Korupsi: Dosa dan Penyangkalan Iman Kristiani

Korupsi: Dosa dan Penyangkalan Iman Kristiani
©Dok. Pribadi

Korupsi: Dosa dan Penyangkalan Iman Kristiani

Indonesia masih terjerat dalam lingkaran korupsi yang kompleks dan mengakar. Berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, swasta, hingga lembaga penegak hukum, tak luput dari praktik korupsi.

Hal ini diperparah dengan lemahnya penegakan hukum. Berdasarkan IPK yang dirilis Transparency International, Indonesia masih tergolong negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Sejak diluncurkan pertama kali pada 1995, Indonesia merupakan salah satu negara yang selalu dipantau situasi korupsinya secara rutin.

Pada 2022, Indeks Persepsi Korupsi (CPI) menunjukkan bahwa Indonesia terus mengalami tantangan serius dalam melawan korupsi. “CPI Indonesia tahun 2022 berada di skor 34/100 dan berada di peringkat 110 dari 180 negara yang disurvei.  Skor ini turun 4 poin dari tahun 2021, atau merupakan penurunan paling drastis sejak 1995,” ungkap Wawan Suyatmiko, Deputi Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia.

Dengan hasil ini, Indonesia hanya mampu menaikkan skor CPI sebanyak 2 poin dari skor 32 selama satu dekade terakhir sejak 2012. Situasi ini memperlihatkan respons terhadap praktik korupsi masih cenderung berjalan lambat bahkan terus memburuk akibat minimnya dukungan yang nyata dari para pemangku kepentingan (Indonesia, 2023).

Korupsi ibarat penyakit kanker yang mengikis sendi-sendi kehidupan berbangsa dan tidak bisa lepas dari ranah moral dan spiritual. Dalam perspektif Kristiani, korupsi bukan hanya merupakan pelanggaran hukum, namun merupakan dosa yang mengandung makna pengingkaran iman, karena praktik korupsi bertentangan dengan nilai-nilai fundamental yang diajarkan Yesus Kristus.

Mengapa Korupsi Merupakan Dosa?

Korupsi berasal dari kata latin “corruptio” atau “corruptus” yang berarti kerusakan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, dan tidak bermoral kesucian. Dan kemudian muncul dalam bahasa Inggris dan Perancis “Corruption” yang berarti menyalahgunakan wewenangnya, untuk menguntungkan dirinya sendiri (Kristianto, 2024).

Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Korupsi didefinisikan sebagai “setiap orang yang dengan sengaja atau patut diduga dengan maksud untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, melawan hukum, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang karena jabatannya atau karena kedudukannya, membahayakan keuangan negara atau perekonomian negara”.

Baca juga:

Hakikat  daripada tindak pidana korupsi adalah suatu tindakan yang salah dan tidak benar. Dalam ajaran agama Kristen, tindak pidana korupsi adalah perbuatan dosa, jauh dari kebenaran atau Tuhan, dan tindakan pemberontakan atau perlawanan terhadap Tuhan.

Pelaku tindak pidana korupsi melakukan perbuatan salah dan tidak benar. Pelaku tindak pidana korupsi melakukan perbuatan korupsi tidak hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap Tuhan Pencipta alam semesta. Korupsi atau kejahatan sama saja dengan dosa (Citranu, 2020).

Dari  pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah perbuatan jahat, salah, dan tidak benar karena menyalahgunakan kekuasaan atau kepercayaan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dan merugikan orang lain. Apabila  seseorang melakukan perbuatan korup tersebut, maka ia terjerumus dalam dosa, karena korupsi jauh dari kebenaran atau Tuhan, melanggar, dan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual atau ajaran iman Kristiani.

Dalam ajaran Katolik, korupsi dianggap sebagai dosa. Hal ini dikarenakan, pertama, melanggar Hukum Allah. Kitab Suci dengan jelas melarang pencurian, penipuan, dan ketidakadilan yang terdapat pula dalam sepuluh perintah Allah. Korupsi merupakan bentuk dari pelanggaran hukum Allah  dan dosa.

Kedua, merusak keadilan dan kepercayaan. Kitab suci dengan jelas melarang korupsi dan segala bentuk perilaku tidak adil. Dalam Ulangan 16:19, Allah berfirman, “Janganlah engkau menerima suap, sebab suap membutakan mata orang bijaksana dan memutarbalikkan keadilan.” Korupsi merampas hak-hak orang lain dan merusak rasa keadilan dalam masyarakat. Hal ini dapat memicu kemiskinan, kesenjangan sosial, dan hilangnya kepercayaan pada pemerintah dan institusi.

Ketiga, menyimpang dari kasih. Kasih adalah inti dari iman Kristiani. Korupsi menunjukkan sikap mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kebutuhan orang lain. Hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus untuk saling mengasihi.

Kempat, menindas orang lain. Korupsi merugikan rakyat, terutama yang miskin dan rentan. Koruptor menguras sumber daya publik dan menghambat pembangunan, sehingga memperparah penderitaan orang lain. Hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus yang selalu membela kaum tertindas dan menyerukan kepedulian terhadap sesama.

Jadi korupsi dikatakan sebagai dosa karena memberontak atau menentang melanggar hukum Allah, merusak keadilan dan kepercayaan, menyimpang dari kasih, dan menindas orang lain serta jauh dari kebenaran itu yaitu Yesus Kristus.

Halaman selanjutnya >>>