Libertarian Bukanlah Sosok yang Selfish

Direktur Indeks Nanang Sunandar: Libertarian Bukanlah Sosok yang Selfish
The Libertarian Mind karya David Boaz

Direktur Indeks Nanang Sunandar menegaskan, libertarian bukanlah sosok yang selfish belaka. Libertarian tidak seperti yang kerap para penentangnya bayangkan, yang hanya melihatnya sebagai pribadi egois, mementingkan diri sendiri.

Hal tersebut Nanang ungkapkan dalam catatan Facebook-nya, 25 Februari 2018. Catatan itu sekaligus jadi ulasan singkatnya atas The Libertarian Mind karya David Boaz.

“Setelah membaca The Libertarian Mind dari David Boaz, Anda bisa menemukan bahwa libertarian, tidak seperti kerap dibayangkan para penentangnya yang melihat libertarian sebagai sosok selfish, memiliki semacam keyakinan tertentu pada kekuatan institusi keluarga dan nilai-nilainya.”

Kekuatan tersebut tidak hanya dalam rangka tahap-tahap perkembangan seorang anak menjadi individu dewasa. Itu juga tersalurkan dalam rangka merawat individu-individu dewasa yang memasuki usia senja.

“Dalam pendidikan anak, misalnya, Boaz berpandangan bahwa pendidikan adalah tugas orangtua yang tidak seharusnya diambil alih oleh negara.”

Berbekal pandangan itu, Nanang langsung teringat dengan wacana full day school dan praktik sekolah di Indonesia yang malah menciptakan jarak fisik dan psikologis antara orangtua dan anaknya pada satu sisi. Tetapi, pada sisi lain, banyak orangtua sekarang yang justru senang dengan sistem persekolahan seperti ini karena alasan meminimalisasi kerepotan dalam pengasuhan anak.

“Sadar atau tidak, banyak orangtua memilih melepaskan tanggung jawab dasarnya sebagai orangtua dengan memberikan lebih banyak tugas pada negara untuk mendidik dan mengasuh anak-anaknya.”

Hal menarik lainnya dari A Manifesto for Freedom  dari Executive Vice President Cato Institute tersebut adalah pandangannya soal konsep perkawinan. Bagian ini ada kaitan dengan proses pendidikan anak dan lingkaran setan kemiskinan.

“Boaz melihat kaitan antara AS sebagai negara dengan sistem social welfare komprehensif dengan tingginya jumlah anak di luar perkawinan, kriminalitas remaja, angka pengangguran, dan kemiskinan.”

Maka, lanjut Nanang mengutip langkah Boaz, ada tiga hal yang bisa dilakukan tanpa intervensi negara: (1) lulus SMA; (2) hindari anak lahir di luar perwakinan dan akhirnya diasuh oleh orangtua tunggal; dan (3) bekerja apa saja yang tidak merampas hak orang lain.

Terkait mereka yang berusia senja, keberadaan panti-panti lansia yang negara sediakan telah menggerus nilai-nilai dan peran keluarga. Pahadal, peran keluarga selama ini berhasil menyediakan tempat tinggal dan perawatan bagi orangtua berusia lanjut yang tidak lagi produktif.

“Ribuan tahun kebajikan keluarga semacam ini bekerja dengan baik, sampai intervensi negara sedikit demi sedikit menggerusnya. Atau bahkan mungkin menghilangkannya sama sekali ketika intervensi itu semakin luas melingkupi seluruh aspek kehidupan warganya.”

___________________

Artikel Terkait: