” atau “si sinis” karena kritik-kritiknya kejam.

“Dia adalah prototipe dari warganet pemberani. Celakalah mereka yang unggahannya dikomentari Diogenes.”

Untungnya sinisme seperti dipopulerkan Diogenes itu bukan satu-satunya respons atas kegagalan dan ketidakmampuan komunikasi manusia. Ada juga stoicisme yang mencerminkan kembali pemikiran Plato.

Stoicisme memahami bahwa seluruh kosmos adalah satu organisme yang hidup. Gagasan ini merupakan entitas kesatuan di mana manusia terlibat jadi bagian di dalamnya. Sebagai makhluk rasional, stoicisme mengandaikan semua manusia punya kapasitas bernalar secara sehat, dan bertindak sesuai rasionalitas masing-masing.

“Mungkin para stoic-lah (kaum stoa), meski memiliki pandangan ambivalen (campur aduk), yang membangun optimisme tentang kemungkinan yang ditawarkan media sosial.”

Sejauh media sosial menawarkan mekanisme konektivitas, warganet dapat mendorong lahirnya komunitas sungguhan—terutama ketika para pengguna terlibat satu sama lain dengan itikad baik untuk saling menguntungkan.

“Seorang stoic mungkin akan bertanya, apakah kamu menggunakan media sosial sebagai kontributor rasional untuk kesejahteraan manusia dan komunitas? Atau untuk mengagungkan diri, menghibur, atau sekadar pelarian? Jika yang pertama, lanjutkan; jika yang kedua, hapus saja akunmu.”

*Kalau tidak puas dengan terjemahan di atas, baca sendiri artikel aslinya di BBC Future.

Maman Suratman
Latest posts by Maman Suratman (see all)