Kisah Tragis dan Ratusan CPNS Mundur, Tergodakah “Kecabulan Ekonomi?”

Ada juga kemungkinan besar terjadi kisah lain yang memilukan di luar sana, seperti kisah PNS yang mengundurkan diri karena berpuluh tahun mengabdi tetapi kondisi hidupnya pas-pasan dengan beban tugas dan tanggung jawab yang besar. Masih terjadi ketidakseimbangan antara penghasilan dan tuntutan hidup, beban pekerjaan dan beban hidup, yang tidak selamanya berjalan mulus dalam kehidupan PNS. Di situlah ujian dan tantangannya, selalu ada jalan keluarnya di balik permasalahan.

Setragis apa pun hidup ini, bagi sosok PNS dijalani sesuai apa yang telah digariskan dalam kehidupan. Tetapi, semuanya diharapkan untuk menjaga keutuhan hidup dan dibebaskan dari peristiwa tragis yang tidak diketahui kapan dan dari mana kemunculannya.

Belajar dari peristiwa tragis, selayaknya pengambil kebijakan bisa menangkap keluhan dan aspirasi yang datang dari aparatur sipil hingga di golongan terendah. Di sinilah kita ingin melihat tingkat kepekaan negara atas aparat penyelenggaranya.

***

“Kesetiaan pada sang nyata (uang-gaji), suatu objek godaan yang terukur dan bersifat kuantitatif.” Sang nyata alias fulus-gaji inilah yang memicu dan menggoda dengan “kecabulan ekonomi” tanpa telanjang, tanpa adegan ‘panas’, dan umbar tubuh yang memesona (Baudrillardian).

Pengunduran diri dari calon penyelenggara negara berarti tidak ada kisah atau tulisan. Objek gaji kecil yang tidak memikat mereka adalah tanda-tanda kosong, yang memperlihatkan bentuk kepiluhan dan memarodikan pengabdian pada bangsa dan negara.

Jeritan ekonomis menandai ketampakan dan kelenyapan material. Tindakan menjauh jika gaji kecil, sebaliknya menantang dan membujuk rayu jika jumlahnya besar.

Kebutuhan yang cukup banyak dari CPNS terbawa arus dalam dunia tanda PNS, seperti ketidakhadiran rumah mewah, sepatu, tas, arloji atau pakaian bermerek papan atas. Tidak ada keranjang buah-buahan dan lauk-pauk yang melimpah di dapur setiap hari. Persis mendekati akhir bulan, hasrat atas objek kembali buyar.

Atau mungkin saja terhadap hal-hal yang berkilau secara lahiriah yang ditemukan hanyalah bualan dalam hidup nyaman. Keinginan dalam suasana hidup nyaman dan tenang adalah tingkat pencapaian yang disediakan oleh dompet atau kantong tebal.

Baca juga:

Mulanya godaan mata. Wujud paling mendesak dan murni keterusterangan pilihan atas fulus atau duit yang melintasi kata-kata profesionalitas di belakang meja.

Ia terlihat sendiri menyatu dengan lingkaran fantasi untuk hidup lebih nyata. Kenyataannya, ibarat baru memasuki halaman rumah pemerintahan dengan aparatur sipil yang menggambarkan sebuah jalinan tidak diketahui. Daya pikat tunggal dari sebuah sang nyata yang tidak mampu disalurkan akibat meknisme pengunduran diri sebagai calon aparatur sipil, yang bergeming dan hening seketika.

Pemerintah kadang kala melakukan moratorium atau penundaan rekruitmen calon pegawai negeri sipil/calon aparatur sipil negara (CPNS/CASN) lantaran begitu banyaknya minat untuk mengidam-idamkannya, di samping juga jumlah yang akan pensiun masih kurang.

Melalui gaji atau tunjangannya, mereka bisa memakai seragam yang rapih dan cukup necis, bukan baju butut.

Penampilan sosok CPNS dari 105 yang lolos seleksi 2021 tidak jauh beda dengan proses rekruitmen sebelumnya. Wajahnya berseri-seri, bahagia bercampur haru tatkala keluar pengumuman kelulusannya. (tempo, 30/05/2022)

Sekilas, sistem penggajian itu menarik. Semestinya juga, CPNS perlu memikirkan secara matang dan jauh-jauh hari sudah tuntas jawabannya sebelum terlibat terlalu jauh dalam proses rekruitmen.

Karena objek gaji yang kecil tidak menggoda atau tidak memikat melalui mata dan selera, maka rahasia penampakan di balik pesona yang menghilang dalam kekosongan makna yang diukur secara material.  Sebuah sistem penggajian sejurus sistem kepegawaian tidak berdaya di hadapan selera dan hasrat paling perkasa untuk kesejahteraan aparatur sipil.

Lagi pula, dalam upaya meminati dunia kepegawaian itu, yang pada era guncangan seperti sekarang menjadi CPNS masih dianggap sebagai tuntutan hidup. Kekuatan godaan untuk tanda kesejahteraan hidup bertumpu pada gaji dengan variasi berdasarkan golongan. Artinya, terhadap tuntutan hidup dan objek yang menggoda bukan membuat ‘mata duitan’, melainkan wujud yang paling mendesak dan murni dari suara batin.

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi