Kita Harus Jatuh agar Tahu Caranya Berdiri

Kita Harus Jatuh agar Tahu Caranya Berdiri
©Lembaga INDEKS

Tak ada pesan terbaik dari “Jangan Kekang Dia yang Bisa Terbang” (2021) persembahan FNF Indonesia dan Lembaga INDEKS selain “kita harus jatuh agar tahu caranya berdiri”. Film pendek produksi XD Entertainment yang didukung Kemenkumham RI ini berusaha menyebarkan virus positif berupa optimisme menjalani hidup dan laku bangkit dari keterpurukan.

Di permulaan kisah, film yang disutradarai Pascal Meliala (sekaligus penulis naskah bersama Mervin Goklas Hamonangan) dan diproduseri Amalia Pradifera ini langsung menampilkan kondisi keterpurukan itu. Sang aktor utama, Elang (diperankan Putra Raphel Haqiqi), digambarkan sebagai sosok yang senantiasa dihantui pesan mendiang ayahnya (Erik Lasmono). Pesan itu terasa membuat diri Elang terus hidup dalam kekangan.

Penolakan sunyi dari seseorang yang mungkin jadi pujaan hati awalnya, Fathia (Sania Julia), turut memperparah kondisi keterpurukan Elang. Bersama pesan sang ayah, semua ini menjadi entitas utuh yang memaksa Elang harus hidup dalam keterasingan.

Namun, seterasing-terasingnya Elang, dia tetap menunjukkan usaha agar bisa bertahan hidup alih-alih pasrah. Selain berstatus mahasiswa IT, ia harus nyambi jadi guru Matematika dan tukang service komputer. Sampai-sampai salah satu rekannya, Bagas (Shahabi Sakri), berseloroh, “Ini jangan-jangan di rumah kau jualan cilok pula, ya?”

Elang memang lahir dalam keluarga yang jauh dari kata sejahtera. Yang penting tidak merugikan orang lain, bisa untuk makan sehari-hari, apa pun akan dilakukan. Satu-satunya hal yang tidak dia lakoni hanyalah hidup dan makan dari sumber penghasilan pengusaha. Dia membenci pengusaha. Dia tidak mau jadi pengusaha.

Bukan tanpa alasan. Pesan mendiang ayahnya, “Jangan pernah percaya sama pengusaha; mereka itu jahat.”, sangat kuat merasuki pikiran Elang. Hal ini terus membuatnya sinis dengan orang yang berprofesi demikian, salah satunya terhadap Kang Isep (Alam Jaelani Setiawan) yang dia temui saat naik gunung.

Tak tanggung-tanggung, Elang bahkan memilih keluar dari tempat kerjanya. Meski bekerja bersama kekasihnya, Ina (Tahlia Salima Motik), dia tetap merasa itu bukan tindakan yang benar.

“Sayang, kamu mau sampai kapan kayak gini terus? Kalau ternyata bapak kamu salah, gimana?” tanya Ina.

“Kalau kamu pikir ini semua masalah uang, gak. Kamu gak tahu apa yang bapakku alami, apa yang keluargaku alami. Kamu pikir uang bisa menyelesaikan masalah? Gak! Uang yang bikin kita kayak gini,” jawab Elang.

Cara pandang Elang mulai goyah ketika ibunya (Novita Liling) lagi-lagi mendapat tagihan utang. Sang ibu sudah kehabisan akal melunasi utang-utang peninggalan ayahnya yang ternyata menggunung.

“Andai saja bapakmu dulu lebih sibuk cari uang, kita gak bakal susah kayak sekarang, bukannya malah ninggalin utang. Gaji buruh gak seberapa, masih saja demo-demo, mana hasilnya? Tetap saja kampung kita tenggelam, kan?” kata ibunya.

Kegoyahan makin terasa saat sang kekasih menyodorkan selebaran berisi informasi “Business Plan Competition”.

“Aku tahu bapak kamu pengen kamu jauh-jauh dari pengusaha. Aku gak mau egois kalau kamu emang gak mau. Aku tahu juga kamu sudah trauma sama pengusaha, tapi skill kamu akan sangat berguna buat ini. Kalau kita menang, kamu gak harus melanjutkan ini, kok. Tapi kalau kita gak melangkah maju, kita gak akan ke mana-mana,” jelas Ina.

Elang masih membatu. Tak sepatah kata pun mampu dia balaskan.

“Sayang, ini proses, bukan akhir. Habis ini kamu masih bisa ngejar mimpi kamu, kok. Kalau kamu mau membantu orang banyak, kamu harus mulai dari membantu diri sendiri dulu,” picu Ina kembali.

“Tapi kalau aku gagal di tengah jalan, gimana?” tanya Elang penuh ketakutan.

“Aku bakal ada di situ sama kamu,” jawab sang kekasih mantap.

Kang Isep turut membuka cakrawala berpikir Elang tentang pengusaha. Darinya dia mendapat pelajaran bahwa profesi pengusaha itu sama dengan pekerjaan yang lain. Tidak semua pengusaha gemar merugikan rakyat kecil, suka bohong, jahat, atau culas. Banyak juga yang jujur, gigih, dan giat membantu sesama.

“Saya itu pernah susah, mas, melakukan apa pun supaya saya bertahan hidup. Bapak saya seorang penjudi. Ibu saya gak suka. Mereka bercerai. Hancurlah keluarga saya. Lalu saya kabur. Saya sudah gak betah hidup sama bapak,” kisah Kang Isep tentang kemuraman keluarganya.

Suatu hari, saking laparnya, dia bahkan pernah ngemis di depan masjid. Di situlah Kang Isep bertemu dengan Pak Broto, seorang pengusaha mebel.

Baca juga:

“Saya banyak belajar dari beliau. Beliau yang mengajarkan saya menjaga mental untuk tetap gigih di saat bisnis itu untung ataupun rugi. Beliau juga yang mengajarkan saya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan, sikap apa saja yang bisa membangun bisnis, untuk tetap berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang,” lanjutnya.

Kepada Elang, Kang Isep juga menjelaskan pentingnya keberanian dalam mengambil setiap kesempatan yang ada.

“Saya anak seorang penjudi. Puji tuhan, saya dikasih kesempatan untuk hidup yang nyaman. Coba saya dilihat dari siapa bapak saya, di mana saya dilahirkan, ya saya hanya jadi seorang penjudi. Saya saja bisa, apalagi Mas Elang?” tambah Kang Isep mencoba memberi pengaruh lebih dalam.

Dia menyinggung pula soal cita-cita Elang yang ingin mendirikan sekolah gratis di kampung halamannya, Sidoarjo. Walau punya pengalaman buruk terhadap pengusaha, Kang Isep memberi saran, jalan menjadi pengusaha, walau harus menjadi sosok yang dibenci, sangat potensial untuk bisa membantu orang banyak.

“Kalau misalnya mau membuat sekolah di sana, Mas Elang bisa menggerakkan roda ekonomi di sekitar kampung. Contoh, mereka bisa membuka warung, transportasi umum, dan Mas Elang juga membuka peluang untuk calon-calon guru seperti Mas. Tapi balik lagi, semuanya butuh uang. Mungkin Mas Elang bisa menjadi seorang pengusaha supaya bisa banyak membantu lebih banyak orang,” tutur Kang Isep.

“Mas Elang itu orang baik. Jangan sampai dunia tidak mendapatkan kebaikan Mas Elang,” pungkasnya meyakinkan.

Perubahannya makin mantap ketika ibunya menjelaskan pesan sang ayah yang sepanjang hidup menghantui Elang.

“Bu, kenapa bapak ngelarang Elang jadi pengusaha?” tanya Elang.

“Kok kamu ngomongnya gitu?” sambar ibunya.

“Jangan ingin jadi pengusaha. Semua pengusaha itu jahat.”

“Terus?”

“Ya terus apa?”

“Apa pesan terakhir bapak ke kamu?”

“Elang harus jadi orang baik, dan gak boleh merugikan rakyat kecil?”

“Kapan bapakmu bilang kamu gak boleh jadi pengusaha? Bapakmu kasih nama kamu Elang biar kamu bisa terbang tinggi. Tapi pas bapakmu jatuh, dia takut kamu jatuh juga. Yang bapakmu lupa, jatuh itu bagian dari hidup. Kamu harus jatuh biar tahu caranya berdiri.”

Sang ibu juga menjelaskan, sejak bencana yang dialami keluarganya, suaminya terus-terusan hidup bersama ketakutan. Fatalnya, ketakutan itu ditularkan ke anak semata wayangnya, Elang.

“Tapi satu hal yang ibu tahu, sampai akhir hayatnya, bapakmu sayang sama kamu, sayang sama ibu. Dia cuma takut kamu kayak dia,” terangnya kepada Elang.

“Tapi ini hidup kamu, Lang. Apa pun yang kamu lakukan, bapak dan ibu pasti bangga,” tutup sang ibu mengakhiri.

Di penghujung kisah, Elang akhirnya ikut kompetisi yang disarankan kekasihnya. Teman-teman Ina heran kenapa dia membolehkan pacarnya memilih kegiatan yang kelak akan menyaingi bidang profesinya sendiri.

“Kok kamu ngebolehin cowokmu jadi kompetitor?”

“Gak apa-apa. Dia sudah bebas. Dia bisa jadi apa saja yang dia mau.”

*Yang suka kisahnya versi film, tonton di sini saja: Jangan Kekang Dia yang Bisa Terbang (Short Movie)