Konflik Ukraina – Pergulatan Midgame II

Konflik Ukraina - Pergulatan Midgame II
©Reuters

Nalar Warga – Midgame sudah berlangsung hampir seminggu. Di Ukraina, perang berlangsung intensitas rendah. Tetapi perang sebenarnya terjadi di luar Ukraina, perang skala global yang dilancarkan Biden terhadap Rusia.

Selama hampir seminggu, konflik di lapangan fokus di masalah koridor kemanusiaan untuk pengungsi. Beberapa kali koridor disepakati, dan beberapa kali gagal.

Pihak Ukraina punya kepentingan untuk sedapat mungkin mencegah pengungsian keluar wilayah yang terkepung. Sedangkan pihak Rusia punya kepentingan untuk mencegah koridor pengiriman supply masuk kota terkepung tidak digunakan untuk mengirim persenjataan dan amunisi.

Karena perbedaan kepentingan kedua belah pihak, koridor sering gagal, tetapi yang terakhir cukup sukses.

Dari dengar pendapat di Senat yang menampilkan Nuland, bisa disimpulkan, Amerika secara total saat ini “berperang” untuk mencekik kemampuan Rusia untuk melanjutkan konflik di Ukraina. Seluruh kemampuan ekspor-impor Rusia akan ditarget, dan infiltrasi ala Arab Spring dilancarkan.

Biden menghentikan impor minyak dari Rusia, mengakibatkan harga minyak di Amerika melejit. Supaya tidak disalahkan, Biden menyalahkan Rusia untuk itu, memopulerkan istilah Putin’s Price Hike.

Untuk pembahasan latar belakang strategi-strategi Amerika menambah supply minyak dunia demi mencekik supply dari Rusia, bisa disimak di tulisan di bawah:

Ada satu negara yang juga diuntungkan oleh krisis Ukraina, yaitu Iran. Karena krisis inilah pemerintahan Biden sepertinya mempercepat perundingan nuklir dengan Iran dengan membuat konsesi. Alasannya? Karena untuk menghentikan ekspor minyak Rusia, Eropa perlu minyak dari Iran.

Baca juga:

Ini tentu merugikan Rusia, sehingga Rusia yang tadinya partner Iran, sekarang mengenakan tuntutan bahwa deal dengan Iran harus dengan garansi bahwa Iran harus bebas bertransaksi dengan Rusia (tidak terancam kampanye sanksi Amerika terhadap Rusia).

Langsung deal yang harusnya cepat diteken, jadi terhambat karena Amerika tidak mau menghubungkan urusan perundingan nuklir Iran dengan urusan Ukraina. Iran juga menjadi kesal. Saya pikir, bertahun-tahun Rusia berada di pihak Iran waktu Iran kena sanksi, harusnya Iran mencoba mengerti.

Kemungkinan Saudi dan UEA menolak menerima telepon Biden juga gegara hal ini. Bisa dibilang di Timur Tengah ada konstelasi geopolitik yang berbeda lagi, di mana Saudi dan Iran berseberangan. Ketika Iran diberi sanksi, Saudi senang. Sekarang Biden mau lepasin sanksi, Saudi gak senang.

Bagi Iran, jika krisis Ukraina lewat, mereka khawatir kesempatan untuk lepas dari sanksi Amerika akan lebih sukar. Tetapi jika Iran menjual minyak ke Eropa, Eropa bisa ditekan Amerika untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Tujuan Amerika itu menjepit Rusia.

Itulah kehebatan kekuasaan sanksi-sanksi Amerika, digabung dengan kekuatan pertahanan, Amerika bisa memaksa Eropa dan semua Sekutu mengikuti langkah-langkah sanksinya. Saat ini, yang membuat sanksi global bukan PBB, tetapi Washington.

Dengan kekuatan senjata sanksi-sanksi ini, Amerika bisa mengadu-domba banyak pihak. Rusia diadu dengan Eropa. Rusia diadu dengan Iran, walaupun Rusia banyak bantu Iran waktu Iran kena sanksi. Kekuatan Amerika saat ini ada di jaringan sekutu-sekutuan inilah, memaksa main keroyokan.

Jika strategi Amerika bisa sukses, maka Rusia akan sangat tergantung dengan kesediaan Cina menolak desakan Amerika untuk memberikan sanksi. Cina harus siap-siap dihantam dengan sanksi-sanksi tersendiri kalau tidak patuh pada Amerika. Dan bisa terjadi kasus seperti kasus Meng Wanzhou.

Halaman selanjutnya >>>
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)