Kita ke Mana? Ke Wali Tosora-lah!

Kita ke Mana? Ke Wali Tosora-lah!
©Dok. Pribadi

Setiap orang punya perjalanan spiritualnya sendiri-sendiri. “Kita ke mana? Mau ke mana? Hendak mencari apa?” Seperti kata Tulus dalam lagunya yang berjudul Kelana, kita ke mana, mau ke mana, dan hendak mencari apa adalah perjalanan kita masing-masing yang tidak ditentukan oleh orang lain melainkan kita sendiri yang memilih jalannya. Yang dibutuhkan adalah fokus pada suara hati atau intuisi, jalan mana yang akan ditempuh untuk mencari kebaikan-kebaikan dalam hidup.

Bulan Oktober ini, aku memilih perjalanan ke Tosora (lagi) untuk menghadiri undangan ustad Ambo Tang Daeng Materru penulis buku, “Biografi Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al Husain, Datuk Para Wali & Sultan di Nusantara dan Sekitarnya” undangan itu merupakan undangan maulid yang dirangkaikan dengan haul wali Tosora, Syeh Jamaluddin al Akbar al Husain yang merupakan kakek para wali karena semua turunannya rata-rata menjadi wali, ulama, orang-orang besar di seluruh nusantara. Maulid dan haul ini diselenggarakan di desa Tosora, kecamatan Majauleng, kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, ustad Ambo mengirimiku pesan apakah aku mau didaftar sebagai peserta maulid dan haul, aku pun mengiyakan. Ustad Ambo kemudian menambahkanku di grup Whats App (WA) “Cinta Petta Walli Tosora” yang berjumlah ratusan orang itu. Kemudian, aku menjadi delegasi ke nomor tiga belas (13) yang berasal dari desa Lapeo, kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat diantara delegasi lain perwakilan seluruh Indonesia seperti delegasi dari Jakarta, Cirebon, Malang, dan lain sebagainya.

Redaksi pendaftaran di grup seperti berikut ini; Maulid nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu Alayhi wa alihi wa salam. Haul akbar (II) Sayyid Jamaluddin al Akbar al Husain Azamatkhan alias Syeh Jumadil Kubro, petta walli MallenrungE ri Tosora, haul akbar (I) Al-Allamah A.G. K.H. Muhammad As’ad al Bugisi (pendiri pondok pesantren As’adiyah) pada hari Sabtu, 14 Oktober 2023, di kompleks masjid tua Tosora, dan seminar internasional, Ahad, 15 Oktober 2023, di kampus IAI As’adiyah Sengkang, dengan tema “Peran dan Jejak Dakwah Sayyid Jamaluddin al Akbar al Husain Azmatkhan alias Syekh Jumadil Kubro, Petta Walli MallenrungE ri Tosora dan Al Allamah A.G. K.H. Muhammad As’ad al Bugisi, pendiri pesantren As’adiyah.

Aku pun sempat mengajak beberapa teman untuk bergabung di acara ini dan beberapa kali memasang informasi tentang maulid dan haul ini di postingan, story-ku namun belum ada yang berminat untuk ikut bergabung. Aku pun mengatakan pada adik Ammoz, sepertinya, hanya kita bertiga yang pergi bersama H. Usman pemilik mobil yang kami sewa.

Tetapi, detik-detik sebelum hari H pergi, ummi Zulfi, adik bungsu almarhum ummiku (ibuku) menelponku beliau begitu antusias untuk ikut maulid dan haul wali Tosora. Kata beliau, karena melihat storyku, beliau tertarik ikut apalagi melihat foto wajah  syeh Jamaluddin al Akbar al Husain mengingatkannya pada masa kecilnya ketika pernah bersama puang Ummi Hj. Aisyah Tahir (anak perempuan tosalama Imam Lapeo Mandar) yang mendatangi rumah sseorang syeh, atau sayye yang raut wajahnha  mirip dengan foto syeh Jamaluddin al Akbar al Husain yang kuposting.

Alhamdulillah, akhirnya, kami pergi berlima: aku, Ammoz, ummi Zulfi, Izzah sepupuku yang lagi mengabdi di pesantren Al Ikhlash Lampoko juga ikut, dan H. Usman perjalanan pun kami mulai dengan berangkat di Jumat sore menuju Wajo. Namun, kami mampir di Sidrap tepatnya di pesantren Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, di sana kami mengunjungi keluarga yang merupakan pasangan suami-istri yang mengajar di pesantren tersebut. Mereka merupakan jebolan dari IAIN Alauddin Makassar yang juga teman kuliah tante kami, ummi Zulfi.

Saat makan malam, kami disuguhi makanan khas Sidrap, Nasu Palekko Bugis yang berbahan dari daging Itik yang diberi bumbu-bumbu.  Kemudian, esoknya, ketika sarapan kami diberikan bubur telur gula merah atau bubur ini berbahan dasar telur ayam yang diberi gula merah dan santan sama seperti kolak. Kolak ini bisa dimakan langsung atau dicampur dengan nasi lemang (sokkol).

Baca juga:

Sekitar jam sembilan pagi kami melanjutkan perjalanan ke Wajo. Namun, kami juga kembali singgah di Belawa untuk bertemu dengan bapak H. Ahmad Palewai yang merupakan pensiunan pegawai pertanian. Dulu, beliau juga tinggal di Panti Asuhan Nahdiyat (PAN) yang diinisiasi oleh nenek kami, Hj. Aisyah Tahir. Di Belawa, ummi Zulfi janjian dengan pak H. Ahmad di masjid Darussalam, sebuah masjid ikon di kecamatan Belawa. Sebelum pak Ahmad datang, kami sempat berfoto-foto dan mengambil video di masjid yang juga digunakan Buya Ar Razi (ulama yang selalu berbicara tentang tasawuf) touring ketika ke Sulselbar ini.

Ketika bertemu dengan H. Ahmad, ummi Zulfi tampak menangis terharu, begitu pun dengan pak Ahmad. Mereka senang sekali bisa bertemu setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, mereka mengatakan kami adalah saudara (sitalli). Kami pun mampir sebentar ke rumah pak Ahmad sebelum melanjutkan perjalanan ke Tosora.

Menjadi Tamu Kehormatan

Ketika tiba di Tosora, kami melihat kompleks masjid sudah ramai dengan acara perlombaan yang diselenggarakan untuk anak sekolah. Di sana, ada baliho sederhana yang bertuliskan, “Selamat datang, jamaah haul Assyech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini ke 629 tahun, 28-29 Rabiul awal 1445 hijriyah, 14-15 Oktober 2023.”

Ammoz menelpon Asmi, tuan rumah, homestay yang akan kami tempati. Alhamdulillah, rumah yang kami tempati kurang lebih 100 meter dari masjid tua Tosora. Dan pemiliknya sangat ramah, Asmi, ibunya Asmi, dan anak laki-laki Asmi yang kini duduk di SMP.

Malamnya, sesuai petunjuk Asmi, kami semua diundang makan malam oleh ibu desa, bapak kepala desa dan masyarakat Tosora untuk makan di Baruga di dekat pintu masuk masjid. Kami disuguhi daging sapi. Rupanya desa memang berpesta mereka memotong lima sapi yang katanya ada juga sumbangan dari mana-mana termasuk orang Jawa.

Aku sempat chat-chatan dengan mas Bagus seorang kenalan dari grup Petta Walli yang berasal dari Cirebon namun malam itu belum sempat bertemu. Setelah makan kami mengganti baju untuk siap-siap ke acara maulid. Dan yang membuat kami suprice, Asmi mengajak kami untuk duduk di depan, di panggung tempat tamu kehormatan.

Ada dua (2) panggung yang didirikan, yang satu untuk laki-laki dan yang satu untuk perempuan. Namun, ummi Zulfi lebih memilih untuk duduk di depan panggung saja berbaur dengan masyarakat. Lima menit kemudian, Asmi mengajak kami kembali untuk naik ke panggung bersama tamu-tamu kehormatan perempuan lainnya. “Aku mah apa, atuh?” Ucapku dalam hati. Akhirnya, aku dan ummi Zulfi duduk di atas panggung sedangkan Ammoz dan Izzah duduk di depan panggung.

Di atas panggung sambil mendengarkan barzanji, doa-doa, dan salawat, ummi Zulfi berbaur, berkenalan, dan bercerita dengan Pung-Pung atau Puang-puang keturunan dari Petta MalinrungE, dan raja –raja, bangsawan. Ia juga suka sekali dengan pembacaan maulid ini karena katanya seperti maulid di Pambusuang, Polewali Mandar sebuah kampung pesisir yang merupakan tempat sayyid-sayyid datang dari luar negeri. Aku sendiri asyik membuat konten Tik Tok, siaran langsung (live) di Facebook (FB), dan Instagram (IG). Sampai seorang sayyid muda datang, namanya sayyid Alwi yang membawakan ceramah Maulid yang sedikit menceritakan tentang kisah hidup wali Tosora.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah