Korupsi Adalah Sebuah Kebenaran

Korupsi Adalah Sebuah Kebenaran
Korupsi Adalah Sebuah Kebenaran

Apa gerangan yang membuat Pemuda X jadi leluasa melakukan korupsi besar-besaran bin terang-terangan itu?

Seorang pemuda terngiang nasihat orang tuanya, “Bagaimanapun juga, orang tua adalah prioritas utama dari apa pun prioritas yang kamu punya!”

Tersebutlah seorang Pemuda X sukses di kehidupan yang serba-materialistik ini. Ia berhasil menjadi kaya raya. Ia serba-kecukupan.

“Ingin makan tinggal bilang. Ingin berkendara tinggal bilang. Ingin mandi tinggal bilang. Ingin apa pun tinggal bilang,” ungkap orang suatu ketika.

Benar-benar suatu pandangan yang kontras dari kehidupan orang-orang miskin. Kehidupan orang miskin adalah kehidupan yang sama-sama ‘tinggal bilang’ tapi perlu membilang-bilangkan kerja keras. Entah sampai keberapa kali bilangan baru bisa mendapatkan keinginan.

Iya, sayangnya Pemuda X itu divonis korupsi oleh pengadilan.

Dulunya Pemuda X setiap hari dielu-elukan. Kini hanya bisa mengeluhkan. Dulu, ia memang kaya raya. Kini, tak sedikit pun orang meliriknya. Ia meringkuk sendirian. Tanpa teman, tanpa ucapan, dan ‘tanpa kebohongan’.

Tapi bukan karena nafsunya untuk menumpuk harta sehingga ia disebut korupsi oleh KPK. Justru karena ke-manutan-nya, kejujurannya, dan kebaikannya. Iya, kata yang selama ini dianggap baik itu ternyata sangat peyoratif.

Setelah ditelusuri lebih dalam, Pemuda X itu ternyata seorang yang sangat memprioritaskan orang tuanya. Ia pernah berjanji, sampai akhir hayatnya, ia akan bersikukuh untuk tak melakukan ‘kebohongan besar’.

“Benar! Saya diajari orang tua supaya jangan berbohong,” ucap Pemuda X saat diinterogasi oleh petugas KPK.

Ternyata, budaya untuk tak melakukan kebohongan itu ditanamkan oleh orang tuanya sendiri. Orang tuanya, dengan kedalaman ilmu-laku-nya, menyarankan supaya ‘lebih baik jujur daripada ajur’.

Lalu sebenarnya, benarkah ada sisa-sisa kebohongan yang masih tersembunyi pada Pemuda X itu? Kenapa justru karena jujur dia bisa digerebek?

Benar sekali. Sesuai dengan apa yang dibayangkan, ia melakukan korupsi secara terang-terangan bin besar-besaran.

“Jadi, korupsi yang terang dan besar,” ucap Jubir KPK ketika ditanyai oleh wartawan.

Orang-orang pun kemudian mengatakan, “Mungkin semacam korupsi yang ‘betulan’ itu, yang ‘kebetulan’ ketahuan.”

“Mau sedih takut ditangkap KPK. Mau bahagia juga takut dosa. Kok ya ambigu begini?” celetuk yang lain.

“Tapi, apa gerangan yang membuat Pemuda X jadi leluasa melakukan korupsi besar-besaran bin terang-terangan itu?” sahut yang lain.

“Mungkin Pemuda X itu memakai diktum filsafat korupsi yang terkenal ampuhnya. Sehingga ia sulit untuk ditangkap,” ucap Pak Waskita, salah satu ahli filsafat sekaligus pengamat politik.

Pak Waskita kemudian menambahkan, “Filsafat korupsi yang dipakainya, yaitu jika mau melakukan korupsi, jangan kecil-kecilan. Itu justru merugikan negara. Selain itu, ada juga, jika hendak korupsi, jangan sendirian. Harus berjamaah. Harus rapatkan saf dan barisan.”

Salah satu kolega Pemuda X juga mengatakan hal yang sama, “Sebenarnya, Pemuda X itu tak kelihatan salah-salah amat. Sebab kala itu, sebelum ia mendekam di balik jeruji, saya pernah bertanya padanya, apakah uang yang selama ini tidak haram bagimu? Jawabannya sangat mak gubrak. Ia mengatakan bahwa uang hasil korupsinya selama bekerja di salah satu dinas tidak ada hukumnya. Justru malah lebih dekat pada kehalalan.”

“Bagaimanpun juga, uang itu adalah halal,” ucap pemuda itu.

Awalnya, kolega yang ternyata patuh dalam beragama itu bak disambar petir saat mendengar ucapan Pemuda X padanya. Namun, akhirnya, ia tak bisa mengelak juga. Kolega itu diberi arahan oleh Pemuda X dengan sangat telaten.

“Setelah diberi arahan, akhirnya ia mengamini juga ‘hukum kehalalan korupsi’ yang dirumuskan oleh Pemuda X itu,” ucap Jubir KPK.

Sebenarnya, orang tua Pemuda X itu sangat bergembira ketika nasihatnya didengar anaknya. Bagaimana tidak, lah wong orang tuanya yang tinggal di desa selalu mendapat kiriman. Bahkan, bukan hanya setiap bulan, dalam satu minggu juga ada saja yang dikirim.

Ketika ditanya petugas KPK, Pemuda X itu mengatakan, “Seperti kata ayah dan ibu bahwa orang tua adalah prioritas. Makanya, uang ini aku kasihkan ke ayah ibu terlebih dahulu. Baru nanti kolega-kolegaku.”

***

Angin yang semerimbit menyisir-nyisir rambut tiba-tiba berhenti begitu saja. Udara begitu pengap. Isi otak bergerak-gerak terasa ada yang ingin keluar. Tapi mulut serasa terkunci.

Pemuda X dilanda kebingungan tingkat tinggi. Hendak mengatakan ‘kebenaran’, namun mengatakan ‘kebenaran’ yang mana? Karena proses ‘korupsi’ adalah sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘memprioritaskan orang tua’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘jujur’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘berbagi’ juga sebuah ‘kebenaran’.

Sungguh, hanya keambiguan yang ada.

Takdir seseorang memang tak ada yang tahu. Tak ada yang memberitahu. Dan kalau ada yang tahu, pasti hanya ‘sok tahu’ saja.

Pemuda X adalah anak yang dilahirkan susah payah itu bertumbuh besar. Sangat besar. Kebesarannya tak tertandingi.

Banyak orang berdecak kagum karena perilakunya yang ‘sangat jujur’ kepada siapa pun. Temasuk jujur kepada kepolisian yang kebetulan menangani kasusnya. Kepada KPK yang ikut ambil bagian dalam kasusnya. Dan, kepada Kejaksaan Agung yang wajib ambil bagian dalam kasusnya.

Sayup-sayup khotbah Jumat terdengar, “Memang, orang harus saling jujur. Apalagi saling tolong-menolong dalam kebaikan untuk kebersamaan.”

Tak tahan dengan keambiguan dan kemuakan, akhirnya, di suatu malam yang dingin, Pemuda X menuliskan mantra-mantranya. Mantra yang dipercayainya selama ini. Mantra yang membuat ia sadar. Mantra yang membuat ia menguasai segalanya. Mantra yang juga membuat dirinya jatuh dalam kubungan keambiguan.

Ia juga sadar, makin hari ingatannya makin tak baik saja.

Di balik jeruji besi, ia menuliskan kata itu dengan penuh perasaan, “Urip iku sawang sinawang.”

    Muhammad Khasbi

    Mahasiswa IAINU Kebumen | Kader PMII | Penggagas Institut Literasi Indonesia

    Latest posts by Muhammad Khasbi (see all)