Lawan! Meski Harus Berkorban

Lawan! Meski Harus Berkorban
Ilustrasi: republikmanusia.com

Dalam kondisi apa pun, membuat per-lawan-an adalah satu-satunya modal untuk bertahan. Ya, meski harus berkorban.

Kawan saya yang baru saja lulus dari perguruan tinggi, diterima di sebuah lembaga hukum di Jogja. Bertemu saya, ia menceritakan keluhnya jadi sarjana hukum. Ia menyatakan bahwa tidak ada kesempatan untuk ‘menjadi orang baik’ jika masuk dunia hukum.

Mayoritas agenda dipenuhi dengan kebusukan para mafia; hampir seluruh kasus yang sampai ke meja persidangan akan ‘dimenangkan’ oleh mereka yang berduit atau mereka yang punya power. Melihat kenyataan itu, ia memutuskan untuk menghindari dunia hukum, dan lebih memilih terjun ke dunia bisnis.

Semakin tertarik dengan sikapnya, saya pun bertanya, “Memangnya kenapa jika menjalaninya sembari tetap ‘menjadi orang baik’?”

“Susah,” katanya. “Semuanya sudah ‘terstruktur’. Sudah jadi budaya bahwa ‘kemenangan’ hanya milik mereka yang punya power.” Seakan telah terjadi ‘kesepakatan bersama’ bahwa siapa yang paling mampu menyumbang dengan jumlah terbesar, dialah yang akan menang.

Bisa dikatakan, uang telah menggantikan peran Tuhan di sana. Kenyataan ini berakibat pada banyaknya ‘orang baik’ dimutasi dari instansi hukum akibat mempertahankan idealisme mereka. Itulah kiranya yang menjadi ketakutan kawan saya.

Keputusannya untuk hengkang, bagi saya, sangat disayangkan. Sebab, jika yang baik sudah tak lagi mau menggunakan integritasnya untuk mengubah keadaan, lantas siapa lagi? Bukankah Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum jika mereka tak berusaha mengubahnya sendiri?

Gus Dur, dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, mengajarkan bahwa semestinya kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia digunakan untuk mengabdi dan beramal. Hal ini penting, sebab jika tidak demikian, pragmatisme semulah yang akan menjadi penyakit bangsa Indonesia.

Jika dikaitkan dengan masalah perpolitikan di negeri ini, maka akan didapati ‘orang-orang baik’ tak lagi ‘tertarik’ ikut andil dalam dunia perpolitikan yang sudah kadung bobrok. Mereka lebih mengutamakan ‘kepentingan pribadi’ dibanding berjuang melawan para ‘penjajah bangsa sendiri’.

Mereka tidak mau mengambil resiko ketenangan hidup direnggut oleh para ‘pemegang’ otoritas politik. Jika demikian, besar kemungkinan nantinya birokrasi lebih banyak diisi para politisi yang haus akan kekuasaan dan harta semata.

Bukankah lebih baik jika ia lawan meski harus berkorban? Kenapa? Tidak semua orang di negeri ini mengerti hukum, pun juga tidak semuanya punya skill untuk ‘bermain’ dalam politik praktis. Sebagai lulusan hukum, paling tidak dia punya bekal untuk terjun ke dalamnya.

‘Per-lawan-an’ terhadap kebiadaban para politisi kotor telah dicontohkan oleh Gus Dur. Keputusannya untuk duduk di kursi kepresidenan menjadi bukti bahwa ‘perlawanan’ itu tidak akan benar-benar terlaksana tanpa terjun langsung ke dunia politik.

Lihat juga: Generasi Milenial Melek Politik

Meski pada akhirnya Gus Dur ‘harus’ dilengserkan secara inkonstitusional, paling tidak, dengan perjuangannya, ia telah melakukan banyak hal baik untuk negeri ini; berjasa membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial di mana keduanya menjadi sarang para tikus-tikus berdasi, dan juga penghapusan dwifungsi ABRI yang menjadi momok masyarakat akan munculnya diktator baru pasca Soeharto.

Dengan keputusannya terjun ke dunia politik, Gus Dur secara tidak langsung mengajak masyarakat Indonesia bahwa kebiadaban para koruptor dan politisi kotor mesti dilawan, meski harus terlibat di dalamnya.

Sudah seharusnya masyarakat yang mengerti hukum dan politik—yang memiliki prinsip, integritas, serta nasionalisme tinggi—ikut andil dalam percaturan politik di negeri ini, dan bukan malah menghindarinya. Pun juga lebih baik bagi kawan saya untuk tidak ‘kabur’ dari dunia hukum, meski harus mengorbankan ‘kepentingan pribadinya’.

Bukankah pasca kemerdekaan Soekarno mewanti-wanti bahwa perjuangan bangsa Indonesia akan lebih berat, sebab bukan penjajah yang akan dilawan tetapi justru sesama bangsa Indonesia sendiri?

Pada akhirnya saya hanya berharap kawan saya berkata kepada saya yang cuma santri ini, “Kamu jangan terjun ke dunia hukum, berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja.”

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Muhammad Mufti Al Achsan (see all)