Ketika Perbucinan Menumpulkan Nalar Pergerakan

Ketika Perbucinan Menumpulkan Nalar Pergerakan
©IDN Times

Perbucinan bisa menjangkiti siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Termasuk di ruang-ruang pergerakan.

Tiba-tiba saya teringat kisah tentang gagalnya 3 temanku, 2 laki-laki dan 1 perempuan dalam membesarkan grup band yang baru mereka rintis. Alasannya karena di antara mereka terjadi skandal perasaan. Yang menyebabkan rusaknya hubungan pertemanan mereka.

Coba tebak apa yang terjadi setelah itu? Anda benar. Tujuan mereka membesarkan grup band  yang telah dicita-citakan sejak lama itu juga ikutan ambyar.

Mirisnya, teman-teman saya itu mengira apa yang sedang mereka pertengkarkan adalah upaya mengejawantahkan cinta. Tapi kalau kita tengok lebih jauh, apa yang mereka sebut cinta itu sebenarnya bukanlah cinta. Namun suatu hasrat erotis untuk memonopoli kepemilikan tubuh seseorang.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah bucin ‘budak cinta’. Tentu, istilah bucin ini bernada satire. Yang merujuk atas orang-orang yang tidak dapat mengendalikan perasaan cintanya. Karena bernada satire, maka kata cinta yang melekat pada istilah bucin juga mengalami degradasi makna. Maka, dapat kita simpulkan bahwa mem-bucin berbeda dengan mencintai secara hakiki.

Namun demikian, kita tidak sedang memusuhi cinta. Kita sedang memerangi hasrat dan nafsu yang mengatasnamakan cinta.

Cinta memiliki kedudukan yang mulia. Hanya dengan cinta keragaman kehidupan dapat berjalan secara harmonis. Hanya dengan cinta Si Kaya memandang Si Miskin dengan tatapan penuh kasih. Hanya dengan cinta kita mampu menaati aturan main pergerakan. Namun terkadang, cinta pun dapat turun derajatnya menjadi sekadar hasrat yang sarat kenaifan.

Ketidakmampuan mengendalikan perasaan cinta yang berlebihan bakal mengundang malapetaka. Orang-orang yang seperti ini dalam mengomunikasikan isi hatinya jauh dari cara-cara diplomatis, lebih-lebih subtil. Ia berhasrat mewujudkan kehendaknya, tetapi tidak mampu membaca bahasa semiotik di luar dirinya.

Ringkasnya, ia tidak mampu memosisikan diri menurut konteks. Walhasil, dampak dari kelakuannya bukan cuma merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain, dan bahkan mungkin  pergerakan kita.

Saya pikir hal-hal semacam ini cuma terjadi di ruang-ruang non-pergerakan saja. Ruang-ruang yang tidak terikat pada nilai, tujuan, dan aturan main. Ternyata saya keliru.

Perbucinan bisa menjangkiti siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Termasuk di ruang-ruang pergerakan. Seperti misalnya, selama berproses di dalam sebuah organisasi pergerakan tidak sedikit saya menemui fenomena perbucinan yang menjangkiti para kadernya.

Baca juga:

Mula-mula saya memaklumi dan wajar saja. Namun setelah mendapatkan banyak informasi bahwa sebagian kader melampui batas dalam mengekspresikan perasaan cintanya, saya menjadi risih dan resah. Lebih-lebih, narasi yang keluar dari orang-orang semacam ini sering kali berlandaskan “siapa suka siapa” bukan berdasarkan nilai dan perspektif pergerakan.

Apalagi ketika virus perbucinan di bawa-bawa ke dalam ruang-ruang sidang, ke dalam aktivitas pengaderan, dan ke dalam wilayah pergerakan. Yang lahir kemudian adalah kemunduran wacana. Alih-alih mengisi ruang-ruang itu dengan gagasan, ide-ide, dan langkah-langkah progresif. Justru sibuk memperbincangkan sesuatu yang tidak substansial.

Perdebatan dan dialektika dipandang sebagai pekerjaan hina dan kejam, jika itu tidak mendukung perasaannya. Namun apabila hal itu mendukung perasaannya, sekejam dan sehina apa pun suatu kelakuan, ia akan dengan senang hati memaklumi dan membelanya.

Orang-orang yang terjangkit perbucinan akan mengalami “buta warna” atau bahkan “buta total” atas substansi dalam suatu persoalan. Tidak jarang afirmasi dan negasinya amat jauh dari nalar sehat yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis.

Yang lebih mengerikan. Indikator kemasuk-akalannya bukan menurut aturan logika yang sehat, tetapi apa-apa yang mendukung perasaan, ketakutan, dan keraguannya akan diterima dan dianggap logis tanpa usaha mempertanyakan dengan kritis.

Menengok fenomena yang demikian itu, saya sampai pada satu kesimpulan: perbucinan menumpulkan nalar pergerakan kita.

Kita sebagai orang pergerakan harus menumbuhkan lelaku perlawanan atas perbucinan yang mengakibatkan kegoblokan dan ketumpulan nalar. Sudah seharusnya kita mengejar para bucin perusak ritme pergerakan, bahkan, sampai ke ruang-ruang sempit sekali pun. Semua ini kita lakukan demi kapal pergerakan yang sehat dan progresif.

Sebab, kami melihat, cita-cita mulia kesempurnaan kehidupan umat manusia sekalian akan amat sukar diwujudkan jika para aktivis pergerakan Islam tidak mendidik dirinya dengan keras.

Menuruti dan memanjakan ego personal, yaitu suatu cinta erotis dalam lingkaran pengurus yang telah terikat ikrar, nilai, dan prinsip pergerakan. Yang ini berarti adalah satu bentuk pengingkaran. Kita akan mengatakan, pengingkaran berarti pengkhianatan. Tidak ada sebuah kapal yang bakal sampai kepada tujuannya jika dikemudikan oleh para perompak.

Kita tidak ingin kapal pergerakan kita seperti seonggok kayu mati yang terombang-ambing di tengah samudra. Menunggu badai menenggelamkannya, atau menunggu waktu melapukkannya… lalu hancur.

    Latest posts by Agung Hidayat (see all)