Kosmopolitanisme, Membentuk “Kesadaran” Masyarakat Dunia

Kosmopolitanisme, Membentuk “Kesadaran” Masyarakat Dunia
©Populis

Masyarakat dunia adalah satu konsep yang menginginkan kehidupan manusia tidak terbatas dengan batas-batas territorial atau batas negara. Masyarakat dunia erat kaitannya dengan Kosmopolitanisme, yaitu paham yang membahas tentang persamaan antara semua individu. Kosmopolitanisme menekankan kepada keterhubungan kepada semua kehidupan manusia, yang tentunya melampaui batasan nasional dan budaya setiap masyarakat dunia.

Konsep mengenai Kosmopolitanisme dapat kita temui pada kehidupan zaman Yunani kuno. Di mana dalam filsafat ditemui konsep kosmopolis, yaitu kota dunia atau manusia yang menyadari bahwa dirinya merupakan masyarakat dunia yang tidak dibatasi dengan kehidupan budaya, agama, serta nasionalisme masing-masing negara.

Masyarakat kosmopolis dalam pandangan Reza A.A. Watimena ialah sebagai makhluk semesta, yaitu makhluk yang tidak hanya melihat dirinya sebagai manusia, melainkan sebagai makhluk yang tidak dipisahkan dengan alam semesta.

Dalam pandangan filsafat Stoa bahwa setiap manusia memiliki alasan untuk tunduk dan patuh terhadap keyakinan dan kebudayaannya masing-masing. Tetapi bagi kaum Stoa, memiliki kebijaksanaan dalam memandang perbedaan tersebut bukanlah warga negara mana pun, melainkan ia adalah warga dunia yang sejati. Sehingga kaum Stoa menerapkan paham tersebut dengan tidak membedakan sikap terhadap budak dan musuh yang dikalahkan.

Kosmopolitanisme diyakini mampu menjadi satu paham masyarakat dunia, yang melampaui batas-batas masyarakat dunia, mampu menghidupkan kehidupan inklusivitas global dan menentang segala ketidakadilan serta ketidaksetaraan. Gagasan mengenai Kosmopolitanisme tentunya bukanlah gagasan yang paling baik, namun dengan konsep ini, mampu memberikan kesadaran kepada seluruh manusia bahwa pada dasarnya seluruh manusia satu.

Walaupun demikian, gagasan kosmopolitanisme tentunya masih banyak mendapatkan kritik. Sebab kosmopolitanisme dianggap sebagai ide yang naif karena mengabaikan kepentingan dan realitas geopolitik yang terjadi antarnegara di dunia yang tentunya menyisipkan kepentingan nasional negaranya.

Tetapi inilah tugas dan kewajiban kita sebagai masyarakat dunia untuk terus mengampanyekan kehidupan tanpa perang, tanpa eksploitasi dan sebagainya, sehingga tercipta kedamaian abadi bagi seluruh kehidupan umat manusia.

Menyatu dengan Kehidupan Multikultural

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan paradigma kepada masyarakat dunia. Di sisi lain, ada traumatic yang berkepanjangan bagi negara-negara di dunia yang diakibatkan perang dunia yang berkepanjangan. Akhirnya teknologi dimanfaatkan untuk membentuk kekuatan militer sebuah negara untuk membentengi kedaulatan negara.

Baca juga:

Dampak dari perang dunia, ada beberapa negara yang merasa menjadi pemenang dan akhirnya menjadi negara adikuasa, yang seenaknya mengintimidasi negara-negara yang secara kekuatan militer lemah. Bahkan negara-negara tersebut menjadi otak dan pemasok terjadinya invansi terhadap negara lain.

Menurut Imanuel Kant, untuk menciptakan kehidupan yang multikultural terhadap perdamaian, maka harus mendukung gagasan perdamaian abadi melalui kerja sama internasional dan hukum Kosmopolitan. Masyarakat multikultural akan terwujud ketika manusia yang menjadi pimpinan-pimpinan negara menyadari dirinya sebagai masyarakat dunia, yang mampu menyadari hakikat manusia tanpa dibatasi kepentingan negara.

Kehidupan multikultural dalam konsep kosmopolitanisme tentunya membutuhkan pemahaman dan penghargaan yang besar terhadap keberagaman budaya. Keberagaman inilah yang terus dipupuk dan ditingkatkan kesadarannya untuk menghasilkan manusia yang memiliki pemahaman di luar dari batas-batas budaya negaranya.

Kosmopolitanisme di Masa Depan

Perdamaian dunia akan terwujud apabila semua memiliki kesamaan dalam berpikir bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kepentingan negara. Negara sering kali mengambil kesimpulan yang itu dianggap sudah mewakili kepentingan rakyatnya. Pada akhirnya, kebijakan yang diambil dan diangap bermasalah justru itu merugikan masyarakatnya sendiri.

Ke depan, kosmopolitanisme memiliki banyak agenda, baik itu berkaitan perdamaian, hak asasi manusia, lingkungan, dan sebagainya patut kita dorong agar menghasilkan kehidupan dunia yang aman, damai, tenteram, dan sentosa.

Kosmopolitanisme menawarkan perubahan dengan menghubungkan kehidupan global. Beberapa isu yang sangat urgen yang dengan konsep kosmopolitanisme dianggap mampu memberikan perubahan.

Pertama ialah hak asasi manusia. Kosmopolitanisme mendorong agar hak asasi manusia diseluruh dunia mendapatkan perlindungan oleh masyarakat dunia tanpa mementingkan batas-batas negara. Misalnya kasus Palestina dan Israel, Rusia dan Ukraina, perang saudara di semenanjung Arab yang dicekoki oleh negara di luar Arab dan sebagainya.

Kedua ialah, kosmopolitanisme mendorong agar terjadinya Kerjasama secara internasional dalam menghadapi perubahan iklim global. Negara-negara dunia harus bersepakat dan komitmen untuk mengurangi emisi gas yang berdampak menipisnya lapisan ozon pada bumi.

Baca juga:

Pembangkit listrik yang dianggap menjadi pemasok perubahan lingkungan untuk dialihkan agar menerapkan konsep ramah lingkungan dan sebagainya. Tanpa adanya kesadaran sebagai masyarakat dunia ini tentunya hanya sebuah angan-angan saja.

Ketiga ialah, peran gama sebagai entitas peradaban umat manusia. Peran agama untuk mendorong dialog agar tercipta pemahaman saling menghormati satu sama lain, akan mengurangi konflik yang terjadi atas nama logos keyakinan. Agama juga memiliki peran dalam menangani krisis kemanusiaan yang terjadi agar tidak terjadi lagi konflik dan bencana global.

Olehnya itu, cita-cita kosmopolitanisme untuk menghadirkan kehidupan perdamaian pada masyaralat dunia teruslah kita dorong. Misalnya melalui organisasi dunia, organisasi masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah yang memiliki akses besar di luar sana, dapat menjadi lokomotif.

Dengan demikian, kehidupan dunia yang ama dan damai akan tercipta kalua masyarakatnya mampu memiliki kesadaran kesamaan yang melampaui kepentingan pribadi dan negara.

Asman