Kita Punya Level Kebucinan yang Berbeda-beda

Kita Punya Level Kebucinan yang Berbeda-beda
©MSN

Setiap orang punya level kebucinan masing-masing.

Saat ini kita sudah mendengar berita viral di mana seorang perempuan Wajo, Sulawesi Selatan menolak laki-laki India yang dari jauh datang melamarnya. Saya tidak ingin kita menyalahkan pihak perempuan karena kita sendiri tidak tahu persis apa penyebabnya ataupun apa pertimbangannya karena itu urusan mereka berdua yang menjalaninya. Walaupun dari beberapa informasi yang saya dapatkan mengatakan pihak perempuan salah karena sudah memberi harapan pada laki-laki yang jadi budak cinta (bucin) itu.

Berbicara tentang seseorang yang jadi bucin, saya pribadi juga punya cerita kebucinan. Seminggu terakhir ini, saya dibuat kesal dengan tingkah laku seorang pemuda yang ngebet banget sama saya.

Setahun atau dua tahun yang lalu, aku berkenalan dengan seseorang, sebut saja namanya Arif. Laki-laki yang berumur dua puluh tujuh (27) tahun itu beberapa kali menyatakan cinta dan sudah pernah kutolak secara halus maupun kasar. Namun, ia tidak pernah menyerah. Ia tetap berusaha untuk mendekati saya bahkan katanya menikahi saya.

Saya tentu menolak, selain karena saya tidak suka padanya, saya hanya menganggapnya sebagai teman. Ia juga laki-laki yang “steward” (setengah waras).

Bermula ia membeli buku yang kutulis tentang Imam Lapeo, buku yang membahas tentang seorang manusia pilihan Tuhan yang mengemban tugas mengajarkan spiritual di Mandar, Sulawesi Barat. Kemudian, ia yang mengaku sebagai anak literasi itu mau membantu menjual bukuku kepada para pejabat yang ia kenal. Sebagai lulusan sarjana dari kampus di Polewali Mandar, ia katanya punya banyak jaringan.

Saat itu saya senang sekali, ada anak literasi yang mau membantu menjualkan buku. Saya pun memberikan beberapa eksemplar buku untuk dijualkan. Beberapa hari setelah itu, ia datang mengatakan buku yang kuberikan sudah laku, dan ia akan membawa beberapa lagi. Setelah banyak berbicara tentang buku, ia yang mengaku menganut suatu tarekat yang berpusat di Campalagian itu banyak berbincang tentang tasawuf padaku.

Kami pun sering bertukar pikiran, dan tukaran hand phone no, Whats App (WA) sampai tukaran media sosial. Saya memang selalu terbuka kepada siapa pun. Itu hal yang biasa menurut saya ketika saya berteman dengan orang lain.

Namun, saya begitu heran dengannya. Ia begitu gencar menghubungiku di berbagai media sosialku. Di Facebook, (FB), WA dan Messenger yang tidak pernah berhenti mengirimkan pesan sampai pada menelpon biasa. Awalnya, saya menganggapnya biasa karena terkadang isi pesannya mengajak untuk berziarah ke makam leluhur dekat rumahnya. Atau mengirim pesan untuk bertanya sesuatu. Tapi, ketika sampai mengirimkan lagu-lagu cinta seperti lagunya Noah. Saya mulai agak “ngeh” jika ada yang aneh. Tapi, kami tetap berteman, karena saya menganggapnya biasa saja. Malah biasanya saya merespon dengan emotikan smile yang tertawa.

Baca juga:

Mungkin, jika saya suka atau ada perasaan padanya, saya mungkin akan baper (bawa perasaan) dengan lagu-lagu tadi. Tapi, tidak, saya hanya menganggapnya sebagai iklan atau pun pengingat jika Aril punya lagu romantis seperti yang dikirimkan. Pun ketika ia menscreen-shot pesannya kepada ayahnya dan saudaranya yang di Mamuju, ia mengatakan jika ia mencintai seorang perempuan, dan perempuan itu pun balik mencintainya, saya tidak memberikan tanggapan karena tidak mau dianggap GR (gede rasa).

Kami pun pernah pergi berziarah bersama, hal yang biasa kulakukan dengan teman-teman baik perempuan maupun laki-laki ketika kami memiliki frekuensi spiritual yang sama. Saya pun pernah ke rumahnya bersama adikku. Hal itu lumrah, saya sering mengunjungi rumah teman lama maupun baru ketika saya ingin silaturahmi. Saya juga suka ngobrol dan berdiskusi tentang berbagai informasi dan peristiwa dengan teman-teman.

Tapi, ia menganggapnya sebagai suatu bentuk penerimaan saya pada dirinya. Sehingga, ketika ia mengungkapkan perasaannya lewat pesan. Saya katakan padanya dengan baik-baik, saya memang jomblo tapi lagi naksir seseorang dan itu bukan kamu. Ia masih saja gencar dengan pesan-pesannya, sehingga ia pun kublokir di semua aplikasi media sosialku.

Setelah itu, saat saya sering keluar kota baik ke Mamuju dan Makassar, ia sering menunggu saya pulang dengan tinggal, tidur di balai-balai (barung-barung) di depan rumah kakek, tempat saya tinggal. Terkadang, ia juga tiba-tiba datang memberikan alat penunjuk tradisional untuk mengaji. Ia juga membawakan tiga pot bunga anggrek tanamannya. Tapi, saya yang tidak suka bunga ini memberikan anggrek tadi pada saudara pecinta tanaman. Ia juga pernah mengirimkan makanan gorengan, martabak, dan lain sebagainya yang kata teman-temanku jangan dimakan takut diberikan mantra-mantar agar saya menyukainya.

Ada hal yang seharusnya tidak saya lakukan, menerima pemberiannya. Saya menerimanya karena berpendapat “eman-eman”, sayang kali kalau dibiarkan pemberiannya akan jadi mubassir. Lagipula, saya memang selalu mendapatkan pemberian apa-apa dari orang lain yang kuanggap sama saja dengan maksud pemberiannya.

Kemudian, ketika tahu jika saya memblokirnya, ia datang ke rumah kakek dengan ayahnya, dan adik laki-lakinya. Kukira ayahnya ingin berziarah ke rumah kakek, yang mana rumah kakek memang ramai oleh peziarah. Ternyata ayahnya datang untuk melihat jalanan untuk ke rumah. Saya yang tidak mengerti bertanya kepada ayahnya, apa maksudnya.

Beliau pun menjelaskan maksudnya, untuk melihat peluang untuk masuk ke keluargaku. Ayahnya masih wajar, kukira ia seperti apa yang pernah dikatakan Arif padaku, ingin menjadi seperti kakekku. Kakekku yang dianggap wali di kampung ini.

Saya tegaskan pada ayahnya, jika saya tidak punya perasaan pada anaknya. Saya hanya menganggapnya sebagai seorang adik, bahkan teman. Setelah itu, kegilaannya yang lain mulai tampak. Teman-temanku di Add-nya, beberapa Instagramku yang tidak aku pakai lagi dikomennya, pernah juga aku melihat tulisannku di platform diresponnya.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah