Kontemplasi

Kontemplasi
©Blogspot

Tanggal gugur satu-satu
Desember segera berlalu
Akan tumbuh angka satu
Pada tahun baru

Ihwal roda kehidupan
Kemarin itu kenangan
Hari ini harapan
Esok adalah tujuan

Setumpuk tanya
Kemarin aku siapa
Hari ini aku bagaimana
Esok aku seperti apa

Di altar-Mu berlumur homili
Aku lumpur menyelimuti
Mohon ampun diri ini
Amin

Ibu (1)

: Ema Lisa

Bekas telapak hujan kemarin sore
Masih terbaring di halaman rumah
Seperti bebutiran sengal meringkuk
Guratan-guratan halus di kernyit kening
Lebam punggung menggambar usia

Tiada aduh mengaduh gaduh
Sejak tangisku melengking bening
Pagi dan malam menempel bising
Cemas gerogoti debar jantungmu
Adalah sajak-sajak pengikat nadiku

Engkau yang tabah menenun aksara
Dengan lentik jemari nan lembut
Lantunan syair-syair syahdu
Menjadi bait-bait harapan
Pada aku yang telah menjadi kini

Terima kasih atas tetes peluh tak keluh
Atas perih peliknya menyibak takdir
Berpilin-pilin rapalan di setiap sujud
Penuntun langkah memetik nasip

Maaf atas segala silap yang menyayat
Lisan dan laku menohok rongga dada
Tiada maksud menyemai luka

Izinkanlah aku tetap memeluk
Surga di telapak kakimu
Sebagai mata angin mimpi berlayar
Semoga searah angin menuju ingin

Ibu (2)

Sebelum mentari ketuk jendela
Pukul pagi yang masih nyenyat
Tanpa keluh kesah dalam senyap
Engkau lebih dulu menyibak hari

Pada tanur keringat menggelayut
Menampi asa semangkuk angan
Menanak mimpi yang menguar
Dari bilik dada anak-anakmu

Tepat di bola mata adalah lautan
Miliaran ujud lalu-lalang berselancar
Di dermaga hati doa-doa berlabuh
Aku adalah pelaut menyelam makna

Engkau surga tempat membasu gelisa

Tempat anak-anak merebahkan kisah
Adalah nafas dalam larik-larik mimpi

Tino Watowuan
Latest posts by Tino Watowuan (see all)