Kontestasi Gerakan Komunisme Islam di Surakarta

Kontestasi Gerakan Komunisme Islam di Surakarta
┬ęDok. Pribadi

Gerakan komunisme Islam pernah menjadi gerakan sosial di negeri ini.

Apa jadinya jika kata komunisme dan Islam digabung menjadi satu: komunisme Islam, dan menjadi suatu gerakan sosial? Tentu bagi sebagian kalangan akan menolak dan menilai sangat tidak cocok serta sangat kontradiktif di antara keduanya, baik secara politis maupun ideologis.

Pada tataran ideologis, kita semua tahu kalau gerakan komunisme pengejawantahan dari ajaran Marxisme-Leninisme yang berusaha mengatur segala aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Gerakan ini didasarkan pada wawasan rasionalisme atas pertarung kelas sosial antara kaum borjuis dan kaum proletar yang berujung pada sekularisme. Islam menolak ide-ide sekularisme, di mana pengaturan dalam segala aspek kehidupan masyarakat harus didasari atau selaraskan dengan ketentuan teologis ketuhanan.

Meskipun tampak kontradiktif dalam tataran ideologi antara komunisme dan Islam, bukan berarti tidak dapat disatukan menjadi suatu gerakan sosial, dan sejarah telah mencatat hal tersebut. Buku berjudul Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942 (2020) karya Syamsul Bakri ini mencatat dan memberikan kita informasi bahwa ia pernah menjadi gerakan sosial di negeri ini: Surakarta.

Karya yang awalnya berupa disertasi doktoral di Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memberikan semacam sketsa lengkap serta memberikan gambaran yang mungkin terbilang cukup komprehensif mengenai rentetan dialektika sejarah terkait muncul dan lahirnya gerakan komunisme Islam di Surakarta dari tahun 1914 hingga 1942.

Sebagai karya penelitian doktoral yang sudah barang tentu diseminarkan dan diujikan, Syamsul Bakri cukup telaten dan serius menggali data-data terkait gerakan komunisme Islam. Data-data yang terekam dari literatur dalam buku ini digunakan Syamsul untuk membedah realitas sejarah-sosial, kebudayaan, dan keagamaan, serta dinamika ekonomi-politik yang terjadi di Surakarta sejak munculnya gerakan komunisme yang awalnya berupa gerakan Indische Sociaal Democratie Vereniging hingga pada akhirnya berubah menjadi Partai Komunisme Indonesia (PKI) di tahun 1924.

Pada awalnya, buku ini terfokus pada gerakan komunisme Islam yang dipelopori Hadji Moehammad Misbach sebagai instrumen terpenting dari gerakan tersebut di Surakarta dan beberapa tokoh Kaum Putihan Surakarta yang menyatakan diri sebagai pendukung gerakan sosial komunisme Islam mulai dari Achmad Dasoeki, Haroenrasjid dan para guru agama di Madrasah Soennijah hingga mendapat dukungan dari kaum buruh dan petani seperti, Moetakalimoen, Partoatmodjo dan Soewarno serta tokoh-tokoh lainnya.

Menurut Syamsul Bakri, penulis buku ini, gerakan komunisme Islam yang digagas oleh Misbach dan pendukungnya berbeda dengan para pendahulunya seperti Tan Malaka yang mau menyuguhkan terbentuk dan tergabungnya dalam Pan-Islam dan komunisme, atau gagasan Marco yang menawarkan sosialisme dan Islam, maupun gagasan Tjokroaminoto yang berusaha mengharmonikan antara ideologi sosialisme dan Islam dengan perspektif perjuangan umat.

Gerakan komunisme Islam dalam gagasan Misbach ini diletakan pada tataran gerakan sosial atau social movement dalam melawan kaum kapitalisme dan pemerintahan kolonial Belanda. Ini memerankan Islam sebagai ideologi perlawanan, sementara komunisme hanya sebagai wadah dan alat dalam menggerakan komunitas masyarakat. Oleh karenanya, ideologi Islam menjadi arena pertarungan antara kaum kapitalisme dan Pemerintahan Kolonial Belanda.

Dalam sistem politik represif, hegemonik, sekaligus otoriter, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Ali Syariati bahwa Islam perlu diletakkan pada tataran suprastruktural ideologis politis dalam rangka membentuk kebiasaan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan.

Bagi Syamsul Bakri, gerakan komunisme Islam yang terjadi di Surakarta juga harus dilihat sebagai perspektif dan alat perjuang suprastruktural dalam merealisasikan Islam dengan jalan komunisme; membebaskan kesengsaraan rajyat dari belenggu ketertindasan dari kaum kapitalisme dan kolonialisme (hal.21).

Hirarki dan Strategi Gerakan Komunisme Islam

Di buku ini, Syamsul Bakri memunculkan hierarki gerakan komunisme Islam di Surakarta mulai dari munculnya gerakan atau paham sosialisme di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang memunculkan gerakan revolusi industri di Inggris 1750-1850 dan revolusi sosial di Perancis 1789 serta kemenangan revolusi Bolshevik di Rusia 1917 sebagai ideologi Marxisme-Leninisme yang kemudian dikenal dengan sebutan komunisme hingga munculnya gerakan tersebut di Surakarta yang digagasan Hadji Moehammad Misbach dan pendukungnya.

Ada tiga bentuk strategi Misbach yang menopang terbentuknya gerakan di Surakarta sebagai gerakan membawa pada dunia yang lebih ideal dan berkeadailan serta berkemakmuran.

Pertama, jurnalisme revolusioner. Bagi Syamsul, terbentuknya gerakan tersebut di Surakarta tak bisa lepas dari jurnalisme revolusioner yang berawal dari perkenalan Misbcah dengan para jurnalis yang sangat anti pemerintah seperti Semaoen, Fachrodin, Marco Dasoeki, Sismadi dan tokoh lainya.

Semua para jurnalis ini terkabung dalam Jurnalis Bumiputra dimana dalam pelbagai surat kabar seperti, Islam Bergerak, Medan Moeslim, Doenia Bergerak dan Sinar Djawa, serta Ra’jat Bergerak (hlm.302). Hampir semua kabar ini membuat tentang anjuran untuk berjuang melawan kaum kapitalisme dan pemerintah Kolonial Belanda.

Kedua, menggerakkan kaum buruh dan kaum tani. Pertarungan dan perjuangan kelas sosial juga menjadi penopang gerakan tersebut di Surakarta di mana dalam hal ini kaum buruh dan kaum petani diajak untuk melawan bersama. sebagaimana diketahui masyarakat Surakarta abad ke-20 M hampir mayoritas bekerja menjadi buruh dan petani, kehidupannya oleh pihak kolonial dianggap seperti binantang, sehingga mau tidak mau harus mengadakan perlawanan secara serentak di Surakarta (hlm.306)

Ketiga, mendekatkan umat Islam dengan komunisme. Bagi Syamsul, Misbach dilihat agak berbeda dengan Samaoen dan Tan Malaka ketika memperkenal komunisme Islam pada masyarakat Islam. Kalau Samaoen dan Tan Malaka memberikan warna pada serikat Islam (SI), maka Misbach dengan pendukungnya mendekatkan umat Islam pada komunisme, dengan cara memberikan warna Islam pada gerakan komunisme.

Misalnya kita simak kutipan tulisan Misbach “Sesoeranggehnja karangan saja hal Islamisme-komunise itoe adalah penting bagi orang jang dirija mengakoe Islam dan communist jang sedjati, ja’ni soeka mendjalakan apa jang telah diwajibkan kepada mereka olih agama Islam dan communist” (hlm.310).

Dalam konteks ini, kontestasi gerakan Komunisme Islam di Surakarta yang digagas Misbach sepertinya sangat tampak berusaha memperkenalkan komunisme pada masyarakat dengan mengindentifikasi sebagai Muslim sejati dengan keyakinan bahwa komunisme memiliki cita-cita yang sama dengan Islam, atau dengan kata lain komunisme juga bersifat Islami.

Buku yang ditulis Syamsul Bakri ini dapat dikatakan telah mengisi ruang kosong dan menjadi melengkap, dari berbagai karya-karya ilmuwan dan peneliti, baik outsider maupun insider, dalam membaca ulang wacana kritis tersebut.

Dan, tentu saja, kontestasi gerakan komunisme Islam di Surakarta ini semacam menjadi anti-tesis dari wacana gerakan komunisme yang selalu diidentikkan dengan komunisme ateistik menjadi gerakan komunisme teistik. Gitu.

    Syahuri Arsyi