Koran Terakhir

“Eh gendut, lu anak mana?” tanya salah seorang dari mereka dengan mata melotot.

“Gue belum pernah liat lu jualan di sini!” sergah satu temanya lagi.

Dani hanya terdiam, sedikit cemas, tapi ia berusaha menjawab.

“Iya, gue baru dateng naik bus ini, tadi gue ke bawa ke sini,” jawabnya, berusaha tenang, sambil menatap mereka dengan senyum.

“Ohh… gitu, ya, udah, sekarang lu balik aja lagi, nanti kalau bus ini jalan lu balik, ya!” kata salah seorang di antara mereka yang badannya agak kurus.

Dani mengangguk setuju dan mengiyakan permintaan mereka. Percakapan yang sempat membuat jantungnya dag dig dug itu usai. Dani menghela napas panjang.

“Alhamdulillah, untung aja,” bisik Dani dalam hati. Ia pun mulai tenang dan berpikir mencari jalan untuk kembali pulang. Di pikirannya, tidak mungkin ia menunggu bus yang sama untuk jalan pulang, karena ia tidak tahu kapan bus ini akan kembali ke tempat di mana ia naik tadi.

Terminal mulai ramai. Sinar matahari yang menerobos lewat jendela bus terasa amat menyengat kulit. Dani masih memasang mata. Sesekali kepalanya menjulur ke luar pintu bus.

Di antara gelisah yang kian merebak, matanya menangkap satu bus dengan nomor yang sama seperti bus yang ia naiki ada yang siap beranjak meninggalkan terminal itu. Sekejap, kaki lincahnya melompat dari bus dan berpindah. Tergesa-gesa, Dani merapikan koran-koran di tangannya.

Perasaan lega menyeruak. Sebentar lagi, perjalanan menuju tempatnya biasa mangkal akan sampai. Sembari menunggu, ia pun menawarkan koran-korannya yang masih tersisa. Barangkali masih ada rezeki di bus ini, pikirnya.

Sebelum azan zuhur menggema, Dani telah sampai di tempatnya semula. Kedatangannya disambut pertanyaan dari teman-temannya yang merasa kehilangan—tak melihat Dani kerkeliaran menjajakan koran dari pagi.

Masih tersisa satu koran di tangannya. Wajahnya tampak lelah, namun ada gores puas yang bertengger di sana.

Jari-jemarinya sibuk menghitung pendapatan yang mampu ia kumpulkan hari ini.

Lumayan, bisiknya, seutas senyum menghiasi bibirnya. Lembar-lembar uang kertas lusuh dan beberapa keping uang logam di tangannya cukup untuk menebus obat Emak, makan siang, dan sisanya untuk ia tabung.

Waktu zuhur telah berlalu beberapa menit. Dani segera jalan menuju pulang. Ia harus pulang lebih cepat, karena Emak lagi kurang sehat. Sudah tiga hari ini Emak sakit. Di rumah, hanya Lastri, adik satu-satunya, yang menemani. Dan Lastri pun harus absen sekolah lantaran menjaga Emak.

Langkahnya kian cepat. Di kepalanya, silih-berganti hadir bayangan Emak, Lastri, dan Bapak. Ya, Bapak yang kini tak lagi ada.

Halaman selanjutnya >>>
Effra S. Husein
Latest posts by Effra S. Husein (see all)