Konsolidasi Kekuatan Nasionalis, Bukan Orbaisme

Konsolidasi Kekuatan Nasionalis, Bukan Orbaisme
©JBryson/Getty Images

Nalar Politik – Orbaisme, bagi @Mentimoen, tidaklah tepat jika disebut sebagai arah politik Indonesia hari ini. Alasan utamanya, pendorong dan perekatnya bukanlah kekuatan militer, melainkan yang tampil mencolok adalah konsolidasi kekuatan nasionalis.

“Yang terjadi saat ini adalah konsolidasi kekuatan kelompok-kelompok nasionalis (sebagian besar, kecuali NasDem). Yang di luar kelompok nasionalis saat ini kecil, dimotori oleh partai-partai seperti PKS. MUI juga kelihatannya malu-malu kucing, tapi pastinya ikutan ke sana,” beber @Mentimoen melalui kicauannya di Twitter.

Ia mengharapkan, dengan adanya konsolidasi kekuatan nasionalis ini, antarnasionalis tidak lagi saling sikut dalam menghadapi kelompok radikal agamais.

“Sebenarnya, pilpres lalu itu, kan, terjadi antara persaingan nasionalis vs nasionalis. Cuma masing-masing dengan menggandeng agama. Nah, kita tahu itu gak sehat juga. Karena isu-isu yang berkembang jadi isu pertentangan agama, saling mengafirkan, dan lain sebagainya.

Tentu, menurut akun yang melabeli dirinya sebagai Post-Theist Freethinker itu, ini akan berpengaruh di Pilpres 2024.

“Jika konsolidasi ini solid, maka bisa dibilang Pilpres 2024 pemenangnya hampir ketahuan siapa, yaitu kelompok konsolidasi nasionalis ini. Jika berlangsung smooth, maka bisa dikatakan, peran oposisi akan minim sekali.”

Ia memastikan, sudah tentu hal tersebut akan mengkhawatirkan banyak pihak. Misalnya, akan terjadi oligarki elite-elite yang tak tergoyahkan.

“Cuma, dalam pandanganku, kalau itu bisa smooth, dan mereka benar-benar setidaknya kerja 80 persen demi bangsa, ya okelah bisa diterima. Kalau ada 20 persen kepentingan pribadi, memang apa boleh buat.”

Yang dikhawatirkan hanyalah kalau ternyata kepentingan kelompok dan keluarga sendiri yang dikedepankan. Jika demikian, maka jadilah kasus Orba baru, seperti merebaknya bisnis anak-anak Soeharto.

“Cobalah untuk mengedepankan kepentingan umum. Kepentingan anak-anak disingkarkan dulu.”

Baca juga:

Tren tersebut, menurutnya, sukar terelakkan. Karena situasi dunia menuntut Indonesia untuk mampu bersaing.

“Selama dekade terakhir, hampir setiap hari urusannya baku hantam politik domestik. Kapan memikirkan nasib bangsa dan negara di era ketika persaingan internasional makin ketat?”

Karena itu, imbau @Mentimoen, untuk menuju Indonesia Maju, itu adalah harga yang mesti dibayar, yaitu konsolidasi politik dan melemahnya oposisi. Konsolidasi ini dinilai akan sukses jika dijalankan dengan niat yang lurus, demi kepentingan umum; adil untuk semua pihak, termasuk minoritas yang selama ini dijadikan bulan-bulanan.

“Yang bilang konsolidasi kekuatan nasionalis ini akan melemahkan HAM dan menguatkan oligarki—coba pikir, apakah selama ini, dengan oposisi main isu-isu agama, keadilan sudah ditegakkan? Apakah HAM ditegakkan? Ya, HAM para perusuh dilindungi. Tapi HAM silent majority, apalagi kelompok minoritas, kacau.”

Untuk itulah, simpulnya, jika hitung-hitung untung-rugi, lebih baik menurutnya sistem yang stabil, di mana isu-isu sehari-hari bukan melulu isu agama, tetapi isu-isu tentang bagaimana cara memajukan bangsa; bagaimana memajukan penguasaan teknologi; bagaimana menjadi bangsa yang makmur.

“Tanpa maju, kita akan mundur. Karena negara lain maju terus.” [tw]

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi