Kisah Kuinginkan Hanyalah Akhir yang Bahagia

Kisah Kuinginkan Hanyalah Akhir yang Bahagia
©Notting Hill

Alur kisah ini hampir mirip dengan apa yang barusan aku tonton. Ya, sebagai pembuka hari kasih sayang kayak mereka bilang.

Tapi bukan itu poinku (Valentine). Film Notting Hill sedikit mengekstrak runitasku dua bulan terakhir ini. Ya, sejak aku berkontak lagi dengannya. Ritual baru atau bisa dibilang tabu aku kerjakan. Bangun agak subuh melaksanakan dua rakaat, berzikir. Paginya, nyetor selawat sebisaku, sampai tak bisa mendengar suara azan di masjid serayanya langsung mengambil wudu lalu bersujud kemudian.

Jujur, 1, 2, 3 minggu itu kukerjakan tidak lain untuk mendapat perhatianmu saja. Sekalipun tak kau melihatku secara langsung, melainkan hanya di media sosial, tentunya yang sengaja aku up. Bajingan benar. Akunya berpura-pura di hadapan langsung sang pencipta.

Makin ke sini, makin kumulai melek ada yang tidak beres. Itu tidak boleh lagi kutoleransi. Entah apa yang merasukiku, monomor-duakan apa yang seharusnya dinomor-satukan—kata pengkhotbah, ya salat!

Tadinya saya masih percaya menjadikan semua aktivitas bernilai ibadah. Sekalipun jalannya tidak tepat.

Pendosa sepertiku, misal, dua tahun ini hampir hari-hariku bertemu togel, kartu, sabung ayam, dan lainnya. Setelah menang taruhan dari kegiatan itu, menjadikannya ibadah sangatlah gampang. Celeng di masjid minimal 30 persen, menyantuni anak yatim, memberi makan kucing jalanan.

Setelah menjalankan ritual tadi, aku sudah tidak percaya lagi.

Ada 3 perempuan paling berpengaruh di hidupku dalam melihat dunia: my golden girl, si bekas luka di paha, dan terakhir si jomblo sampai halal. Saya tidak mengulik perempuan yang 1 dan 2, melainkan yang terakhir ini. Sebab beliau yang membuatku dekat dengan Allah.

Baca juga:

Saya pernah bertanya, “Lelaki seperti apa yang bisa menjadikanmu istri?”

“Kalau Allah bilang saya KLIK sama laki-laki, ya saya KLIK, dan saya perjuangkan di orang tua. Kalau memang tidak setuju, kalau saya tidak KLIK, biar orang tua suruh, saya tetap tidak bisa,” jawabmu.

Lalu aku kembali bertanya di kemudian harinya di sela percakapan chat, “Emangnya kamu udah siap dihalalin?”

Kamu bilang, “Kalau udah klik sama orang, ya dihalalin. Kan Allah yang kasih siap. Kalau gak dihalalin, ya single-lah.”

Kupikir (klik) itu pernyataan paling absurd seplanet ini.

Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Seisi bumi pasti mencaciku karena cinta kamu. Dari usaha yang kulakukan untuk menarik perhatian lawan jenis, ditambah pola hidupmu yang diselimuti ayat-ayat suci dan stereotip perempuan Bugis modern uang panai’ (mahar) yang mahal.

Angka ratusan bahkan miliaran tak menjadi tabu disebutkan untuk meminang gadisnya. Apalagi kalau sudah sarjana, PNS, atau dokter. Gimana tidak banyak pasangan yang silariang (kawin lari) jika tradisi ini masih menjadi saing-saingan panai kaum bangsawan, juga bagi yang ngaku-ngaku itu?

Dua hari ini, satu hal yang perlu aku seriusi, meninggalkan kebiasan buruk yang kukerjakan dan membiasakan diri dengan ritual-ritual tadi. Mengharapnya suka bahkan a wife sudah tidak lagi jadi penting buatku.

Terima kasih telah mendekatkanku dengan maha pemberi. Setelah dipublikasikannya tulisan ini, aku berharap seperti akhir dari film tadi: berakhir dengan bahagia, ya happy ending.