Kriminalitas dan Determinisme Ekonomi

Kriminalitas dan Determinisme Ekonomi
©VTA

Beberapa hari ke belakang, kita dikagetkan dengan suatu kejadian yang membuat kita tidak habis-habisnya menggelengkan kepala. Dua orang remaja di Makassar melakukan penculikan dan pembunuhan akibat tergiur oleh harga organ tubuh yang mahal—tidak dapat dimungkiri bahwa harga dari setiap organ tubuh yang ada di tubuh seseorang memiliki nilai jual yang fantastis.

Perdagangan organ tubuh manusia tidak hanya dilakukan dalam rantai pasar yang sempit, namun di luar dari bayangan kita, bahwa perdagangan organ tubuh telah sejak lama beroperasi di dalam rantai perdangangan berskala internasional. Dan, beberapa di antaranya menyasar anak-anak karena dianggap sebagai korban yang potensial dan masih memiliki organ tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa.

Anak-anak dianggap sebagai target yang mudah untuk diculik karena tidak perlu membutuhkan usaha yang cukup keras agar ia (anak-anak) dapat termakan bujuk-rayu dari pelaku penculikan dan perdagangan organ tubuh manusia. Berbekal iming-iming makanan atau mainan, beberapa anak dapat dengan mudah untuk diangkut menuju suatu lokasi yang telah ditentukan, dan tidak jarang—beberapa orang di sekitarnya—tidak begitu memperhatikan bahwa terdapat tetangga atau anggota komunitasnya yang hilang.

Yang menjadi permasalahan di dalam pendeteksian dini yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah para pelaku yang terkadang merupakan seseorang yang tidak lagi asing bagi anak tersebut, atau bahkan kerabat dekat yang memiliki maksud jahat, sehingga memanfaatkan kedekatan tersebut sebagai akses untuk memuluskan rencana-rencana yang sudah ia tentukan.

Determinisme Ekonomi dan Materialisme Hedonistik Membayangi Aksi Penculikan

Motif ekonomi merupakan salah satu aspek yang tidak jarang menjadi salah satu pemicu untuk suatu tindakan kriminal, misalnya penculikan dan penjualan organ tubuh. Di tengah tuntutan ekonomi yang makin ketat dan harga dari kebutuhan pokok yang makin meningkat, angka pertumbuhan aksi kriminalitas juga meningkat.

Di Indonesia, angka kejahatan di tahun 2022 meningkat 7,3% jika dibandingkan tahun 2021. Diperoleh total kasus sebanyak 276.507 kasus kejahatan yang terjadi selama tahun 2022. Apabila kita rata-ratakan, maka akan terjadi 31,6 kejahatan setiap jamnya di Indonesia.

Apabila kita merujuk pada kasus penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang remaja di Makassar, tentu saja kita akan melihat bahwa mereka tergiur oleh harga organ tubuh manusia yang mahal. Mereka diiming-imingi oleh informasi yang mereka peroleh dari internet—ginjal yang dihargai sebesar 80.000 USD membuat mereka kehilangan kesadaran (manusiawi) dan terseret ke dalam reduksi yang bersifat materialistik sehingga menjadikan manusia sebagai objek yang hanya diukur berdasarkan kuantitas atau harga-harga dari organ tubuhnya.

Korban yang dipandang sebagai target yang paling mudah untuk diperdaya agar memenuhi tujuan-tujuan yang harus terpenuhi supaya berhasil memperoleh uang tersebut, menyebabkan kedua pelaku mengabaikan nilai-nilai humanistik.

Baca juga:

Lantas apakah kita mengaitkan permasalahan hedonisme, materialisme, dan determinisme ekonomi pada kasus yang baru saja terjadi? Tentu saja kita tidak dapat secara utuh untuk mengorelasikan ketiga hal tersebut ke dalam satu bingkai kasus pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang remaja di Makassar tersebut, namun kita dapat berkaca pada beberapa aksi kriminal lainnya yang melibatkan tindakan-tindakan penculikan dan manipulasi yang didasari oleh hedonisme, materialisme, dan determinisme ekonomi.

Beberapa tindakan kriminal, khususnya penculikan, dilakukan berdasarkan tuntutan dan himpitan ekonomi yang menimpa kehidupan seseorang. Tidak jarang keadaan ekonomi yang tidak stabil dapat disebabkan oleh aktivitas hedonisme atau bahkan pola pikir yang keliru dalam memandang manusia sebagai objek eksploitasi yang bernilai ekonomis.

Setiap bagian dari tubuh manusia—bahkan kotoran manusia sendiri memiliki nilai ekonomis yang dapat digunakan sebagai pupuk bahkan biogas—yang potensial akan memiliki nilai yang tinggi dalam konteks perdagangan.

Akan tetapi, tindakan ini tidak dapat dibenarkan. Komodifikasi organ tubuh manusia sebagai aset yang diperjual-belikan merupakan cara pandang ekonomi yang sudah tentu akan melanggar nilai-nilai kebaikan tertinggi seorang manusia.

Secara filosofis, kekeliruan cara pandang materialisme hedonistik tersebut adalah potensi yang cukup berbahaya bagi seseorang. Ketika ia tidak lagi mampu untuk menghasilkan uang melalui metode-metode yang legal, tidak jarang beberapa di antaranya akan melakukan aksi ilegal agar dapat menghasilkan uang dalam kurun waktu yang relatif singkat dan memberikan nilai uang yang banyak. Berpikir secara materialis sudah tentu akan membentuk pandangan bahwa manusia merupakan susunan materi yang kemudian secara nyata dapat kita lihat dan ada.

Akan tetapi, manusia tidak dapat kita golongkan ke dalam nilai ekonomis, walaupun pada dasarnya manusia memiliki kuantitas di setiap bagian tubuhnya. Nilai ekonomis tersebut dapat kita sebut sebagai Forbidden Pricing atau Intrinsic Factorial yang semestinya tidak dapat diperjual-belikan dengan alasan apapu. Nilai tersebut ditetapkan—dengan tujuan visualisasi—bahwa setiap orang layak atau perlu untuk menjaga apa yang sudah mereka miliki atau melekat pada dirinya sebagai aset yang paling berharga, bukan sebagai aset yang dapat diperdagangkan.

Tetapi, sangat disayangkan bahwa hal-hal tersebut dipergunakan untuk hal yang keliru dan beberapa orang tidak menghiraukan dampak yang dapat terjadi apabila kehilangan salah satu organ vital yang ia miliki hanya demi nilai tukar yang dihasilkan untuk menutupi tingkat konsumsi mereka yang tinggi.

Salah satu teori yang berkaitan dengan nilai moral hedonisme—utilitarianisme yang mengkehendaki segala aktivitas yang paling memberikan keuntungan atau kesenangan secara maksimal dan dianggap sebagai perilaku yang paling baik—bertendensi menolak tindakan tersebut, apalagi dengan memanfaatkan manusia sebagai aset yang dapat dikonversi ke dalam nilai tukar.

Halaman selanjutnya >>>
Angga Pratama