Konspirasi Itu Ada, tapi Gak Sedangkal Pemikiran Jerinx

Konspirasi Covid-19 Itu Ada, tapi Gak Sedangkal Pemikiran Jerinx
©Twitter

Konspirasi itu memang ada, tapi gak sedangkal dengan pemikiran Jerinx. Demikian Manuel Mawengkang ungkap melalui tulisannya berjudul “Jawaban Ananda Sukarlan soal Teori Konspirasi Jerinx Covid-19”.

Disebutkan Manuel, tujuan wawancaranya adalah ingin melihat bagaimana pandangan seniman terhadap pandemi global Covid-19. Dalam hal ini, Ananda dan Jerinx dipandang sama-sama sebagai seniman.

“Hipotesis awal, saya berasumsi bahwa Covid-19 adalah konspirasi. Sebaliknya, hipotesis alternatif, bahwa Covid-19 itu nyata, bukan konspirasi,” jelas Manuel.

Setelah mengorek-ngorek lebih jauh, ia akhirnya mendapatkan jawaban yang jauh lebih tajam ketimbang yang ia ekspektasikan. Ananda, menurut Manuel, berhasil menggugah dirinya lewat jawaban-jawaban beyond expectation.

“Konspirasi itu ada? Ada. Saya menuliskan hal ini dalam beberapa poin.”

Itu ia temukan berdasar paparan Ananda saat diwawancarai via WhatsApp. Kala bertanya apakah konspirasi itu benar-benar ada, dengan tegas sang narasumber mengiyakan.

“Soal konspirasi elite itu, kita mesti hati-hati. Sebab memang ada. Kalau di dunia seni ada, berarti ada di semua bidang. Bisa googling saja soal keluarga Medici yang dimulai sejak abad ke-16. Mereka bukan hanya menguasai dan mengatur aliran seni (terutama visual dan musik), tetapi juga yang bertanggung jawab memilih Paus. Kalau di tiap negara ada mafia, kenapa tidak ada di skala dunia?” terang Ananda versi Manuel.

Hanya saja, konspirasi soal Covid-19 ini, lanjut Ananda, tidak sedangkal pemikiran Jerinx. Bahwa konspirasi mengenai itu merupakan satu hal yang sangat kompleks.

“Tidak bisa disederhanakan seperti Bill Gates jualan vaksin. Ya memang, vaksin adalah satu komoditas yang sangat menguntungkan, seperti rokok dan narkoba. Tetapi vaksin (dan agama) memang lebih ampuh karena jualannya berdasarkan fear (ketakutan).”

Baca juga:

Terkait jualan ketakutan, Ananda mencontohkan bagaimana agama selalu menakut-nakuti manusia dengan cerita-cerita akhirat.

“Di agama, kita selalu ditakut-takuti oleh neraka, divaksin oleh kematian, yang sebetulnya pintu masuk ke neraka (atau surga).”

Ananda mengaku sudah melihat yang tidak ingin mematuhi “konspirasi” itu menjadi korban-korban berjatuhan. Misalnya di kasus keluarga kerajaan Spanyol, yang ratunya terkenal “bandel”.

“Saya tahu karena saya bekerja sama dengan beliau dalam bidang musik, dan keluarganya kini memang ambyar (istilah yang pas untuk keadaan sekarang). Juga kita tahu tentang Paus Johannes Paulus I yang juga bandel, kenapa tahu-tahu wafat hanya dalam 33 hari? Dan konspirasi yang paling nyata sedunia: kenapa pembunuh Presiden JFK yang bandel sampai sekarang masih Oswald padahal, kalau kita lihat dokumenternya, dia ditembak oleh beberapa orang?”

Meski berkesimpulan seperti Jerinx bahwa konspirasi itu ada, menurutnya, harus disertai dengan penjelasan komprehensif.

“Kalau saya ditanya apakah Covid-19 ini ada unsur konpirasi, saya 100 persen percaya ada. Tapi siapa, bagaimana metodenya, apa  tujuannya, siapa yang harus jadi korban, bahkan apa ini sesuai rencana mereka atau kebablasan, saya tidak bisa jawab.”

Ia pun mengharapkan warganet agar tidak ikut mengumbar ke publik lantaran kompleksitasnya. Tetapi bukan berarti pula untuk membuatnya jadi simplistik (menyederhanakan segala sesuatu).

“Intinya, makin Anda mendalaminya, makin banyak pertanyaan yang muncul. Sikap kita harus I know that I don’t know.”

Begitulah pandangan seorang seniman bernama Ananda Sukarlan kepada pewawancara Manuel Mawengkang. Tak hanya menyenggol Jerinx semata, tetapi sekaligus mengulik jauh perkara konspirasi seputar Covid-19 (tentang pendalaman lebih lanjut dari ini, bisa dibaca di “Nyambung soal Konspirasi, Meluruskan Wawancara Manuel Mawengkang bersama Saya Kemarin”).