Kipas Angin

Kipas Angin
©PinImage

…orang-orang di sekitar kami menjulukinya sebagai kipas angin pengorbanan.

“Level 3 saja!”

“1 saja. Cukup kok.”

“Cukup bagaimana? Panas sekali ini.”

“Nanti Nesya bisa masuk angin, lalu pilek. Begitu juga aku.”

Perdebatan kembali terjadi persis ketika matahari mulai di atas kepala. Namun, bukan baru pertama kali perdebatan seperti ini terjadi. Sejak benda itu ada di dalam ruangan berukuran 4×6 ini, suasana siang hari kami terus diwarnai perdebatan. Bahkan tak jarang berujung pertengkaran.

Namun, seperti biasa juga, baik perdebatan maupun pertengkaran, itu selalu berakhir bila nama Nesya dilibatkan. Akhirnya, aku hanya punya satu pilihan: mengalah.

Kipas angin. Sebuah benda yang membawa kesegaran serentak mendatangkan malapetaka. Kutemukan beberapa bulan lalu lewat pengorbanan keras.

Sejak pertama kali kipas angin ini ada di rumah kami, orang-orang di sekitar kami menjulukinya sebagai kipas angin pengorbanan. Sebab, menurut mereka, ia diperoleh lewat sebuah pengorbankan diri. Kurang lebih begitu. Hingga tiap kali orang-orang bertamu ke rumah kami dan melihat benda ini, mereka mulai mengulangi kisah pengorbananku ketika mendapatkannya. Aku pun dipuji-puji dan sering dijadikan contoh dalam rapat-rapat kecil di lingkungan kecil tempat tinggal kami.

Meski begitu, sebenarnya, jika mengingat kembali kisah tersebut, aku sedih. Siang ini, entah kenapa, setelah sepakat dengan perkataan istriku, Lanala, ingatanku tentang kipas angin perlahan-lahan muncul kembali.

Masih teringat jelas ketika pagi itu aku mengendap-endap ke luar dari rumah melalui pintu belakang. Udara saat itu terasa sama: dingin. Sunyi. Hanya suara kecil gemericik air di bantaran kali dan derap langkahku yang terdengar melambai. Juga sesekali suara ngorok tetangga sebelah yang terdengar seperti saling bersahutan. Sungguh, pagi yang biasa.

Maka mulailah perjalananku. Menyusuri pinggiran jalan setapak. Berhenti di beberapa titik pembuangan sampah. Lalu memungut beberapa barang yang kuanggap penting dan menaruhnya di dalam keranjang usang yang tersampir di balik punggung.

Persis saat itu, beberapa kendaraan mulai berjejalan memadati badan jalan. Asap pun menggumpal di mana-mana. Menyisahkan bau yang tak sedap. Belum lagi laju kecepatan bus-bus di kota ini. Selalu di atas rata-rata. Tapi, tidak ada yang terlalu peduli.

Aku pun tak peduli. Toh sebenarnya sudah ada pihak yang menangani persoalan kendaraan di negeri ini. Harusnya hal seperti ini wajib diingatkan dan perlu diperhatikan oleh segenap pengendara. Apalagi berita yang kudengar beberapa hari terakhir ini, kecelakaan terjadi karena dipicu laju kendaran yang begitu cepat. Parahnya lagi kalau sopirnya mengantuk, seperti kecelakaan yang terjadi di jalan tol itu.

Sebenarnya, perjalanan yang kulalui itu tak jelas ke mana arahnya. Alias tak tentu arah. Sebab, perjalanan itu berakhir ketika keranjang di belakang punggung sudah penuh diisi barang-barang yang dibutuhkan. Mulai dari botol minuman bekas, kardus, kertas, dan berbagai benda bekas lainnya. Intinya, benda-benda itu penting untuk kelangsungan hidup.

Memang, jauhnya perjalanan tak akan pernah setimpal dengan upah diperoleh. Namun, sekurang-kurangnya cukup untuk makan sehari-hari.

Perjalanan pagi itu pun akhirnya sampai pada titik perbatasan kota dengan desa. Memang tidak ada tulisan perbatasan di situ, tapi perbatasan itu kunamakan sendiri. Sebab, jika diperhatikan baik-baik, di sana ada kesenjangan yang tampak jelas.

Di hadapanku, terbentang luas lahan persawahan. Sayangnya, kemarau panjang dan tak tentu ujungnya itu telah merenggut keberlanjutan hidup sawah dan juga para petaninya. Kekeringan sudah menjadi masalah serius. Kekurangan air pun sudah menimpa beberapa desa. Aku memilih pulang kembali.

Namun, ketika kubalikkan badan ke arah berlawanan, ekor mataku menangkap sesuatu benda di depan sebuah hotel. Persisnya, di tumpukan sampah hotel tersebut.

Segera kudekati bak sampah tersebut. Sebab, jika telat sedikit saja, orang-orang dari mobil pengangkut sampah pasti akan memungutnya dari sana. Sebenarnya, keranjangku hampir penuh, namun kipas angin itu kelihatan jauh lebih berharga dari benda apa pun yang telah ketemukan pagi itu.

Mulailah kukeluarkan sebagian barang dari keranjangku dan menaruh benda itu di dalamnya. Hatiku begitu senang. Seketika wajah manis istri dan anakku tebersit dalam ingatanku.

Namun, entah bagaimana petaka itu tiba-tiba menghampiriku.

“Prakkkk…..!”

“Ada yang tertabrak…tolong…tolong…,” teriak salah seorang pria yang tak kulihat jelas wajahnya.

Mulutku terkatup rapat. Mengucapkan sepatah kata pun aku tak sanggup. Meski samar kudengar lagi orang-orang berteriak minta tolong. Sementara dari jauh kulihat orang-orang menghampirikku. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa. Yang kutahu aku telah berhasil menemukan sebuah benda penting, kipas angin.

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sudah kembali berada di dalam ruangan yang tak asing bagiku. Wajah Lanala kudapati begitu gembira meski tampak masih sedikit cemas. Sementara Nesya, anakku, kelihatan sedang menikmati permainannya.

“Syukurlah, Bang. Kamu selamat. Tuhan sungguh mengabulkan doaku. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih,” ucap Lanala sambil mengusap-usap rambutku.

Melihat aku telah sadarkan diri, Nesya pun langsung menghampiriku dan memelukku erat. Kami bertiga pun larut dalam pelukan satu sama lain.

Saat memeluk istri dan anakku, mataku tak sengaja menengok sebelah kiri. Saat itu, belaian angin dari kipas angin terasa menampar wajahku. Sontak senyum tersungging di bibirku.

Beberapa hari setelah sadarkan diri, baru kuketahui detail kejadian yang menimpaku tersebut. Aku diserempet sebuah bus besar dalam kecepatan tinggi. Tubuhku terpental begitu jauh. Darah keluar dari beberapa bagian tubuhku. Akhirnya, aku dibawa ke rumah sakit.

Syukurlah pengendara kendaraan itu mau bertanggung jawab. Hingga aku pun diantar kembali ke tempat tinggalku ini.

***

Keringat mulai membasahi sekujur tubuhku. Menyisahkan gatal dan perasaan tak nyaman. Aku mulai menggaruk sana-sini sambil komat-kamit tak jelas. Diam-diam Lanala memperhatikanku.

“Ada apa, Bang?” tanya Lanala seketika.

“Sudah tahu kok pura-pura tanya lagi? Sudah jelas panas begini, masih mau level 1 terus,” jawabku ketus.

“Tapi kan…”

“Sudahlah, jangan banyak omong,” kataku lagi. Tanpa berkata sepatah kata pun, segera kutekan tombol 3 pada bagian bawah kipas angin. Sesaat kurasakan kesegaran. Namun, saat itu pun Lanala langsung menekan tombol 1.

Melihat itu, meledaklah amarahku. Segenap cacian dan sumpah serapah ke luar begitu saja. Kuambil kipas angin itu lalu membantingkannya dengan keras ke lantai. Persis saat itu, pecahlah kipas angin itu.

Lanala terus menatapku. Air matanya pun mulai menggenang. Tak ada sepatah kata pun yang ke luar dari mulutnya.

Melihat itu, emosiku bukannya reda, malah makin menjadi-jadi. Hingga akhirnya, tanpa pikir panjang, kubuang semua pakaiannya ke luar rumah dan kuusir dia dari rumah. Warga sekitar hanya diam. Terpaku. Ikut campur rasa-rasanya tidak perlu. Semua maklum hal tersebut sebagai urusan keluarga masing-masing.

Beberapa saat setalah itu, Lanala pun pergi dengan membawa serta anakku, Nesya. Entah ke mana mereka pergi, aku tak peduli.

Kurebahkan tubuhku ke lantai. Panas mulai menyerangku. Keringat pun mulai bercucuran lagi. Persis saat itu, kudapati warga sekitar mulai berhamburan ke luar rumah. Mereka lari terpontang-panting sambil membawa barang-barang milik pribadi.

Belum sempat kutanyakan hal tersebut, dua lelaki berseragam lengkap sudah di depan pintu rumah. Mereka menatapku dalam-dalam.

“Silakan ke luar dari rumah, Pak. Rumah ini dan rumah-rumah lainnya di bantaran sungai ini akan digusur,” kata salah seorang itu.

Mendengar itu, sedihlah hatiku. Teringatlah olehku nasib istri dan anakku. Entah ke mana mereka pergi. Air mata pun membasahi kedua pipiku.

Dalam kesedihan yang mendalam itu, aku mengutuk keras kipas angin sebagai pemicu segala hal buruk pada keluargaku. Meski begitu kenyataan lainnya, aku mesti ke mana?

    Arnus Setu

    Asal Detusoko, Ende, NTT | Alumnus SMA Seminari Mataloko | Belajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
    Arnus Setu

    Latest posts by Arnus Setu (see all)