Kisah dari Terhukum Mati di Detik-Detik Akhir Dibatalkan Presiden

Kisah dari Terhukum Mati di Detik-Detik Akhir Dibatalkan Presiden
©Alamy

Iba rasanya saat membaca berita mengenai peristiwa yang mendebarkan. Berita itu muncul kembali, yang mengisahkan tentang ibu dua anak dari proses eksekusi mati ke pembatalan.

Kisah nyata itu yang menggambarkan masa depan yang suram, kadang kala secara sepintas saja sulit dicerna oleh nalar.

Anggapan sebagian pihak melihat kisah eksekusi mati hanyalah konsekuensi dari perbuatannya.

Sebagian yang lain, kasus memilukan itu muncul karena ada yang melatarinya. Permasalahan rumit yang melibatkan hukum justru tidak bisa dijelaskan secara linear. Ahli memandang kasus terpidana mati bukanlah struktur tunggal alias kisah itu tidak berdiri sendiri.

Berita viral itu sebagai pengecualian. Ibu dua anak yang miskin terjerat hukum karena kasus narkoba. Bagaimana tidak, ibu yang bernama Mary Jane Veloso begitu lugu terperangkap dalam sindikat narkoba punya hidup getir. Dia tertimpa derita, lalu jalan yang dia lalui di mata hukum sebagai kejahatan luar biasa.

Mary mengecap pendidikan hanya sampai di jenjang SMP. Dunia keras dia hadapi, tetapi bukan maksud hati menjeremuskan diri ke lembah narkoba.

Di tengah tuntutan hidup yang bergelimang nestapa, setelah kawin dini, Mary mengakhiri bahtera rumah tangganya melalui jalan bercerai dengan suaminya. Lika-liku rumah tangga Mary amblas di tengah jalan yang terpicu oleh kekerasan dari suaminya. Tidak ada sama sekali tebersit dalam hatinya untuk menggumuli narkoba.

Rumus hidupnya sangat sederhana. Bagaimana Mary menghidupi kedua anaknya, Mark Darren dan Mark Daniel. Kedua anaknya tidak lebih kekayaan tidak ternilai.

Baca juga:

Hidup betul-betul adalah perjuangan, yang melampaui syair lagu. Nyata dan nyata di samping imajiner sisi kehidupan Mary. Sisi terang dan gelap menjadi terang kembali silih berganti itulah yang mewarnai perjalanan hidup Mary.

Kisah nyata yang pilu ini terjadi di tahun 2010. Berawal dari kisah melodrama yang amat menegangkan menyisakan banyak pelajaran darinya.

Biasanya, bandara udara internasional dengan rute Kuala Lumpur-Yogyakarta tidak sepi dari jadwal penerbangan. Setibanya di Bandara, Mary turun dari pesawat, Yogyakarta.

Mary tidak luput dari pemeriksaan ketat oleh petugas bandara. Malang nasibnya, Mary terbukti membawa narkoba jenis heroin seberat 2,6 kilogram. Dia tertangkap basah. Bandara ramai, Mary lalai.

Padahal niat di hulu mencari nafkah hidup menjadi tujuan Mary ke luar negeri. Mary berlatar keluarga miskin harus menanggung pahitnya kehidupan.

Singkat kata, Mary warga Filipina diproses hukum atas bukti narkoba tersebut. Mary tervonis pidana mati sehabis menjalani proses persidangan yang cukup panjang. Dalam berita itu, di selah-selah proses hukum yang dia jalani, dia mengalami peristiwa langka, luar biasa.

Ajaibnya, di atas langit tidak tampak burung bangkai beterbangan, berarti penanda tidak ada mayat tergeletak di atas bumi. Hening, tidak terdengar kabar bahwa Mary akan mengucapkan selamat tinggal di ruang eksekusi.

2015, tahun di mana Nusakambangan menjadi saksi atas lolosnya Mary dari maut saat giliran maju di depan para eksekutor, regu tembak.

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi