Kilas Balik Perjuangan GTT-PTT

Kilas Balik Perjuangan GTT-PTT
©Emaze

GTT-PTT adalah salah satu solusi jika ada kejadian yang serupa kembali terjadi.

Informasi yang telah lama tertutup akhirnya terkuak, sontak menjadi bahan perbincangan di beberapa Warkop tongkrongan pemuda, bahkan menjadi kabar hangat di berbagai media massa lokal.

Guru Tidak Tetap. Ya, begitulah kepanjangan dari GTT. Istilah ini mungkin tak asing lagi bagi masyarakat setelah aksi demonstrasi berkali-kali tergelar, terlebih bagi para pemuda-pemudi yang berteman akrab dengan microphone serta yang bersahabat baik dengan buku.

Konsolidasi berkali-kali berlangsung. Pada satu pagi yang sedikit terselimuti awan itu adalah waktu yang jadi ketentuan untuk berkumpul kembali.

Terlihat seorang tua berpakaian sederhana duduk bersama di sana, belasan pemuda dan para guru tidak tetap kembali melangsungkan pembicaraan. “Tampaknya sedang serius merundingkan sesuatu,” kata seorang jurnalis yang bergegas menghampiri mereka.

Tak berselang lama dari perundingan itu, melalui media online, beredar berita bahwa akan berlangsung aksi demonstrasi yang dipelopori oleh Aliansi Cinta Guru. Beberapa Organisasi Kepemudaan terlibat di dalamnya, di antaranya: GMNI, PMII, HMI, IPMAPUS, IKAMA, dan beberapa organisasi mahasiswa lainnya.

Seperti kabar yang beredar sebelumnya, aksi demonstrasi itu akan menuntut pemerintah provinsi untuk segera membayarkan gaji GTT dan PTT yang telah berbulan-bulan tak tertunaikan.

Pagi itu, persimpangan jalan manjadi saksi perlawanan GTT.  Suara lantang bergema, selebaran beredar, wajah yang rada memerah, serta kibaran bendera organisasi kepemudaan membuat sebagian pengguna jalan bertanya, “Ada apa denganya?”

“Hak mereka tak tertunaikan,” jawab seorang massa aksi.

Baca juga:

Jalannya memang demikian, seperti kata Soe Hok Gie: tak ada yang lebih romantis selain membicarakan keadilan.

Hemat saya, kezaliman wajib kita runtuhkan dan keadilan mesti kita tegakkan, pun sedikit mengganggu pandangan pengguna jalan.

Titik Awal Penyampaian Tuntutan

Setelah dari persimpangan jalan, massa aksi bergerak menghampiri gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Barat. Gedung itu menjadi titik awal perjuangan ini.

Sebagai gedung perwakilan rakyat, tak terhitung berapa banyak aksi yang telah berlangsung di sana, bahkan seorang aktivis mahasiswa pernah menghadapi proses hukum saat setelah berdemonstrasi di sana. Bukan begitu? Ia adalah aktivis IPMAPUS, yang dalam perjuangan ini ikut andil dalam barisan Aliansi.

Dari kejauhan, tampaknya terlihat seragam barisan para pengayom rakyat, mobil barracuda dan Satpol-PP pun berada di sana, namun hal itu tak menggerus semangat massa aksi. Lagu kebangsaan berdengung, orasi para aktivis mahasiswa terdengar dengan lantang, tak jarang pula para Guru Tidak Tetap turut berorasi. Seruan pembakar semangat tak henti-hentinya terucapkan. Ya, begitulah kondisi saat itu.

Aksi di depan gedung dewan ini sempat berlangsung panas. Betapa tidak, berkali-kali massa aksi melalui orasinya memanggil para anggota dewan. Saling dorong antara pihak polisi dan massa aksi pun tak terhindarkan.

Namun tak berlangsung lama dari kejadian itu, seorang utusan dari dalam gedung memanggil massa aksi ke dalam untuk melangsungkan audience. Massa aksi pun mengindahkan panggilan itu dengan alasan fisik para guru tidak tetap, sebab tak sedikit di antara GTT dan PTT berasal dari luar Kabupaten Mamuju.

Di dalam, massa aksi mendapat jamuan dari unsur pimpinan dan komisi terkait. Beberapa hal telah terbicarakan, namun rasa-rasanya tak tepat jika kepala OPD terkait dalam hal ini tidak hadir. Massa aksi mendesak anggota dewan untuk memanggil dengan segera dan menghadirkan kepala OPD di tengah-tengah massa aksi.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Hairil Amri (see all)