Kualitas Calon Presiden dan Elektabilitas Partai Politik

Kualitas Calon Presiden dan Elektabilitas Partai Politik
©SMRC

Apakah partai politik lebih berpengaruh daripada kualitas calon presiden dalam pemilihan umum?

Nalar Politik – Dua setengah tahun setelah Pemilihan Umum 2019, nyaris tidak ada perubahan besar terhadap peta kekuatan partai politik menurut dukungan pemilih saat ini. PDIP, misalnya, meski masih mendapat dukungan paling besar sebagai partai penguasa, temuan survei opini publik nasional Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) malah memperlihatkan gejala penurunan.

“SMRC telah melakukan survei pasca-pemilu (2019) secara tatap muka. Pada Maret 2020, PDIP mendapat 25,9% suara, dukungan publik. Di survei terakhir, September 2021, PDIP mendapat 22,1%. (Trennya) cenderung menurun,” kata Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, dalam webinar dan rilis survei SMRC bertajuk Partai dan Tokoh Calon Presiden: Kecenderungan Sikap Pemilih Menjelang 2024, Kamis (7/10).

Gerindra pun demikian. Pada Maret 2020, partai berlambang kepala Burung Garuda ini mendapat 13,6% dukungan sebelum terjun ke 9,9% di survei September 2021, membuntuti Golkar dan PKB yang masing-masing memperoleh 11,3% dan 10% atau sedikit menguat dari survei Maret 2020 (8,4% dan 7,8%).

Pada periode yang sama, kecenderungan menguat juga terlihat di sisi Demokrat (7% menjadi 8,6%), PKS (4,4% menjadi 6%), dan NasDem (3% menjadi 4%). Sementara PPP stagnan dari 2,4% menjadi 2,3%, PAN melemah dari 2,3% menjadi 1%.

“Yang belum menentukan pilihan cenderung makin sedikit meskipun masih banyak. Yang belum tahu partai mana yang mau dipilih, dalam satu terakhir, dari 21,9% menurun menjadi 18,8%,” jelas Deni.

Meski begitu, catat Deni, masih ada waktu bagi partai politik untuk berbenah. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi perubahan itu, salah satunya adalah kualitas calon presiden yang diusungnya nanti.

“Selama ini, ada sejumlah studi yang menunjukkan bahwa kualitas calon presiden lebih penting daripada ikatan dengan partai politik dalam menentukan pilihan atas calon presiden maupun atas partai politik. Tapi, ada juga indikasi bahwa pemilih partai akan tetap memilih calon presiden yang dicalonkan partainya meskipun yang bersangkutan dinilai buruk kualitasnya. Ini terjadi karena party identification yang sangat kuat,” terang Deni.

Untuk memastikan proposisi mana yang lebih meyakinkan dalam konteks pemilih nasional Indonesia, dibutuhkan sebuah desain survei eksperimental. Metode ini akan menunjukkan hubungan kausal antara partai politik dan kualitas calon presiden dengan pilihan terhadap partai politik maupun presiden.

“Survei eksperimental yang dilakukan pada kesempatan ini adalah untuk menguji secara lebih ketat hubungan-hubungan kausal tersebut. Survei dilakukan pada 15 – 21 September 2021 terhadap response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebanyak 981 orang, atau 80% dari 1220 responden yang dipilih secara acak (multistage random sampling) dengan margin of error sekitar 3,19% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling).”

Elektabilitas Calon Presiden

Untuk mengetahui preferensi masyarakat tentang calon-calon presiden, SMRC membuat beberapa simulasi pertanyaan. Selain yang bersifat semi terbuka dengan daftar banyak nama (42 nama + usulan responden), terdapat pula simulasi tertutup dengan jumlah nama calon yang sedikit, yakni 15, 8, hingga 3 nama.

Dalam format pertanyaan semi terbuka dengan daftar 42 nama, Prabowo Subianto mendapat dukungan 18,1%, disusul Ganjar Pranowo 15,8%, Anies Baswedan 11,1%, dan Sandiaga Uno 4,8%. Nama-nama lain seperti Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, atau Agus Harimurti Yudhoyono di bawah 4%, dan yang belum tahu 16,3%.

Walau unggul, tren dukungan untuk Prabowo dari survei Maret 2020 ke September 2021 justru menunjukkan pelemahan (dari 19,5% menjadi 18,1%). Sementara Anies sedikit naik (dari 10,1% menjadi 11,1%), dukungan kepada Ganjar meningkat drastis (dari 6,9% menjadi 15,8%).

“Nama-nama lain, dukungan untuk Sandi cenderung melemah (dari 7,3% menjadi 4,8%). Untuk Ridwan Kamil dan AHY tidak banyak berubah (perubahan di bawah 1%).”

Pada simulasi pilihan tertutup terhadap 15 nama, Prabowo lagi-lagi mendapat dukungan terbesar, yakni 20,7%, disusul Ganjar 19%, Anies 14,3%, Sandi 6,5%, Risma 4,6%, AHY 4,6%, Ridwan Kamil 4,4%, dan nama-nama lain di bawah 3% dengan 16,3% yang belum tahu.

Namun trennya, dari survei Oktober 2020 ke September 2021, Ganjar kembali mendapat porsi tertinggi, yakni dari 11,7% menjadi 19%. Anies naik dari 10% menjadi 14,3%, sementara dukungan kepada Prabowo sedikit melemah dari 22,2% menjadi 20,7%.

“Dukungan kepada AHY dan Sandi tidak banyak berubah. Dukungan untuk Ridwan Kamil melemah dari 7,8% menjadi 4,4%.”

Halaman selanjutnya >>>