Klaim Para Penentang Islam Nusantara

Klaim Para Penentang Islam Nusantara
Ilustrasi: IST

Nalar WargaPara penentang Islam Nusantara datang dengan narasi lama. Mereka keberatan dengan penambahan adjektiva setelah kata Islam. “Tak ada Islam liberal, pluralis, inklusif, tak ada Islam Nusantara,” kata mereka. “Islam ya Islam saja.”

Mungkinkah ada ada Islam saja itu?

Kalau mereka menentang penambahan kata sifat dalam Islam, bukankah Islam saja juga sebetulnya mengandung kata sifat, yakni klaim murni, tak terikat pada suatu apa? Kemurnian atau kesajaan adalah sifat yang dilekatkan atau diklaim ada pada pemahaman sang pemberi klaim.

Para penentang Islam Nusantara mengklaim bahwa Islam mereka tidak dilekati apa pun. Islam mereka murni. Betulkah begitu?

Sama sekali tidak. Pemahaman mereka berasal dari suatu doktrin yang dikembangkan Muhammad bin Abdul Wahhab. Juga Ibnu Taimiyah. Bahkan mungkin pada paham Khawarij.

Mereka yang mengklaim menganut Islam murni atau asli sesungguhnya tidak asli sama sekali. Mereka juga dipengaruhi oleh suatu konteks. Islam yang mereka anut adalah juga hasil dari interpretasi. Dan setiap interpretasi tidak bisa dilepaskan dari konteks.

Pada perang Shiffin, misalnya, Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa bukan Alquran yang berbicara, melainkan laki-laki dan perempuan. Mereka itulah yang berbicara atas nama Alquran.

Artinya, pada dasarnya setiap pembicaraan mengenai agama adalah interpretasi. Tidak murni doktrin agama itu sendiri.

*Saidiman Ahmad

___________________

Artikel Terkait:
Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet