Kisah Tragis dan Ratusan CPNS Mundur, Tergodakah “Kecabulan Ekonomi?”

Menjadi abdi masyarakat tidak berarti abdi uang-gaji. Kapan mereka menjelma sebagai abdi uang-gaji, maka mereka terjatuh dalam kekosongan. Karena, jika bukan laksana fatamorgana, mereka tidak merasa puas dengan keadaan yang dihadapi.

Menantang begitu mirip dengan godaan. Sambil menggerutu, di kalangan aparatur sipil sering muncul ungkapan sebagai logika atau prinsip hidup, yaitu logika pengabdian.

Orang tidak yakin lagi untuk menantikan keadilan bagi aparatur sipil golongan rendahan yang memiliki keterampilan di bawah rata-rata atau akibat kerja berbasis kinerja. Yang dituntut berapa jumlah keluaran dan hasil kegiatan, yang dijadikan tolok ukur berdampak pada tunjangan kinerja dan tunjangan lain.

Kebutuhan setiap bulan terhanyut dalam arus kesenangan melalui pengeluaran keseharian. Sementara esensi pegawai negeri bagaimana menunaikan tugas dan fungsinya demi keutuhan perwujudannya sebagai pelayan masyarakat.

Tidak penting apakah itu ritual otomatis (gajian per bulan, tunjangan) atau bukan. Yang ada hanyalah proses penampilan kerja profesional yang nyata. Hidup sebagai tujuan pragmatis bisa dikatakan telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak.

Hak untuk hidup layak sejalan dengan makan untuk hidup menentang hidup untuk makan. Atas perhatian kesejahteraan merupakan tanda kurva kehidupan dalam garis naik-turun, yang semuanya bisa diterima dan ditolak menurut pilihan ekonomi hasrat.

Karena itu, hak untuk hidup layak terletak di tanda kesejahteraan, ruang berkembang seluruh perwujudannya sebagai manusia. Pemenuhan hak untuk hidup sejahtera bukanlah jenis hasrat yang tidak terkontrol; ia bukanlah sesuatu yang bisa dijebak oleh karier, dikejar oleh fantasi dan mimpi.

Ratusan CPNS mundur itu menandakan ada sesuatu yang hilang, yang tidak bisa dijelaskan secara regulatif dan etis. Ada ancaman utopis yang dibayangkan dalam proses lanjut sebelum hari pengunduran diri sebagai calon pegawai negeri, yang tertuju pada gaji.

Baca juga:

Mungkin saja, meskipun dengan cara dan penilaian kinerja yang berbeda diikuti dengan beban kerja dan tanggung jawab pimpinan lebih besar dibandingkan bawahan. Aparatur sipil dibekali sepenuhnya dengan suatu “kepemerintahan-intelektual,” yang ditandai dengan tugas dan fungsi yang berbeda sesuai disiplin ilmu.

Akibat dari pengambilan gambar melalui daftar gaji per golongan seperti gambar anatomis yang diperbesar: zooming, maka wujud nyatanya menghilang dalam “kecabulan baru,” yang penampilan instan tergerus oleh ketransparan tuntutan hidup yang layak.

Demi hak untuk hidup sejahtera, bentuk perjuangan tidak ternodai oleh kecabulan ekonomi yang melampaui disiplin ilmu dan keterampilan teknis. Sebab objek direnggut dan dibakar oleh kecabulan. Hasrat untuk kesejahteraan calon pegawai negeri termasuk berstatus pegawai negeri bukanlah lelucon konyol dan naif.

Ermansyah R. Hindi