Kiprah Kaum Muda dalam Kancah Perpolitikan

Kiprah Kaum Muda dalam Kancah Perpolitikan
Ilustrasi: cgen.goesmart.com

Usia kemerdekaan bangsa ini telah memasuki tahun ke-72. Idealnya, dalam usia kemerdekaan yang hampir tiga per empat abad itu, bangsa ini telah berpredikat sebagai bangsa yang maju (developed country). Serentak pula, cita-cita bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera telah menjadi kenyataan.

Namun, realitas berkata lain. Bangsa kita masih dilabeli predikat negara berkembang. Cita-cita bangsa ini juga sepertinya masih jauh panggang dari api. Lantas, pertanyaan muncul: apa yang salah dengan bangsa ini?

Seyogianya bangsa ini sudah menggenggam predikat negara maju. Cita-cita bangsa juga sudah terwujud ketika disandingkan dengan kekayaan bangsa ini, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Pertanyaan lanjutan, apakah bangsa kita ini telah salah dikelola? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh kaum muda yang selalu dilabeli generasi penerus bangsa.

Saatnya kaum muda menunjukkan aksi dan andil yang nyata untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa. Kaum muda dewasa ini harus malu ketika bangsa ini mengekspor manusia dan mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Saatnya kaum muda perlu menoleh ke belakang dan tidak perlu malu untuk belajar kembali sejarah perjuangan bangsa ini menuju alam kemerdekaan. Fakta historis menunjukkan bahwa kaum muda berandil besar dalam mewujudkan kemerdekaan. Dengan semangat patriotismenya, mereka ikut berpartisipasi aktif dalam perjuangan.

Belajar dari fakta sejarah tersebut, kaum muda perlu menumbuhkan kembali semangat patriotisme itu. Kaum muda perlu menunjukkan kontribusi nyata demi membawa bangsa ini mewujudkan cita-citanya.

Andil kaum muda sangat dibutuhkan saat ini. Tidak cukup dengan berdemonstrasi, perlu langkah konkret.

Apa yang pernah dikatakan John Kennedy masih relevan bagi kaum muda dewasa ini. “Tanyakan apa yang kamu berikan untuk bangsamu” harus diinternalisasi dalam diri kaum muda. Dengan begitu, kaum muda terdorong untuk berbuat sesuatu yang lebih bagi bangsa ini.

Berani menjadi Politikus

Salah satu langkah konkrit yang perlu diambil kaum muda sekarang adalah berani memanfaatkan mimbar politik. Kaum muda harus berpartisipasi aktif dalam percaturan politik tanah air.

Pada masa prakemerdekaan, kaum muda sangat aktif berorganisasi. Mereka melihat organisasi sebagai sarana perjuangan sekaligus alat pemersatu dalam menghadapi penjajah. Itu berarti kaum muda melalui organisasi menimba banyak pengalaman. Rasa solidaritas, persatuan kesatuan, dan kesadaran nasionalisme tertanam dalam diri kaum muda kala itu ketika mereka aktif berorganisasi.

Kaum muda pada masa prakemerdekaan begitu konsisten, committed, dan kompak menjalankan cita-cita kebangsaan. Pengalaman dalam berorganisasi membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang kritis, terbuka dan partisipatif. Dengan demikian, pengalaman historis tersebut hendaknya menjadi pembelajaran kaum muda dewasa ini.

Bukan saatnya kaum muda menjadi penonton dan pengkritik terhadap setiap kebijakan yang diambil untuk kemaslahatan. Kaum muda harus menjadi bagian dari pengambil kebijakan itu. Dengan kata lain, kaum muda harus berani mengenakan predikat politikus dan menjadi bagian dari partai politik tertentu, terutama parpol yang pro kaum muda untuk berpolitik praktis.

Dengan idealismenya, pemikiran kaum muda yang futuris sangat dibutuhkan di tengah gelombang politik praktis pragmatis yang ada sekarang ini. Idealisme didukung patriotisme dalam dirinya tentu menjadikan kaum muda hadir sebagai penawar kedahagaan masyarakat akan politik yang bersih.

Partisipasi aktif kaum muda dalam panggung politik diharapkan menjadi pendobrak politik pragmatis dan transaksional yang telah melekat pada perpolitikan tanah air selama ini. Bukan rahasia lagi bahwa para pengambil kebijakan (eksekutif dan legislatif) mudah terjerembab dalam kubangan korupsi.

Agen Perubahan

Dengan terjun dalam politik praktis, tentu kehadiran kaum muda membawa angin segar dalam lingkungan pengambil keputusan. Semakin banyak kaum muda duduk di lembaga legislatif, tentu mengurangi wajah lama yang identik dengan budaya koruptif.

Kehadiran politikus muda diyakini dapat memutus mata rantai korupsi yang selama ini menggerogoti lembaga yang terhormat itu. Wajah lama yang identik dengan korupsi diganti dengan wajah baru yang penuh dengan idealisme.

Founding father kita, Bung Karno, pernah mengakui ada in potentia dalam diri kaum muda, yaitu jiwa pembaharu. Namun, hingga kini, jiwa pembaharu itu belum dieksplorasi secara masif oleh kaum muda.

Seyogianya, kaum muda mulai menyadari ada in potentia-nya di tengah kegamangan situasi politik tanah air. Meskipun pada sisi lain, kaum muda juga harus tetap mempertahankan ada in actu-nya sebagai pengkritik dan penyeimbang yang telah diperankan selama ini.

Manakala kaum muda mulai mengeksplorasi ada in potentia-nya, serentak mereka menyadari bahwa mereka adalah agen perubahan yang mampu mengantar bangsa ini menuju gerbang cita-citanya. Kaum muda harus berani menceburkan diri dalam panggung politik tanah air demi mengaktualisasikan ada in potentia-nya itu.

Semangat pembaharuan harus dimanifestasikan dalam politik tanah air. Hal itu terutama ditujukan demi perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Semangat tersebut pula dibutuhkan dalam mengawal politik tanah air tetap on the track dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa.

***

Di tengah proses demokratisasi yang dijalankan bangsa ini, peran kaum muda sangat dibutuhkan. Merekalah yang mengambil peran sebagai pengawal proses tersebut. Bahkan lebih dari itu, kaum muda harus menjadi pelopor bagi setiap proses transformasi negara bangsa ini.

Sebagai pelopor transformasi, tentu suatu keharusan bagi kaum muda untuk menempa diri dalam berbagai jenis organisasi (termasuk partai politik), memperjuangkan kepentingan rakyat, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin-pemimpin pada masa mendatang. Gagasan segar dan kepemimpinan baru akan membantu bangsa ini lebih cepat mewujudkan cita-citanya.

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan yang mengakui pentingnya keterlibatan kaum muda dalam perjalanan sebuah bangsa mewujudkan cita-citanya.

Tidak ada bangsa yang dilahirkan demokratis. Pemuda harus menjadi bagian yang melahirkannya. Suatu masyarakat yang melepaskan peran pemuda dari kehidupannya sendiri, maka masyarakat itu sedang menuju kepada kematian.

*Vincent Kartono adalah Freelance Writer. Pernah belajar hukum di Universitas Bung Karno, Jakarta.

___________________

Artikel Terkait:
    Kontributor