Lelaki Itu Bapak

Lelaki Itu Bapak
©Kompasiana

Lelaki itu bapak, lelaki yang mati rasa

Hanya sepenggal kata bijak yang bisa kutanam pada kepala ini
Untukmu lelaki kuat baja dan sabar bak laut
Tiada mengeluh ketika di pundakmu berbalutkan susah
Atau tidak pernah berteriak ketika senang

Di lorong depan rumah ketika secangkir kopi mengepul sebagai teman
Kala dengan lugu engkau membuka cerita
Tentang terik yang tidak pernah henti membakar tubuhmu
Tentang perjuangan yang menguras tenagamu
Hingga tiba rambut putihmu
Engkau tidak pernah mengeluh akan nasib yang tidak henti-hentinya
Menghantuimu

Lelaki itu bapak
Dia adalah lelaki mati rasa
Tiada bisa tersenyum tiada bisa menangis
Ketika perjuangannya tidak pernah memberikan hasil

Semuanya terbukti ketika dia tidur
Saat itulah dia menjadi asli tanpa topeng
Tanpa drama
Dia menjadi diri yang rapuh dan sakit
Dia menjadi manusia wajar bukan robot
Sebab dia adalah lelaki

Ya. Lelaki itu bapak

Ledalero, 2019

Percakapan Terakhir

Sebelum semuanya dikenang dalam cerita
Di depan kapela suatu siang sepertinya kekecewaan menjadi sesuatu
Yang sulit untuk dilupakan

“Kamu yakin”
Dia menghela napas

“Aku tidak ada pilihan lain selain pilihan ini”

“Bagaimana dengan perasaan kamu”

“Jangan pikirkan itu.”
Kataku

“Tidak cukupkah perjuanganku selama ini”

“Cukup. Tapi jangan tekan aku dalam hal mencintai”

“Mengapa kamu mengakiri ini,” tanyanya singkat sambil menggelengkan kepala

“Maafkan aku karena sebelum aku mengenalmu aku lebih dulu mengenal dia”

“Semua lelaki sama saja”

Dalam gugupku dengan polos aku bertanya
“Sebelum aku melukaimu kamu menangis dipundak siapa?”

Wanita itu hanya diam.
Sebab dia pernah terluka sebelumnya

Ledalero, 2019

    Sonny Kelen

    Penulis sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero.

    Latest posts by Sonny Kelen (see all)