Kita dan Sepercik Harapan

Kita dan Sepercik Harapan
©IAINU Tuban

Kita dan Sepercik Harapan

Berjuta langkah menggenggam harapan telah kita tempuh, lamunan hidup terus membara mendambakan pucuk pengharapan untuk kemudian hari. Pada pemilik semesta kita uraikan mengapa langkah ini kita mulai, jejak langkah yang terlanjur tergores akankah mempunyai arti untuk kehidupan yang fana ini? Ah.. sudahlah biarlah pemilik semesta yang menjawab romantika kehidupan setiap makhluknya.

Tangis, tawa, riang gembira suatu makna dalam tiap episode kehidupan, harapan akan terus menyala membara dan membakar api semangat untuk terus merangkai langkah. Manusia ditakdirkan untuk menggores memoarnya sendiri, apapun alasannya melangkah merupakan perwujudan bahwa kemudian hari ia akan manggapai imajinasinya.

Di kala larutan malam hadir, hiruk pikuk pikiran selalu membersamai kita dalam tidur yang sesaat, dan kembali terbangun dengan sejuta mimpi yang tak terpecahkan. Sekali lagi atas nama tuhan kita kembali merangkai langkah baru dengan penuh ikhtiar yang membara.

Waktu selalu menuntut, agar di antara kita tidak terpedaya pada kedilemaan serta omong kosong yang kerap tergiang bising ditelinga, biarkan kepastian menemukan jalannya sendiri.

Kita terjebak

Apa yang terjadi dikala kita hampa.? Ah sudahlah hidup memang seperti itu, kadang senang kadang sedih, semua itu bagian dari rotasi waktu yang mempermainkan kita. Akankah kita terus lanjut merangkai langkah.? Ya tentu, dinamika hidup tidak seharusnya memukul mundur semangat juang.

Sepanjang hari, sepanjang waktu, kita berdendang lewat kata-kata yang tak pernah sirna dilekang oleh masa, kita menggaungkan puisi dalam kehampaan cinta yang ilusi. Hari terus berlanjut laju, siapa yang kita salahkan dikala kecerobohan dilingkungan yang cemooh?

Baca juga:

Oh tuhan, diantara kami terperangkap jatuh tak terangkat, mauhkan kita bangkit merangkai kata, merangkai langkah untuk kembali membungkam keadaan?

Memecahkan batu persoalan

Jangan biarkan masalah menghanyutkan sampai kedalam lautan samudra kenestapaan. Walau luka di sekujur tubuh terus menganga, teka teki hidup selalu menuntut untuk dipecahkan walau dalam bayangan. Ya, sekali lagi jangan biarkan persoalan hidup menghanyutkan sampai kedalam lautan samudra kenestapaan.

Oh tuhan, kau memiliki kekuatan untuk membawa kedamaian bagi jiwa kami, jiwa yang tersakiti, bagi jiwa yang terus meluka menganga tanpa akhir sampai mati. Mungkinkah algoritman darimu sebagai senjata pemutus mata rantai persoalan ini oh tuhan? Biarlahh

Tanpa sadar kita bergumam dalam lubuk hati yang tak sempat diucapkan oleh lisan, bahwa apakah skenario ini hadir darimu atau dari hamba-hambamu yang bajingan ataukah dari setan yang kau kutuk oh tuhan.? Biarlahh, kita yakin gelisah ini hanya sesaat.

Perasaan yang terpatri

Hari-hari terus berjalan berganti menjadi malam yang tak berkesudahan, kaki terus melangkah, tangan terus mengayun dengan mengharap tibanya penantian itu. Di kala malam tiba kita mengadu bahwa hari-hari begitu keras menghatam pikiran.

Perasaan terus mengakar berkepanjangan, dan di antara kita menjadi manusia munafik slalu mendiami perasaan yang kian membara tak terpadam, dan dengan melalui tulisan kita bebas memeras isi pikiran dan perasaan. Merangkai diksi, merajut asa, serta merangkai imajinasi yang terus tumbuh tanpa arah. Bila ruang dan waktu belum mengijinkan maka tidak ada jalan lain selain kita pendam keadaan ini, sampai menggumpal mendarahdaging hingga memercikan kesedihan yang tak berkesudahan.

Di akhir diksi ini duhai pemilik semesta, segenap untaian doa kulangitkan padamu dikala daku membentang cakrawala hidup, padamu segenggam harapan ini kusalurkan. Diantara kami percaya bahwa engkau yang dapat memutar balik keadaan dan mengubah jalannya takdir.

Baca juga:
David Hume
Latest posts by David Hume (see all)