Kuasa Manusia atas Alam

Kuasa Manusia atas Alam
©Killing the Buddha

Bumi (alam) memiliki kulit. Kulit tersebut memiliki penyakit. Salah satu penyakitnya disebut manusia. ~ Friedrich W. Nietzsche

Biarlah sejenak kutipan yang ironik ini mengantarkan suatu kenyataan bahwa kita memang menggerogoti alam layaknya virus. Bahwa kita memperlakukan alam dengan cara yang buruk.

Suatu kenyataan bahwa kita melihat alam sebagai bukan bagian dari diri kita. Dan konsekuensi logis darinya, kita selalu ingin untuk menguasai alam. Dan lagi, suatu hal yang wajar dari corak menguasai itu adalah eksploitatif, yakni kecenderungan untuk memanfaatkan secara besar-besaran hanya untuk kepentingan diri kita.

Renaissance berkobar pada abad ke-17 menjadi titik mula keangkuhan manusia. Jargon cogito ergo sum yang memiliki arti aku berpikir maka aku ada menjadi semangat zaman di Eropa kala itu.

Jargon tersebut, selain mencerahkan atas kebebasan manusia, dapat pula membablaskan pemahaman akan kandungan cogito ergo sum. Corak berpikir ini mengantarkan Eropa menjelajah-menjajah-mengolonisasi belahan dunia lain.

Aku berpikir maka aku ada mengindikasikan pada corak posisi bagaimana memandang manusia, yang dalam hal ini berada pada posisi satu-satunya makhluk yang dapat berpikir, sehingga menjadikan subjek di atas yang lainnya. Dan, sebagaimana objek, menjadikan wajar untuk diperlakukan sebagaimana kehendak subjek—manusia.

Alam dalam pemahaman ini berada dalam posisi objek. Karena alam dianggap tidak mempunyai kemampuan berpikir layaknya manusia.

Corak berpikir cogito ergo sum menjadikan manusia sebagai pusat dari segala ukuran. Imbas dari corak berpikir ini, yakni memampukan manusia untuk mengembangkan model pemanfaatan atas alam—objek.

Ilmu pengetahuan memusatkan diri sebagai metode yang paling relevan untuk mengatasi alam. Dalam praktiknya, pengetahuan menghasilkan berbagai macam teknologi, penemuan-penemuan yang mengantarkan manusia ke puncak subjektivitas.

Baca juga:

Hal yang menyengaja ketika kita menggorok-sayat sapi untuk kita ambil dagingnya jadi bakso yang mengandung protein; memburu-bunuh nyamuk karena keberadaannya kita tentukan sebagai pengganggu.

Membumi-hanguskan rumah kuman beserta taman bermainnya yang bersemayam pada permukaan tubuh kita demi alasan konyol yang bernama kesehatan; menebang-iris pohon tembakau untuk kita jadikan rokok sebagai suplemen peningkat daya melamun; mencacah-lumat habis-habisan pepohonan untuk kita proses menjadi kertas.

Isu seputar efek rumah kaca atau pemanasan global, tentang alih fungsi hutan dan tentang alih fungsi lahan pertanian, kalau kita pandang dengan memakai kerangka berpikir cogito ergo sum itu, akan terselewengkan dengan isu yang lain. Entah itu dengan mengatasnamakan kesejahteraan, kebebasan, atau keamanan.

Mengambil contoh riil dari proyek pembangunan pabrik di Cina. Dengan dalih kesejahteraan, mengambil-alih lahan hijau menjadi deretan pabrik dengan asap karbon yang terus mengepul mencemari udara.

Titik persoalan dari itu semua kiranya berada pada wilayah kerangka berpikir kita. Karena, walau bagaimana pun, manusia ternyata membutuhkan objek agar dianggap sebagai subjek.

Dengan begitu, untuk menyatakan keberadaan—manusia sebagai subjek, membutuhkan keberadaan yang lain, yakni objek—alam. Nyata bahwa antara manusia dan alam merupakan kesatuan yang tidak dapat kita pisahkan. Manusia membutuhkan alam, pun demikian dengan alam yang membutuhkan manusia.

Kesadaran akan kesatuan ini—antara manusia dan alam—kiranya harus kita tanamkan pada masyarakat. Menanamkan akan kesatuan antara manusia dan alam tanpa memilah pada posisi subjek-objek.

Memaksud pada tujuan mengubah cara berpikir mengartikan bahwa gagasan-gagasan tentang hal ini harus terus-menerus kita kembangkan. Dan ruang-kembang gagasan mendapatkan tempatnya di wilayah pendidikan.

Baca juga:

Serupa dengan semangat jargon cogito ergo sum yang juga lahir dari gagasan seorang pemikir. Pun begitu, gagasan tentang kesatuan manusia-alam harus terus kita dengungkan hingga menjadi paradigma di tatanan masyarakat.

Setelahnya—dengan maksud bukan menihilkan—pemerintah berperan menerapkan kebijakan-kebijakan yang berasal dari gagasan masyarakat banyak.

Sabiq Ghidafian Hafidz
Latest posts by Sabiq Ghidafian Hafidz (see all)