Kontekstualitas Islam Liberal

Kontekstualitas Islam Liberal
©Portal Islam

Lahir dan hidup dalam rentetan kontroversi yang begitu panjang, kehadiran JIL (Jaringan Islam Liberal) adalah prestasi tersendiri. JIL tidak hanya beroleh tantangan dari kalangan “konservatif,” musuh konseptual yang JIL andaikan sejak awal, melainkan juga dari kalangan progresif dan modernis yang sebetulnya memiliki akar ide yang sama.

Tulisan ini akan masuk ke dalam beberapa tema yang para penentang JIL dari kalangan Islam progresif dan modernis ajukan. Sedikitnya ada tiga “tuduhan” yang kerap kali teralamatkan kepada JIL, yakni membangun literalisme baru, relativis, dan tidak membumi.

Anti-Literalisme

Tuduhan literalis yang teralamatkan kepada JIL berangkat dari pilihan bahasa yang kalangan JIL sendiri gunakan yang menyebut musuh konseptualnya sebagai kaum literalis, tekstualis, maupun konservatif. Bagi sebagian kalangan progresif, klaim ini mengandung bahaya, karena secara langsung mengandaikan bahwa literalisme adalah sesuatu yang objektif dan faktual.

Literalisme, bagi mereka, sesungguhnya tidak pernah ada, termasuk dalam tafsir keagamaan, karena antinomi, heterodoks, bahkan terkontaminasi selalu mewarnai setiap makna. Oleh karena itu, dikotomi tentang yang murni dan tidak murni menjadi sesuatu yang tidak relevan.

Namun begitu, dengan menempatkan kaum literalis di seberang gagasannya, JIL tampaknya justru berdiri pada posisi menolak klaim kebenaran literer dari mereka yang gandrung mengaku paling mengerti agama. JIL tidak dalam posisi meneguhkan literalisme, melainkan mencoba mencabik-cabiknya dengan meneguhkan pentingnya analisis kontekstual dalam setiap penafsiran agama.

Dengan mengacu pada pentingnya analisis kontekstual, maka JIL sekaligus tidak dalam posisi mengajukan klaim kebenaran absolut, yang pada akhirnya bukan penganut monisme. Salah satu capaian JIL, yang tidak generasi Nurcholish Madjid (Cak Nur) capai, adalah penegasannya terhadap pluralitas nilai.

Usaha Cak Nur untuk mencari titik temu agama-agama adalah sesuatu yang khas dari para pemikir monis. Cak Nur mengandaikan bahwa pada tingkat tertentu, semua kepercayaan akan bertemu pada satu kebenaran tunggal dan sama. Analogi Cak Nur tentang roda dan jari-jarinya secara langsung menegaskan bahwa perbedaan yang tampak pada setiap agama dan kepercayaan bersifat semu: pada tingkat esensial, sebetulnya mereka satu.

JIL justru berada pada posisi yang cukup berbeda dengan Cak Nur dalam hal perayaan pluralitas dan pluralisme. Nilai, bagi kalangan JIL, tidak seragam dan tidak mungkin diseragamkan. Setiap sesuatu selalu berada dalam kontradiksi.

Baca juga:

Yang paling mungkin kita katakan, pada kondisi ini, bukanlah bahwa kebenaran itu tunggal, melainkan kebenaran itu banyak. Setiap nilai memiliki hak untuk hidup. Setiap nilai memiliki kualitas dan takaran kebenaran sendiri yang tidak bisa kita perbandingkan (incommensurable).

Incommensurability memiliki tiga makna: incomparable (tidak bisa dibanding-bandingkan), immeasurable (tidak bisa ditakar dengan menggunakan takaran tertentu), dan oleh karenanya unrankable (tidak bisa diukur dalam tingkatan tertentu). Dalam hal ini, JIL melanjutkan dan mengembangkan proyek pembaruan yang telah Cak Nur rintis.

Pluralisme, bukan Relativisme

Komitmen JIL dan kaum Islam liberal dalam memperjuangkan kebebasan menjadi penegas bahwa mereka menolak anarkisme. Relativisme yang banyak para penentang JIL tuduhkan sesungguhnya adalah kesimpulan yang terlalu jauh terhadap konsep kebebasan. Ide kebebasan justru selalu mengandaikan adanya pembatasan yang proporsional terhadap aktivitas individu.

Perbeda-bedaan mungkin tumbuh seperti aneka warna bunga dalam taman, ketika ada jaminan bahwa, sampai batas tertentu, yang lain tidak mengganggu keberadaan mereka. Fakta bahwa negara-negara penganut paham kebebasan juga sekaligus adalah negara-negara yang paling disiplin dalam meneguhkan aturan hukum adalah bukti bahwa kebebasan justru mengandaikan pembatasan, bukan anarkisme.

Penolakan terhadap anarkisme memberi jalan bagi konsep kebebasan, seperti konsep Islam Liberal usungan JIL, untuk membedakan diri dengan relativisme. Mereka yang merayakan keragaman (pluralis) mengandaikan objektivitas nilai-nilai yang berserak.

Setiap nilai memiliki status objektif yang memungkinkan setiap orang memilih nilai yang ia yakini sebagai kebenaran. Meski setiap nilai itu objektif dan memiliki kebenaran masing-masing yang berbeda, tetapi bukan berarti tidak ada titik temu.

Fakta bahwa laki-laki adalah laki-laki dan perempuan adalah perempuan, bukan anjing, kucing, meja, sepatu atau yang lainnya adalah sebuah fakta objektif; dan bagian dari fakta objektif ini adalah bahwa ada nilai tertentu yang bisa manusia capai. Jika saya adalah laki-laki atau perempuan yang memiliki imajinasi yang memadai, maka saya bisa masuk ke dalam sistem nilai yang sebetulnya bukan milik saya.

Hal ini biasa terjadi karena ada komunikasi, lalu dengan itulah toleransi menjadi mungkin. Harmoni tidak muncul dari sesuatu yang sama, melainkan dari jalinan perbeda-bedaan.

Halaman selanjutnya >>>
    Saidiman Ahmad
    Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)