Konsep Moral Victoria sebagai Jalan Menuju Kebebasan

Konsep Moral Victoria sebagai Jalan Menuju Kebebasan
©IDN Times

Tekad atau Daya Karsa (willpower), mitos yang berasal dari era Victoria pada abad ke-18 ini, terdengar mulai masuk akal. Roy Baumeiester (psikolog sosial asal Amerika Serikat) bersama istrinya Dianna Tiece, profesor di Case Western Reserve University, dan Todd Heatherton, profesor di Universitas Harvard, berhasil membuktikan hal tersebut lewat penelitiannya yang ditulis dalam buku ilmiah berjudul Losing Control pada 1994. Dalam penelitian tersebut, mereka membuat kesimpulan bahwa “kegagalan pengaturan diri merupakan sakit patalogis terbesar dalam zaman kita”.

Willpower bisa juga disebut sebagai nilai kesadaran atas kehendak diri sendiri. Ini sering kali disangkal oleh psikolog Freudian yang menganggap bahwa tingkah laku manusia dewasa kebanyakan berasal dari dorongan atau proses tidak sadar. Bahkan B. F Skinner, seorang psikolog beraliran behaviorisme asal Amerika Serikat, sangat tidak suka konsep akan nilai kesadaran dan proses mental ini. Kecuali yang dibutuhkan untuk memproses penguatan kontingensi (keadaan yang masih diliputi ketidakpastian).

Tulisan ini berusaha menjelaskan secara gamblang tentang bukti-bukti dari kekuatan tekad (willpower). Seperti yang dimaksudkan dalam penelitian Roy Baumeister dalam tulisan John Tierney selaku kontributor pada buku Apa Pilihanmu: Pengendalian Negara atau Pengendalian Diri?” karya Tom G. Palmer. Kekuatan tekad sebenarnya merupakan sesuatu yang tak kalah penting untuk menciptakan sebuah pengendalian diri yang melahirkan sebuah kebebasan.

Selain itu, tulisan ini juga bertujuan untuk mengkritik sosialisme yang banyak menggunakan ide-ide dari Freudian sebagai pendukung dari cara berpikir mereka. Dorongan dari luar dan proses tidak sadar lebih berpengaruh terhadap segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Akhirnya membuat para sosialis berpikir bahwa kendali dari luar yang bersifat komunal lebih efektif untuk mengatur individu dalam rangka menciptakan kesejahteraan umat manusia.

Sejarah Konsep Moral Victoria

Manusia yang hidup di era Victoria (periode pemerintahan Ratu Victoria di Britania Raya/Inggris tahun 1837-1901) pada abad 18 dan 19 menyadari bahwa mereka adalah masyarakat desa (sebagian besar petani). Mereka hidup pada masa transisi di mana kepastian dan kekakuan moral dari lembaga feodal di Eropa perlahan-lahan mulai redup. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya telah bergantung pada tata kelakuan dikte dari tuan tanah, dogma gereja, serta norma-norma kaku yang dipaksakan oleh desa-pertanian.

Tetapi saat mereka pindah ke kota, mereka tidak lagi terkekang oleh dogma agama serta tekanan sosial dari kelompok kecil tersebut. Pergolakan dan konflik dalam agama Kristen, serta lahirnya abad pencerahan, juga telah melemahkan berbagai jenis dogma gereja terhadap mereka.

Pada saat itu mulai timbul perdebatan di era Victoria. Mereka mulai mempertanyakan, apakah moralitas dapat bertahan tanpa agama? Mereka bertanya demikian sebab telah risau dengan kemunduran moral serta beberapa penyakit sosial yang terjadi di dalam masyarakat perkotaan.

Pada akhirnya, mereka menemukan sebuah cara yang dapat mengobati kerisauan mereka terhadap kemunduran moral dan penyakit sosial yang sedang mereka hadapi. Sebuah kekuatan internal, setara dengan kekuatan mesin uap revolusi industri, yang bahkan seorang ateis pun dapat mengandalkannya. Kekuatan internal itu mereka sebut willpower yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti tekad atau daya karsa.

Tekad atau daya karsa (willpower) berusaha ditingkatkan oleh masyarakat era itu. Terlebih ketika Samuel Smiles menulis sebuah buku berjudul Self-Help (membantu diri, atau yang biasa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai mengembangkan diri Sendiri). Sebuah buku yang populer di zaman itu, yang menjelaskan bagaimana kesuksesan dari kejeniusan Issac Newton sampai StoneWall Jackson yang tak pernah lelah untuk menciptakan kejeniusan-kejeniusan mereka.

Orang-orang Victoria tersebut mulai mengikuti saran-saran seperti apa yang dituliskan oleh buku tersebut. Untuk mengembangkan diri mereka dan mulai membentuk sebuah kemajuan moral yang luar biasa pada era tersebut.

Terbit dan Tenggelamnya Konsep Tekad (willpower)

Pada abad ke-20, ketertarikan terhadap pengembangan diri ini mulai redup. Hal tersebut dikarenakan pengaruh perang dunia pertama. Juga, pergolakan ekonomi yang terjadi pada masa itu, yang hasilnya malah menghasilkan sikap foya-foya masyarakat di era Victoria.

Laki-laki (tentara perang) keras kepala mulai menyebutkan kata tanggung jawab, walaupun harus mati konyol di medan perang. Terlebih tema tentang tekad atau daya karsa ini dijadikan sebagai tema dari film propaganda. Film itu disutradrai oleh Leni Riefenstahl, “The Truimph of The Will” (Menangnya Kehendak), pada 1934 sebagai kampanye untuk partai Nazi di Jerman.

Konsep Nazi tentang tekad akhirnya membuat kabur konsep tekad yang dimaksudkan pada era Victoria. Kesannya, ketika mendengar kata tersebut, berpikir seorang Adolf Hitler beserta partai Nazi-nya mewakili sebuah kemenangan kehendak.

Setelah perang, ada pula kekuatan lain yang melemahkan konsep moral era Victoria. Pada saat kemajuan teknologi berkembang pesat, harga barang-barang menjadi murah. Ini membuat masyarakat sub-urban menjadi lebih kaya. Hal yang diinginkan oleh konsumen menjadi sesuatu yang penting dalam ekonomi. Iklan-iklan yang makin canggih seakan mendorong konsumen untuk cepat membeli produk-produk yang ditawarkan.

Dari hal tersebut, sosiolog akhirnya mengidentifikasi sebuah generasi baru yang “diarahkan oleh orang lain”. Dikerahkan oleh opini sesama mereka dan bukan dari apa yang ada di dalam diri mereka. Hal tersebutlah yang akhirnya mendukung ide dari para psikolog Freudian. Menentang ide zaman Victoria tentang sebuah konsep moral yang mengandalkan kekuatan dalam diri (tekad).

Pada akhir abad ke-20, banyak ilmuwan sosial yang memunculkan argumen untuk melawan konsep tekad (willpower) sebagaimana dimaksudkan pada zaman Victoria. Dikarenakan setiap ilmuwan sosial tersebut kebanyakan mencari sebab atas kelakuan buruk yang terjadi dalam lingkungan sosial lewat faktor-faktor eksternal. Seperti: penindasan, penelantaran, politik, dan ekonomi.

Menyalahkan hal eksternal sebagai sebab atas terjadinya kelakuan buruk di dalam lingkungan sosial tampaknya lebih mudah bagi para ilmuwan. Oleh sebab itu pula, opsi-opsi yang diberikan untuk menanggulangi keburukan yang terjadi di dalam lingkungan sosial dianggap harus melewati kebijakan-kebijakan eksternal pula, serta bukannya dari dalam diri (internal) individu.

Menyelesaikan masalah sosial lewat hal eksternal dianggap lebih mudah daripada mengatasi masalah cacat karakter pada setiap individu. Oleh sebab itu, ilmuwan sosial cukup menawarkan program-program serta kebijakan-kebijakan pada pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Para sosialis cenderung mengadopsi ide-ide ilmuwan sosial. Ditambah lagi dengan dukungan-dukungan ide dari Freudian yang menolak konsep moral era Victoria. Membuat para sosialis lebih bersemangat untuk lebih fokus melihat dorongan dari luar dirinya ketimbang melihat kehendak di dalam dirinya sendiri yang dianggap hanya sebatas sifat egois semata.

Pola pemikiran seperti inilah yang membentuk para sosialis lebih cenderung menganut konsep altruisme. Mereka menganggap kepentingan bersama adalah kepentingan bagi diri mereka pula. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan kepentingan bersama, dibutuhkan suatu kekuatan politik untuk mengatur setiap individu yang mungkin sangat mustahil tidak dilakukan secara paksa.

Meskipun konsep-konsep moral pada era Victoria hanya dianggap mitos belaka oleh para ilmuwan sosial, psikolog freudian, serta kaum sosialis, ada sebuah penelitian luar biasa yang secara tidak langsung mematahkan ide-ide mereka yang tidak percaya terhadap konsep moral era Victoria. Mereka adalah ilmuwan yang dianggap mampu menjelaskan kembali kekuatan dalam diri. Dikatakan oleh orang era Victoria sebagai kekuatan yang setara dengan kekuatan mesin uap revolusi industri bahkan mesin-mesin terkuat sepanjang zaman. Kekuatan tersebut ialah tekad atau daya karsa (willpower).

Pembuktian Keberadaan Tekad atau Daya Karsa (willpower)

Bukti dari keberadaan tekad atau daya karsa dapat dilihat pada sebuah catatan penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog sosial bernama Roy Baumeister (psikolog asal Amerika Serikat). Ia bersama istrinya Dianna Tiece (profesor Case Western Reserve University) dan Todd Heatherton (provesor Universitas Harvard).

Penelitian tersebut diawali dengan ketidak-sengajaan Bumeister menemukan beberapa petunjuk dari sebuah penelitian yang dipimpin oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford. Di mana, anak berumur empat tahun diberikan sebuah marshmallow tetapi dijanjikan lagi untuk mendapatkan bonus (marshmallow tambahan) jika berhasil menahan diri untuk memakannya selama beberapa menit.

Tujuan percobaan ini sebenarnya hanya untuk melihat bagaimana anak-anak menahan diri mereka. Namun setelah beberapa tahun kemudian, Mischel mendapat kabar yang begitu mengejutkan. Sebab anak-anak yang dulunya berhasil menahan diri untuk memakan marshmallow selama beberapa menit rata-rata mendapatkan nilai lebih baik di sekolah daripada anak yang hanya bertahan selama setengah menit.

Pengurasan Ego

Penelitian yang dilakukan oleh Baumeister beserta yang lainnya dimulai dari percobaan memakan kue cokelat dan semangkuk lobak. Mereka melakukan percobaan ini kepada beberapa mahasiswa yang disuruh berpuasa sebelumnya.

Seluruh mahasiswa tersebut masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan aroma kue cokelat panggang, beberapa mahasiswa yang beruntung ditawarkan sepotong kue coklat tersebut. Sedangkan beberapa dari mereka yang kurang beruntung diberikan semangkuk sup lobak saja. Sementara mahasiswa yang lainnya lagi tidak ditawarkan apa-apa.

Agar hasil penelitian lebih maksimal, tim peneliti meninggalkan mahasiswa-mahasiswa itu dan mengintip pada jendela kecil yang tersembunyi di luar ruangan. Terlihat dari jendela, mahasiswa yang mendapatkan sup lobak ternyata menahan diri mereka untuk tergoda dari kue cokelat dan tetap memakan sup lobak yang diperbolehkan oleh tim peneliti.

Sesudah itu, mereka semua dikumpulkan dan disuruh untuk menyelesaikan sebuah soal geometri. Mereka mengira bahwa peneliti ingin menguji ketrampilan mereka. Namun sebenarnya soal tersebut memang tidak dapat dikerjakan.

Setelahnya, peneliti mendapatkan hasil:

  1. Mahasiswa yang memakan kue cokelat dan tidak makan apa-apa dapat bertahan mengerjakan soal tersebut selama 20 menit sebelum menyerah.
  2. Mahasiswa yang ditawarkan kue cokelat namun hanya boleh makan sup lobak saja hanya dapat bertahan mengerjakan soal selama 8 menit.

Mereka yang hanya makan sup lobak berhasil menahan godaan kue cokelat, tetapi usaha untuk hal tersebut menyisakan lebih sedikit energi untuk mengerjakan soal geometri. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa sebenarnya ada sebuah energi mental yang memampukan pengendalian diri dan tekad bisa terkuras layaknya tenaga untuk menahan godaan. Efek ini disebut Baumeister sebagai “pengurasan ego”.

Penelitian ini menunjukan dua pelajaran:

  1. Anda memiliki daya kehendak yang terbatas, yang akan habis digunakan.
  2. Anda menggunakan daya kehendak yang sama dalam segala jenis tugas.

Baumiester berkata, mungkin kita berpikir bahwa kita memiliki daya kehendak yang berbeda untuk segala jenis tugas. Namun faktanya, daya kehendak yang kita miliki adalah sama untuk segala jenis tugas.

Hal tersebut dapat terlihat dari percobaan pegurasan ego. Mahasiswa yang menahan diri untuk tidak makan sup cokelat (hanya makan sup lobak saja) tidak mampu bertahan mengerjakan soal geomeri lebih dari 8 menit. Padahal jenis tugas yang dilakukan adalah dua jenis tugas yang sama sekali berbeda (menahan makan kue cokelat dan mengerjakan soal geometri).

Membangun Karakter

Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Baumeister beserta yang lainnya adalah memberikan uji awal kemampuan daya kehendak kepada mahasiswa yang menjadi subjek penelitian.

Setelah melakukan uji awal kemampuan daya kehendak, mahasiswa tersebut dibagi menjadi tiga buah kelompok. Kelompok pertama disuruh untuk memperbaiki postur tubuh mereka, yaitu dengan berdiri tegap serta duduk dengan tegap saat mereka membaca dan belajar sampai dua minggu ke depan.

Kelompok kedua disuruh untuk mencatat segala sesuatu yang dilakukan selama dua minggu ke depan. Sedangkan mahasiswa kelompok ketiga disuruh mempertahankan emosi positif sampai dua minggu ke depan.

Pada awalnya, Baumeister berpikir bahwa sepertinya kenaikan kemampuan daya kehendak akan datang dari kelompok ketiga, yang mempertahankan emosi positif. Namun ternyata hasilnya sungguh membuat mereka terkejut.

Pengendalian emosi ternyata tidak tergantung pada kemampuan daya kehendak, sehingga melatih pengendalian emosi tidak menambah kemampuan daya kehendak. Hasil kemampuan daya kehendak yang naik drastis justru datang dari mereka kelompok pertama dan kedua, yaitu mereka yang mengubah postur tubuh mereka ketika sedang duduk dan berdiri saat membaca dan belajar, dan mereka yang mencatat segalah hal yang dilakukan dalam dua minggu itu.

Namun hasil terbaik didapatkan dari mereka yang hanya mengubah postur tubuh, suatu ajaran kuno yang membosankan itu “duduk yang tegap” jauh lebih berguna dari apa yang kita pikirkan. Baumeister mengatakan bahwa “dengan menghilangkan kebiasaan membungkuk, para mahasiswa tersebut menguatkan daya kehendak mereka dan lebih baik dalam mengerjakan tugas yang tidak ada hubungannya dengan postur tubuh”.

“Penelitian ini juga mengungkap dua pembedaan penting dari kekuatan pengendalian diri: kekuatan dan stamina. Pada sesi awal penelitian, peserta memulai dengan meremas alat penguat genggaman selama yang mereka bisa (yang telah dibuktikan di penelitian lain sebagai pengukur (bukan hanya untuk kekuatan fisik tetapi juga) daya kehendak yang baik).

Kemudian setelah mengeluarkan energi mental untuk tugas lain, mereka melakukan latihan genggaman kedua untuk mengukur seberapa besar daya kehendak terkuras. Dua minggu kemudian, ketika mereka kembali ke laboratorium setelah mereka melakukan strategi latihan postur tubuh selama dua minggu, nilai latihan genggaman awal mereka tidak menjadi lebih baik.

Artinya, daya dari daya kehendak mereka tidak menjadi lebih bertenaga. Namun mereka punya lebih banyak stamina. Dibuktikan dengan meningkatnya nilai mereka untuk latihan genggaman kedua setelah peneliti mencoba meletihkan daya kehendak awal mereka.

Terima kasih kepada latihan postur tubuh mereka. Daya kehendak mereka tidak habis secepat yang sebelumnya. Sehingga mereka punya lebih banyak stamina untuk melakukan tugas lain.”

Penelitian dari Baumeister ini akhirnya membuktikan bahwa adanya sebuah kekuatan tekad atau daya karsa (willpower). Hal ini seperti yang disebutkan pada era Victoria. Serta membantah ide psikolog Freudian yang mengatakan bahwa segala tindakan manusia adalah proses tidak sadar dan didorong dari luar dirinya sendiri.

Pengendalian diri yang luar biasa melatih otot-otot daya kehendak kita, membantu kita untuk mencapai tujuan orang-orang Victoria, yaitu membangun karakter. Penduduk era Victoria terkenal sebagai orang-orang yang suka mengekang, tetapi mereka tahu bahwa pengendalian diri  ini adalah sebuah bentuk pembebasan.

Oleh sebab itu, hal ini menjadi nilai penting kemanusiaan. Dengan menolak dorongan dari luar, kita dapat bebas merencanakan masa depan. Kita dapat hidup dalam masyarakat di mana sesama kita juga bebas merencanakan hidup mereka tanpa paksaan.

Baca juga:

Tekad atau daya karsa (willpower) yang dianggap konsep kuno di zaman ini ternyata merupakan satu hal yang tidak dapat lepas dari pengendalian diri untuk membentuk sebuah kebebasan. Konsep moral yang awalnya dianggap mitos belaka oleh ilmuwan sosial, psikolog Freudian, dan kaum sosialis ini sudah dapat dibuktikan lewat penelitian. Salah satunya yang dilakukan oleh Roy Baumeister yang ditulisnya dalam sebuah buku ilmiah berjudul Losing Control.

Sebaliknya, konsep sosialisme tentang dorongan dan tindakan tidak sadar yang banyak terinspirasi dari psikolog Freudian dan ilmuwan sosial sudah dapat dibantah habis-habisan. Mereka percaya dengan cita-cita utopis kaum sosialisme. Percaya bahwa tindakan manusia dibentuk dari proses yang tidak sadar. Dorongan dari luar dirinya hanyalah bentuk kemalasan dalam mencari kekuatan tekad yang tersimpan jauh dalam diri.

Sikap malas tersebut akhirnya membuat diri bergantung pada orang lain. Selalu menuntut kebebasan dan kesejahteraan dari luar dirinya tanpa melakukan pengembangan terhadap diri sendiri. Sebaliknya, daya kehendak cenderung melekat pada sikap individu. Ini ternyata dapat membawa manusia pada sebuah kemajuan moral dan kesejahteraan yang luar biasa, dengan bebas dan tanpa paksaan.