Langgar, Gen Z, dan Generasi Perusak

Langgar, Gen Z, dan Generasi Perusak
©Islamidia

Di sana letak kekuatan langgar. Ia membentuk karakter manusia di setiap generasi sebelum akhirnya diloloskan ke pendidikan formal.

Ada pepatah Jawa mengatakan: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Maksudnya adalah tidak suka narsis dan eksis dengan kerja-kerja yang dilakukan.

Orang Jawa hari ini kehilangan prinsip besarnya itu. Sehingga julukan wong jawa ilang jawane menjadi relevan untuk menggambarkan posisi seperti ini.

Adalah Generasi Milenial atau Gen Z yang akhir-akhir ini tak bisa bahasa Jawa meski sudah sekolah bertahun-tahun dengan mata pelajaran bahasa Jawa di dalamnya. Mungkin bagi Gen Z, soal bahasa tidak penting, tapi bagi kalangan non-Gen Z lebih dari sekadar penting. Ia adalah identitas yang menunjukkan semangat nasionalisme, walaupun dalam skala yang kecil.

Sementara guru bahasa Jawa yang sudah hampir pasrah tidak bisa berkutik ketika dihadapkan dengan problematika seperti ini. Sebab, bukan hanya soal hilangnya semangat nasionalismenya, Gen Z sudah terlalu percaya terhadap teknologi canggih yang dimilikinya. Iya, smartphone menjadi andalan bagi Gen Z untuk tetap survive di dunia hari ini.

Smartphone hari ini sangat canggih. Saking canggihnya membuat siapa pun yang, jika tidak pegang, berasa seperti orang linglung, bahkan mungkin merasa bukan manusia.

Hal itu tentu merupakan kritik kaum sosialis terhadap kapitalis. Kapitalis hari ini begitu hebat meramu sesuatu menjadi begitu sesuatu banget di hadapan orang yang kurang suka sesuatu itu. Contohnya ya smartphone tadi.

Dan, selain itu, kapitalis juga hebat dalam mengklasifikasi generasi manusia. Termasuk klasifikasi Gen Z semacam ini yang didasarkan pada industri-industri yang cocok untuknya.

Alhasil, Gen Z menjadi mesin penghancur untuk zaman ini. Alih-alih menjadi pembawa harapan besar perubahan dunia, mereka justru jatuh dalam kubangan yang sama. Tentu ini karena, sebelum lahir saja mereka sudah diberi tanda, budaya konsumtif ciptaan kapitalis.

Hancurnya zaman bukan berasal dari ia kehilangan kontinuitas historis saja. Lebih dari itu, ia lahir hanya bisa menjadi konsumen.

Langgar: Gerbang yang Telah Hancur

Sebagaimana masyarakat umumnya, lembaga pendidikan adalah benteng terkuat untuk membendung segala kerusakan muncul di masyarakat. Lembaga pendidikan bisa saja bersifat formal, non-formal, dan informal. Kesemuanya mempunyai daya baja tersendiri dalam upaya pembendungan kerusakan generasi.

Langgar sebagai lembaga pendidikan informal telah menjelma menjadi benteng paling utama bagi masyarakat untuk membendung kerusakan generasi. Ini terjadi bukan hanya hasilnya yang begitu riil di masyarakat, tetapi karena langgar menjadi pendidikan pertama selain keluarga di desa.

Di sana letak kekuatan langgar. Ia membentuk karakter manusia di setiap generasi sebelum akhirnya diloloskan ke pendidikan formal.

Sayangnya, hari ini langgar sudah tidak seperti dulu lagi. Tak jadi primadona masyarakat, walaupun sebagian masih ada yang percaya terhadap lembaga pendidikan langgar.

Hari ini, masyarakat yang melahirkan Gen Z tak mencoba berpikir bagaimana anaknya dididik. Memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan dan kemudian seolah lepas tangan. Tak pernah dikontrol dan dievaluasi.

Dengan keadaan bebas seperti itulah Gen Z menemukan momentumnya untuk melakukan aksi perusakan. Aksi perusakan bukan kepada hal-hal yang bersifat material, tetapi lebih dari itu: moral, psikologi, kecerdasan, dan kejiwaan. Gen Z merusak potensi milik mereka sendiri.

Perusakan itu dimulai dengan smartphone miliknya. Pertama, dengan menonton video porno yang merusak syaraf otak. Kedua, dengan game yang tak akan pernah ada habisnya. Ketiga, dengan pacaran yang dikomunikasikan lewat chatting di smartphone. Dan masih banyak yang lainnya.

Efeknya sangat kentara. Kerusakan yang semula-mula dimiliki oleh pribadi kemudian ditularkan kepada yang lain. Bukankah ini disebutkan sebagai generasi penghancur?

Baca juga:

Generasi semacam itu tak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan serius. Generasi yang bisa melumat habis nasionalisme bangsa Indonesia. Dan kita tidak bisa menyalahkan dengan mengatakan mereka generasi kerdil dengan warisan besar. Tidak!

Pertama-tama kita tidak bisa menyalakan siapa pun. Selanjutnya, lebih baik kita berpikir solusi. Tindakan yang solutif lebih dibutuhkan hari ini dibandingkan pertengkaran tidak jelas: siapa salah dan siapa benar.

Bukankah ini problem yang harus segera dijawab? Oleh siapa? Tentu saja oleh yang berkepentingan dan berkewajiban mengembalikan Gen Z kepada kondisi manusia seutuhnya.

Mungkin langgar bisa dicoba untuk difungsikan kembali. Gerbang paling awal ini tidak boleh hancur begitu saja. Sebab masyarakat desa hari ini, khususnya Gen Z, sudah sangat menakutkan kondisinya.

Iya, bahkan di desa sekalipun. Padahal seharusnya desa juga menjadi pertahanan terakhir dari arus kencang globalisasi. Dan, hari ini, desa sudah kebobolan.