Konsep Prosesual sebagai Pemecah Ekologi Kapitalisme

Konsep Prosesual sebagai Pemecah Ekologi Kapitalisme
©IndoPROGRESS

Konsep Prosesual sebagai Pemecah Ekologi Kapitalisme

Manusia sebagai ens rationale memiliki rasio yang cukup tinggi dari makhluk hidup lainnya dalam hal menanggapi suatu permasalahan. Perjumpaan antara akal budi dan mental sejatinya menunjukkan suatu bentuk kompleks dalam diri manusia.

Manusia dengan akal budi mampu untuk mengkaji dan menimbang segala hal yang terjadi dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Manusia dalam kaitannya dengan mental sudah merupakan suatu hal mendasar atau hal substansial dalam diri  yang berfungsi bagi pendirian posisi manusia.

Hal ini dapat dilihat bahwa adanya hubungan antara mental dengan akal budi. Akal budi tidak akan berdiri apabila tidak diikutsertakan dengan kepribadian mental.

Manusia dalam pandangan Paul Freire merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Dalam pernyataan ini, manusia diposisikan sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan dan manusia berbeda dengan hewan yang tidak memiliki sejarah dan hidup masa kini yang kekal.

Manusia memiliki konsep berpikir yang cemerlang dan oleh karena itu manusia dapat membangun suatu proses refleksi menuju keterarahan, dan hal ini yang mengakibatkan manusia dapat berelasi dengan dunia.

Posisi manusia saat ini mendapat suatu stigma buruk bagi hubungannya dengan alam. Manusia dalam hubungannya dengan alam tidak mampu membangun pemikiran kritis dengan masalah-masalah yang terjadi. Manusia post-modern tidak berlaku seperti manusia yang memiliki rasio yang tinggi. Dari permasalahan internal ini, proses kestabilan ekologi akhirnya harus menerima dampaknya.

Melalui arah perkembangan dunia yang makin menuju ke arah modern, perlakuan destruktif terhadap alam menjadi suatu alasan mendasar dari kerusakan sistem ekologi. Hal yang paling ironis yakni manusia sendiri yang mengambil bagian dalam perilaku tersebut. Sistem ekologi telah mencapai taraf yang dinamakan krisis.

Krisis ekologi sekali lagi menjadi permasalahan penting yang memuat seluruh kerusakan hubungan timbal balik dengan manusia. Dalam taraf seperti ini, manusia tak lagi dapat menghindari akibat yang ditimbulkan dari alam.  Pada prinsipnya apa yang diberikan kepada alam dalam hal ini ekologi, itu pula yang akan diterima oleh manusia sebagai pelaksana pertama.

Baca juga:

Dalam realitasnya, krisis yang dialami ekologi seperti pemanasan global, kekeringan, banjir, tanah longsor, dll merupakan tindakan awal yang dilakukan manusia terhadap lingkungan ekologi. Konsep kehidupan manusia diubah oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Manusia lebih menyukai gaya hidup konsumtif, hedonistik, westernisasi, dll yang cenderung mengarah kepada bentuk degradasi mental.

Mentalitas seperti ini menjadi suatu masalah internal yang tak jarang memiliki efek pada masalah eksternal seperti ekologi. Mental buruk yang telah tertanam sejak lama telah menjadi kesulitan dalam proses perubahan ke arah yang lebih baik atau transformasi mental manusia.

Hirarki sosial berkembang dari fakta biologis seperti keluarga, hubungan kekerabatan,  perbedaan gender, dan perbedaan usia yang dilembagakan. Hierarki pada awalnya sangat bersifat egaliter. Sistem hierarki diyakini mampu menyatukan manusia-keluarga, suku bangsa, ras ataupun kelompok-membangun masyarakat yang lebih sistematis dan terarah, dalam relasinya di alam sosial.

Namun dalam ranah perkembangan belakangan ini, muncul perilaku yang bertendensi pada hierarkis yang  eksploitatif dan tirani.

Awal kerusakan sistem hierarki dalam masyarakat berangkat dari fundamentalis pada keluarga, suku bangsa ataupun komunitas lainnya (etnosentris). Hal ini membuat individu atau kelompok tertentu melihat individu atau kelompok lain yang tidak memiliki hubungan (kerabat/keluarga) sebagai ‘orang asing’ yang pada akhirnya menjadi teman atau bahkan diperbudak (musuh).

Fenomena ini menjadi salah satu alasan munculnya moralitas yang bertujuan mengatur pola kehidupan sosial manusia, di samping itu membuat manusia benar-benar ‘memisahkan yang hubungan biologis’ dengan sosial dalam relasi.

Penerapan struktur hierarki yang sudah sejak dahulu akhirnya terus berlanjut dari generasi ke generasi berikutnya. Pengelompokan struktural sistematis dalam hierarki turut terbawa dalam pembentukan organisasi maupun kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat manusia sekarang ini.

Namun satu hal yang sangat disayangkan dan menurut Bookchin telah merusak tatanan kehidupan sosial, yakni bahwa individu manusia mulai mengeksploitasi struktur hierarkis. Pengelompokan-pengelompokan dalam hierarki perlahan melahirkan tendensi mendominasi dari beberapa pihak. Salah satu fenomena yang terjadi dalam kasus gender.

Halaman selanjutnya >>>
Leonardus Nomseo