Komunisme dan Fundamentalisme Islam; Dua Hantu bagi Demokrasi

Sebelum itu, perlu untuk terlebih dahulu mengetahui mengapa negara selalu menganggap komunisme sebagai hantu yang begitu menakutkan. Alasannya tentu bukan karena komunisme mengajarkan ateisme sebagaimana yang sering jadi propaganda rezim Orde Baru.

Walau bagaimanapun, bertuhan atau tidaknya seseorang tidak akan pernah merusak stabilitas negara. Artinya, negara akan tetap berjalan sebagaimana mestinya sekalipun berpenghuni orang-orang yang tidak bertuhan.

Alasan yang lebih rasional adalah bahwa komunisme tidak menganggap demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang ideal. Selebihnya, di bawah komunisme internasional, komunisme ingin mewujudkan negara komunis dunia yang dengan sendirinya dapat mengancam keberadaan nation state.

Pun demikian dengan fundamentalisme islam. Ia selalu menganggap demokrasi sebagai produk Barat yang tidak cocok dengan kebudayaan islam. Untuk mengganti demokrasi, kalangan fundamentalisme islam menawarkan khilafah yang tidak lain juga merupakan sistem negara dunia.

Sekalipun komunisme dan fundamentalisme islam memiliki misi yang hampir sama, namun keberadaan fundamentalisme islam sendiri sedikit diuntungkan dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Kalangan fundamentalisme islam, setidaknya pada hari ini, tidak akan mengalami apa yang pernah dialami oleh orang-orang komunis, yaitu pembantaian massal oleh negara. Hal itu tidak lain karena kalangan fundamentalis hidup dalam negara yang benar-benar demokratis, suatu negara thoghut yang sangat mereka kutuk.

Baca juga:
Minrahadi Lubis
Latest posts by Minrahadi Lubis (see all)