Kita Bernyanyi untuk Sahabat

Kita Bernyanyi untuk Sahabat
©Dok. Pribadi

Rasanya aku ingin bernyanyi lagunya Audy dan Nindy di era awal 2000an, aku bernyanyi untuk sahabat.

Aku menyambut kedatangannya dengan sikap biasa saja. Iya, biasa saja. Apalagi aku pribadi memang agak anti dengan perempuan yang bercadar. Sebut saja ia Danar. Aku lebih suka memanggilnya dengan nama itu. Ia datang ke rumah kakek karena mimpi bertemu dengan beliau.

Kami memang terbiasa menerima berbagai macam “model orang”. Baik dari segi usia, jenis kelamin, profesi, agama, dan lain sebagainya. Termasuk aliran-aliran yang ada di dalam Islam karena intinya mereka datang untuk berziarah mencari kakek, seseorang yang dianggap sebagai juru selamat, wali di Lapeo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Imam Lapeo.

Aku tahu ia akan datang setelah aku dihubungi oleh Masdar via chat di WhatsApp (WA), seorang mahasiswa yang masih kuliah di STAIN Majene yang berteman dengan Danar di Facebook (FB). Dan Mila, seorang pegiat literasi di provinsi ini juga menghubungiku yang saat itu lagi bersama Masdar. Mereka penasaran dengan Danar yang seorang penulis buku yang berjudul “Cara Terbaik Memeluk Belati” tiba-tiba datang ke Mandar. Danar ingin menginap di Mandar selama tiga (3) hari.

Sore itu, aku dibuat takjub dengan perkataan Danar. Bukan karena ia mengaku baru pertama kalinya menginjak Mandar karena ingin berziarah ke Lapeo, namun karena “melihat” Imam Lapeo hadir di tengah-tengah kami. Walaupun banyak yang mengaku bisa melihat kakek saat ini kemudian hal itu diceritakan padaku, tapi pengakuan Danar seorang perempuan yang bercadar membuatku bingung.

Ternyata, kata-kata mutiara Barat yang mengatakan “Don’t judge a book by it’s cover” memang sangat berlaku. Penampilan Danar berbeda dengan hati dan pikirannya yang sedang mencari seorang guru (mursyid).

Hari-Hari Bersama Danar

Malam pertama Danar dilewatinya dengan malam bina iman dan takwa (mabit) di masjid Lapeo. Ia meminta tidak usah dipersiapkan makanan. Ia hanya ingin di masjid beribadah; salat, ngaji, zikir, dan ziarah makam.

Pagi hari, ia baru pulang ke rumah kakek. Kami sempat sarapan bersama, berbincang sebentar sebelum aku menemui tamu-tamu, peziarah Imam Lapeo, dan ia pun ke masjid lagi. Namun, aku berjanji akan membawanya besok ke pergi berziarah di makam-makam penting di Mandar ini karena ternyata Danar suka sekali pergi berziarah dan membaca selawat.

Keesokan harinya, aku, adikku Ammoz, Danar, dan Zain yang menyopiri, kami menggunakan mobil milik sepupuku pergi berziarah. Kami menyiarahi banyak tempat. Pertama, ke makam Todilaling, raja pertama Mandar yang terletak di Napo, Tinambung. Kami melewati seribu tangga, suatu istilah ketika melewati beberapa jumlah anak tangga menuju ke atas makam di atas bukit. Jumlah hitungan anak tangga ini biasanya tidak sama seperti hitungan orang-orang.

Saat itu sedang ada kerja bakti membersihkan di sepanjang jalanan menuju areal makam. Dari bawah pintu gerbang saja, gapura selamat datangnya diperbaiki hingga di atas makam karena kabarnya orang nomor satu di provinsi ini mau berziarah. Di makam ada salah satu cabang pohon beringin yang jatuh akibat angin kencang beberapa minggu yang lalu. Di sana banyak pemuda-pemudi yang gotong-royong.

Dari sini kami menuju ke Salabose, Majene. Sepanjang perjalanan, aku yang duduk di belakang bersama Danar banyak berbincang berbagai hal. Aku tidak sadar, ketika sudah tiba di Majene. Di sana kami berziarah di makam tosalama Syeh Abdul Mannan. Danar sangat antusias, apalagi ketika kukatakan padanya, beliau merupakan salah satu penyebar Islam di Mandar yang katanya sezaman dengan Syeh Yusuf.

Sebelumnya, aku sudah menghubungi Masdar lewat chat WA, kukatakan padanya kami akan berziarah di Salabose, siapa tahu ia ingin bertemu. Aku juga sudah menge-chat Wais, seorang teman yang sering kuhubungi jika ingin ke makam. Ia sering mengambilkan kunci makam di pak Imam.

Di Salabose, ketika kami menunggu kunci dari Wais, Masdar datang bersama seorang teman. Saat kami semua berkenalan, ternyata teman Masdar yang bernama Andi dari Jaringan Aktivis Filsafat Indonesia (JAKFI). Lalu ketika Wais datang, ternyata Danar dan Wais pernah bertemu sebelumnya ketika menjadi relawan gempa di Sulawesi Barat tahun ini.

Setelah berziarah, kami salat zuhur di masjid Syeh Abdul Mannan, dan berkunjung ke rumah ustaz Gaus menanyakan tentang profil Syeh Abdul Mannan. Danar bertanya tentang banyak hal, termasuk zikir apa yang diamalkan oleh sang Syeh.

Kemudian, kami menuju ke rumah Wais. Awalnya kami disuguhi Sambusa, sejenis Jalangkote namun beda bentuk. Ada juga Rangginang, ada es teh. Ketika semuanya hampir habis, Wais mengajak kami makan siang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Memang karena waktunya untuk makan siang, kami pun makan dengan lahap. Menu makanannya sangat menggugah selera, nasi putih, ikan masak yang di Mandar disebut “bau piapi”, tempe goreng yang berisi daun bawang menurutku, dan ikan bakar yang pakai sambel. Menu terakhir ini sangat enak. Bumbu sambelnya sangat pas terasa ada kemirinya, tidak pedas, mungkin yang dipakai adalah lombok besar (bikin nagih…) di sini, kami berpisah dengan Wais.

Mila si pegiat literasi menghubungiku, ia ingin segera mengantar kami berziarah di pulau to salama. Lagi pula, atas inisiatif Ammoz, ia ingin mengajak aku dan Danar menjadi pembicara di komunitas literasi binaannya. Aku bilang bahwa kami masih di Majene.

Ada dua rumah yang mengundang kami makan. Karena setelah dari rumah Wais, kami juga disuguhi makanan juga di rumah Jamilah, seseorang yang sudah seperti saudaraku. Terpaksa, ketupat sayur khas Majene dan nasi kuningnya kami bungkus. Namun, pisang ijonya kami makan dan jus alpukatnya kami seruput.

Setelah berpamitan dengan Jamilah, Masdar, dan Andi, kami pun bergegas ke Polewali, takut hujan karena menurutku jika hujan akan susah menyeberangnya.

Tetapi, aku meminta singgah di Lapeo mengambil buku yang kutulis, dan baju ganti. Aku khawatir jika seharian memakai baju yang sama akan kotor, bau, dan mungkin basah jika terkena hujan. Saking terburu-burunya, aku sampai lupa mengambil hapeku yang sedari tadi kubawa-bawa.

To Salama Syeh Bil Maaruf Abdurrahim Kamaluddin

Kami bertemu Mila di kampus IAI DDI Polman, bersama dua orang temannya yang juga ingin ikut berziarah ke makam to salama Syeh Bil Maaruf Abdurrahim Kamaluddin. Kami pun bersama-sama menuju ke makam To salama.

Untuk menuju pulau, kami memarkir kendaraan di daerah Bajoe kemudian menyeberang menggunakan speed boat yang hanya ditempuh kurang lebih lima (5) menit. Sebelum berziarah, kami singgah di masjid yang ada di pulau itu. Sedangkan Mila dan kawan-kawan menuju ke rumah bapak penjaga makam.

Dari makam to salama, kami menuju ke daerah Rea Timur. Di sana ada komunitas literasi Sumpulolo yang mengadakan diskusi yang bertajuk “Perempuan yang Bergerak lewat Aksara”. Malam itu setelah disuguhi makan malam, dan gorengan pisang dan ubi jalar, kami menyampaikan gagasan kami tentang pengalaman kami menulis.

Mila yang menjadi moderator malam itu membuka diskusi dengan sangat menarik. Danar lebih banyak sharing pengalamannya tentang berorganisasi, sedangkan aku lebih menekankan pada apa pun yang bisa ditulis. Teman-teman Sumpulolo menyimak dengan penuh perhatian.

Danar bersemangat sekali malam itu. Semua materi organisasinya keluar malam ini, suaranya full, mungkin pakai “bass” (he he). Pulangnya, kami diantar adik-adik Sumpulolo ke kota Polewali karena sebelumnya kami naik mobil sepupuku tapi akan dipakai melamar malam ini. Jadinya, Zain pulang duluan.

Awalnya, di sini kami ingin menyetop kendaraan apa pun yang lewat. Namun, karena tidak ada mobil yang singgah, akhirnya Mila meminta tolong pada temannya yang punya mobil untuk mengantar kami. Alhamdulillah kami tiba lagi di Lapeo.

Mengapa hari ini aku sangat bahagia? Entahlah, mungkin karena aku bisa berziarah ke makam-makam to salama, travelling, makan enak, diskusi bareng-bareng, dan berbagi apa pun di setiap kesempatan. Mungkin juga karena ada Danar yang kini kuanggap sebagai sahabat baruku. Rasanya aku ingin bernyanyi lagunya Audy dan Nindy di era awal 2000an, aku bernyanyi untuk sahabat.

    Zuhriah
    Latest posts by Zuhriah (see all)