Di tengah berbagai arus pemikiran yang mengalir dalam ranah ideologi politik, liberalisme muncul sebagai salah satu pilar yang menjanjikan perwujudan keadilan dan kesetaraan. Konsepsi liberal tentang kesamaan dan kesetaraan kerap dipromosikan sebagai suatu cita-cita luhur yang mudah dipahami dan diterima, namun sering kali hanya berujung pada angan-angan belaka. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih dalam bagaimana ide-ide individu yang tampaknya egaliter ini bisa menjadi sesuatu yang jauh dari realitas, serta apa makna di balik ketidaksesuaian tersebut.
Pertama-tama, kita harus memahami bahwa liberalisme, di inti ajarannya, berakar pada konsep individualisme. Dalam pandangan ini, setiap individu dipandang sebagai entitas yang memiliki kebebasan dan hak asasi yang sama. Pemahaman mengenai kesetaraan di bawah liberalisme seringkali ditandai dengan penekanan pada hak-hak individual tanpa mempedulikan konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang melingkupi kehidupan mereka. Oleh karena itu, kesetaraan yang dimaksud bisa jadi hanya menjadi absurditas bila tidak diimbang dengan pengakuan atas perbedaan nyata antar individu.
Kedua, kita harus mengakui bahwa dalam praktiknya, liberalisme sering mengabaikan kenyataan bahwa tidak semua individu dilahirkan dengan kesempatan yang sama. Masyarakat, dengan hierarki yang terbangun dari sejarah panjang ketidakadilan, menciptakan situasi di mana kekuatan, status sosial, dan lokasi geografis memengaruhi akses individu terhadap kesempatan yang setara. Paradoks ini menggambarkan kesenjangan antara ide idealis liberalisme dan realitas yang dihadapi oleh banyak orang. Misalnya, sementara satu kelompok dapat dengan bebas mengejar pendidikan tinggi grazie zu sumber daya keuangan yang melimpah, kelompok lain mungkin terhalang oleh kemiskinan yang sistemik.
Selanjutnya, idealisme egalitarian yang ditegakkan oleh pemikir-pemikir liberal sering kali mengarah pada dilema yang lebih dalam. Mengapa selalu ada kebutuhan untuk menekankan kesetaraan jika pada kenyataannya, perbedaan tetap menjadi aspek fundamental dari kemanusiaan? Dalam pandangan liberal, kesetaraan dapat diartikan sebagai pencapaian status yang setara tanpa memahami bahwa keanekaragaman dalam masyarakat justru memperkaya pengalaman manusia. Kesamaan yang dijunjung tinggi bisa jadi malah menghapuskan kekayaan unik dari setiap individu, memproduksi homogenitas yang membosankan dan merugikan nuansa masyarakat.
Masih dalam konteks ini, perlu dicatat bahwa liberalisme sering kali beragama ideal dan politik. Politisi yang mengusung platform liberal sering kali menjadi pemicu retorika kesetaraan, namun dalam kenyataannya, mereka mungkin terlibat dalam praktek-praktek yang memperparah ketidaksetaraan. Ketika jargon kesetaraan digunakan untuk membangun citra publik, faktanya banyak kebijakan yang dibentuk justru menguntungkan elit politik dan ekonomi, mengabaikan mereka yang paling terpinggirkan. Kesetaraan menjadi sebuah alat bagi elit untuk mempertahankan kekuasaan mereka, menjadikannya lebih sebagai slogan daripada substansi.
Sebagai alternatif untuk menghadapi tantangan ini, kita harus mempertimbangkan pendekatan yang lebih holistik dalam memahami kesetaraan dan keadilan. Memberikan pengakuan terhadap keragaman dan kompleksitas status sosial individu akan membawa kita pada karakter kondisi manusia yang lebih mendalam. Dalam konteks Indonesia, di mana latar belakang budaya, ekonomi, dan sosial beragam, pendekatan liberal yang menyatakan kesamaan bisa jadi terlihat tidak relevan dan bahkan tidak menghormati sejarah dan nilai-nilai lokal.
Dengan demikian, penting untuk merangkul gagasan bahwa kesetaraan tidak hanya sekadar ide. Kesetaraan haruslah berdasar pada pengakuan dan penghargaan terhadap perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai dasar untuk membangun solidaritas sosial. Hanya dengan cara ini, kita dapat menghindari jeratan angan-angan yang dibawa oleh konsepsi liberal untuk menghadapi kenyataan bahwa kesetaraan tanpa pengertian menjadi sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
Konsepsi liberal tentang sama dan setara, ketika dilihat dengan kacamata yang kritis, mengungkapkan sejumlah kelemahan yang mendasari bagaimana ide-ide tersebut diterima di masyarakat. Mari kita berpikir lebih dalam, melampaui batas-batas sederhana dari retorika politik, untuk menjadikan keadilan dan kesetaraan sebagai tujuan yang nyata dan terukur. Hanya dengan memahami dan menghargai kompleksitas manusia, kita dapat bergerak menuju masyarakat yang lebih adil.
Pada akhirnya, pemahaman akan kesetaraan di dalam konteks liberalisme haruslah ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Realitas yang ada seringkali mengingkari romantisme kesamaan yang dibawa oleh ide-ide liberal. Kesetaraan, jika tanpa konteks kebudayaan dan sejarah, hanyalah sekedar angan. Mari kita bangun pemahaman yang lebih koheren, dan menempatkan nilai-nilai keadilan dan keanekaragaman sebagai pilar utama dalam membangun masyarakat yang lebih baik.






