Kita dan Perubahan

Kita dan Perubahan
©Stacey Barr

Nalar Warga – Banyak orang takut menghadapi perubahan, merasa nyaman pada kondisi stagnan, takut harus beradaptasi pada hal baru, takut kalau perubahan ternyata membuat keadaan tidak menjadi lebih baik, atau takut tidak bisa mengikuti tuntutan perubahan.

Jika tidak, berapa jauh lagi kita harus tertinggal dari negara lain?

Kita ingat bagaimana riuhnya penolakan pembangunan jalan tol ketika awal pemerintah mulai membangun besar-besaran. Berbagai analisis dari yang ahli sampai yang tidak ahli lalu-lalang meriuhkan jagat komunikasi dan informasi di keseharian kita. Hari ini, masihkah ada yang meriuhkan jalan tol?

Waktu datang pandemi pun begitu. Ramai pembicaraan dari yang ahli sampai yang tidak ahli. Hoaks dan analisis-analisis membingungkan kita, tidak tahu lagi yang benar dan yang salah. Semua menjadi ahli, bahkan pada bidang yang tidak dikuasai.

Kerja di rumah ribut, di luar rumah juga ribut. Masalah kesehatan dulu atau ekonomi dulu, atau dua-duanya juga riuh luar biasa. Bagaimana hari ini, masih riuhkah debatnya?

Hari ini dan beberapa minggu ke depan, keriuhan UU Cipta Kerja tentu akan mewarnai hari-hari kita. Mulai dari yang berkepentingan, yang terlibat langsung, yang tidak berkepentingan, bahkan tidak pernah baca sekalipun ikut meributkan. Dan sama-sama dengan keriuhan-keriuhan yang lalu, sebentar lagi juga mungkin akan teduh lagi.

Kenapa kita menjadi tidak sabar pada berjalannya sebuah proses?

Setiap perubahan memerlukan penyesuaian-penyesuaian, setiap penyesuaian memerlukan usaha, setiap usaha memerlukan ongkos. Ya, setiap perubahan memerlukan ongkos, dan ongkos terbesar dari perubahan adalah kemauan kita untuk berubah dan beradaptasi terhadap perubahan.

Jika tidak, berapa jauh lagi kita harus tertinggal dari negara lain?

*Rya Wiedy

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)