Kisah Sang Kolektor Sertifikat

Kisah Sang Kolektor Sertifikat
©Sertiva

1)

Sertifikat. Satu kata ampuh. Layaknya bertuah. Akan tetapi, ini bukan sertifikat tanah atau rumah yang dapat kita agungkan kepada bank atau siapa pun sebagai jaminan atau borg pinjaman yang kita ajukan. Bukan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang mencerminkan kekayaan harta yang kita miliki, berupa sebidang tanah dan (bisa pula berikut bangunan rumah atau ruko dan sebangsanya).

Siapa pun yang membacanya atau mendengarnya akan keder dan berdecak kagum. Jika sertifikat ini memang mencerminkan prestasi yang mencakup kreativitas, produktivitas, dan kredibilitas, tentu saja layak kita rayakan dan acungkan jempol.

Ketika saya belum pensiun dari pendidik dan pengajar (guru) Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS), saya sering mendapat sertifikat dari kepesertaan saya sebagai peserta dan narasumber pelatihan pengembangan profesi guru, seperti pelatihan metode dan strategi pembelajaran, pelatihan evaluasi terintegrasi, pelatihan kurikulum berbasis kompetensi, seminar, dan lain-lain.

Saya pikir saya hebat. Namun, ternyata saya kalah hebat jika dibandingkan dengan teman seprofesi saya. Ia juga sering diundang sebagai peserta pelatihan di tingkat kota, provinsi, dan nasional. Ia juga aktif mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pemerintah dan swasta.

2)

Ia juga sering diundang sebagai narasumber dan pemateri dalam pelatihan dan seminar. Setelah selesai dari kegiatan tersebut, ia pulang ke rumah dengan gagah berani karena membawa angpao dan sertifikat. Wow! Sungguh menyenangkan tentu saja.

Teman saya ini benar-benar hebat! Saya menjulukinya sebagai Sang Kolektor Sertifikat. Ia tidak marah ketika saya beri predikat demikian. Hanya tersenyum menanggapi komentar saya itu. Banyaknya sertifikat yang dimiliki dapat memperlancar dan memuluskan pengurusan kenaikan pangkat dan jabatan di instansi tempat ia bekerja.

Sementara itu, guru yang telah mengikuti sertifikasi dan dinyatakan lulus oleh lembaga yang menyertifikasinya akan mendapat sertifikat pendidik. Setelah itu, guru pemilik sertifikat tersebut akan memperoleh Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) sebesar satu kali gaji pokok pada setiap bulannya. Anggaran untuk ini telah terakomodasi oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari pemerintah pusat.

Saya pernah mendapat Piagam Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia Satya Lencana Karya Satya XXX Tahun yang ditandatangani Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu, berikut dengan medalinya. Tentu saja piagam ini sejenis sertifikat juga. Saya memperoleh piagam ini karena kesetiaan saya pada profesi pendidik (guru) hingga melampaui masa 30 tahun. Ini lambang dedikasi dan prestasi.

Demikian pula sebaliknya. Sebagai konsumen terakhir kita menghendaki barang-barang yang kita pakai, gunakan, dan konsumsi merupakan barang-barang yang telah bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Kementerian Agama. Kambing, sapi, atau kerbau yang akan kita sembelih pada Hari Raya Idul Adha, juga memiliki sertifikat sehat yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian.

3)

Sebagai Ketua Panitia Lomba Parayaan 17 Agustus di tingkat Rukun Tetangga (RT), saya pernah menandatangani berlembar-lembar piagam penghargaan dan sertifikat. Piagam penghargaan dari berbagai jenis lomba bagi anak-anak balita hingga anak-anak berusia kelas 6 sekolah dasar, saya tanda tangani. Ada lomba melukis, lomba membaca puisi, dan lomba menulis cerita atau mengarang cerita. Ada juga lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba balap karung, lomba tarik tambang, dan lomba makan kerupuk.

Ketika pandemi Covid-19 atau wabah corona masih menghantui siapa pun dan di mana pun, kepemilikan sertifikat benar-benar harus bisa ditunjukkan. Saya sudah mengikuti vaksinasi anti-corona di puskesmas dan memiliki sertifikat yang valid. Dengan menunjukkan sertifikat ini perjalanan saya ke kampung halaman antar-provinsi bisa berlangsung lancar dan tanpa hambatan yang berarti.

Saya tentu saja sangat senang mendapat sertifikat sebagai penulis (puisi, cerita pendek, dan artikel). Sertifikat ini mudah-mudahan dapat memicu dan memacu prestasi di bidang kepenulisan. Sudah banyak sertifikat yang saya peroleh. Akan tetapi, ya itu tadi, tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak mendatangkan profit berupa uang yang dapat digunakan untuk menunjang keperluan hidup sehar-hari.

Saya pikir sertifikat ini berhubungan dengan ilmu. Juga kebanggaan yang tidak bisa dibeli dari siapa pun dan berapa pun. Prestasi dan prestise. Marilah kita muliakan hidup ini dengan ilmu hingga kita memperoleh derajat yang layak kita banggakan.

Kita ucapkan selamat kepada sang kolektor sertifikat. Semoga dengan pemberian sertifikat ini kreativitas, produktivitas, dan kredibilitasnya dalam gelanggang tulis-menulis akan semakin meningkat. Apalagi pada era sekarang ketika sertifikasi di bidang pekerjaan atau profesi apa pun menjadi kebutuhan penting dan utama  yang mencerminkan kompetensi yang dimiliki seseorang. Bravo!

Syukur Budiardjo
Latest posts by Syukur Budiardjo (see all)