Kisah Panjang dalam Suratan Pendek

Kisah Panjang dalam Suratan Pendek
©Hipwee

Kisah Panjang dalam Suratan Pendek

Hari ini penyesalan akan keretakan yang diciptakan
adalah kejatuhan panjang pada usia yang belum siap rapuh
Bisik-bisik malam akan hari tadi siapa yang mendengarkan
Minta maaf hari ini kita menangis seperti anjing lumpuh

Aku lalai atau lelah karena hari ini tindakanku mengusirmu jauh-jauh dari diri ini. Minta maaf, tidak ada maksud untuk menyinggung yang telah berlalu, tidak dapat kusadari itu semua telah terjadi. Sungguh ini semua telah terjadi, apalagi yang harus aku perbuat; lalu, siapa lagi yang nantinya berdiri di samping kaki?

Sungguh tak ada lagi kata “babi” untuk kita. Minta maaf; harus begini cara berakhirnya.

Telanjur melukai dan saling melukai tidak begitu indah halnya memberi kecupan dan mengenang ciuman pertama. Kamu terlalu egois dengan ketidakpedulianmu atas kehadiran. Kamu bilang rindu. Tapi itu sebatas ucapan yang menghalangimu memenuhi kata rindu.

Segala usaha kucoba memenangkan dan sampai pada garis terakhir, tidak ada yang kamu lihat sebagai perjuangan. Tidak ada yang baik untuk dilakukan lagi selain perpisahan yang disepakati.

Melihat ini semua untuk membenahi diri yang kamu katakan, apakah aku siap untuk ikhlas dengan kepergian? Aku tidak akan siap untuk ini semua, tentu ini berat dan ini bukan lagi aku yang seperti biasanya.

Dengan pesan yang kamu kirim sebagai kalimat penutup, tidak ada lagi ‘’cinta’’ berikutnya; tidak ada lagi yang kamu sebut ‘’warna’’ selama ini ada pada yang lain. Sungguh, ucapan maaf ini tidak bisa lagi diterima. Ucapan manis kata sayang ini kamu membencinya.

Sehat selalu, selepas dari kata ‘’kita’’ yang terlepas menjadi ‘’aku’’ dan ‘’kamu’’. Seperti kasih sayang yang tak berkontrak, aku memaknai dirimu di hari ‘’rabu’’ dan melepas doa turut beserta disetiap bangun dan tidurmu.

Baca juga:

Hari ini aku menulis penuh dengan tangis yang tak henti. Minta maaf, semua ini harus kita akhiri. Tidak lagi mengantarmu sampai akhir studi. Semangat selalu dalam menyusun proposal untuk judul baru yang diterima oleh dosen.

Aku tak lagi di tengah-tengah ladang yang subur
Gulungan ombak membabi buta perasaan ini di luasan pantai
Bisik-bisik malam yang bercerita bukan lagi memuji tubuh yang termasyhur
Masih didapati nama pada awalan hingga akhir setiap buku yang tak bisa untuk dicoreti

Yovinianus Olin
Latest posts by Yovinianus Olin (see all)