Lelaki yang seperti Apa Lagi?

Lelaki yang seperti Apa Lagi?
©Champatree

Sepertinya judul ini tepat untuk menggambarkan pertanyaan sekaligus perasaan perempuan Indonesia secara umum. Fenomena kekerasan seksual yang kerap kali terjadi membuat puan-puan Indonesia sangat antusias dan memiliki simpati yang tinggi kepada korban dan sangat memaki lelaki sebagai pelaku. Terjadinya kekerasan seksual akhir-akhir ini sangat ramai beritanya di dunia maya. Banyak faktor yang membuat peristiwa ini bisa terjadi. Why?

Apakah puan memakai pakaian yang menggoda? Bisa jadi penyebab.

Apakah puan sudah memakai pakaian yang tertutup tetapi lelakinya nafsuan? Bisa jadi penyebab.

Apakah puan ketika dilecehkan mengetahui kalau dia dilecehkan? Bisa ia, bisa tidak.

Apakah yang dilakukan puan ketika dilecehkan? Bisa melawan, memaki bahkan tidak melakukan hal apa pun sama sekali.

Apakah puan dan pelaku sama-sama mau? Bisa jadi.

Apakah salah satu saja yang mau? Bisa jadi juga.

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah bagian yang mewakili. Bahkan banyak hal yang mesti dipertanyakan dan perlu kita jawab bersama, terutama apa saja faktor yang menyebabkan kekerasan seksual itu bisa terjadi.

Pelecehan seksual atau sexual harassment paling banyak terjadi kepada puan. Nah, apa saja sih hal yang bisa membuat perempuan terlecehkan?

Mengutip dari buku Mansoer Faqih yang berjudul “Analisis Gender dan Transformasi Perubahan Sosial”, ada beberapa hal yang puan harus ketahui terkait yang dimaksud sebagai bentuk pelecehan, antara lain:

  • Bertanya berlebihan tentang kehidupan pribadi
  • Memegang/menyentuh alat kelamin
  • Mengolok dan berkata kasar
  • Meniup leher
  • Memperlihatkan alat kelamin ke puan, baik secara langsung atau melalui media
  • Berbohong kepada puan (jika ada hubungan romantisme)

Siulan, dipanggil dengan sebutan “sayang”, “gek”, “ganteng” atau “cantik” oleh orang yang tidak dikenal, komentar yang tidak diinginkan, seperti “mau ke mana, cantik? Mau ditemenin, nggak?”, “Jangan galak-galak nanti dicium ya!”, diamati tubuhnya oleh orang asing hingga rabaan yang tidak diharapkan merupakan kejadian yang memunculkan rasa tidak aman, yang sering ditemui tapi luput dari perhatian karena dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Rasa tidak aman ini biasa dialami sehari-hari, baik di Indonesia maupun di negara lain.

Pendapat di atas memberikan gambaran bahwa pelecehan seksual sangat kompleks dan sangat erat di kehidupan kita sehari-hari. Sehingga, perlu pemahaman yang mendalam dan diskusi yang serius untuk memecahkan masalah-masalah seperti ini. Semua argumentasi di atas bisa saja benar dan bisa saja salah, tetapi setidaknya memberikan sedikit informasi kepada kita semua tentang bagaimana dan apa saja yang menyebabkan proses pelecehan itu bisa terjadi.

Pelecahan seksual bisa terjadi di mana saja, baik kampus, bus , stasiun, bandara, ataupun tempat lainnya. Pertanyaan sederhana yang kemudian muncul, apakah kita semua menyadari ketika dilecehkan? Siapa saja pelaku pelecehan itu dan korbannya?

Tentu pertanyaan di atas akan mendapatkan jawaban yang beragam dengan persepsi masing-masing. Tetapi, fokus pembahasan yang akan kita bedah bersama ialah bagaimana kemudian efek dari tindak pelecehan yang makin hari marak terjadi di kehidupan kita sehari-hari sehingga memunculkan stigma untuk mengeneralisasi pelaku pelecehan yang notabenenya adalah laki-laki.

Stigma Pelaku Pelecehan

Stigma yang lahir dan sangat sering kita dengarkan yang disematkan oleh para pelaku pelecehan ialah, dasar nafsu kuda, bajingan, kurang dihajar, kurang didikan, kenapa gak nikah aja sih, laki-laki biadab, lelaki gatal, dan masih banyak lagi sebutan yang mungkin tidak dapat saya sebutkan di tulisan ini. Setidaknya ada beberapa yang mewakili dari apa yang dirasakan korban maupun orang-orang yang simpati atas kejadian tersebut.

Penyematan di atas boleh saja dilakukan, tetapi jangan sampai mengeneralisasikan kepada gender pelaku. Menurut saya ini bukan hal yang bijak dalam menilai suatu kejadian terlebih menyamakan sikap pelaku dengan orang lain berdasarkan gendernya.

Halaman selanjutnya >>>
Ibnu Azka
Latest posts by Ibnu Azka (see all)