Lidahku, Merah Putih

Lidahku, Merah Putih
©IndoPROGRESS

Jika ditakar, pria itu sudah berkepala delapan. Rambut di kepalanya sudah tak lagi hitam. Putih seperti orang sedang menjunjung salju. Pipi kerut sana-sini dengan gigi nyaris tak ada lagi. Hanya tersisa satu pada bagian depan. Itu pun tampak sudah goyang ketika ia berbicara. Tidak butuh waktu lama pasti akan gugur juga. Otot-otot tubuhnya yang dibalut dengan baju kaus lusuh sudah susut tergerus usia.

Kaus itu hadiah dari politikus yang sowan ke kampungnya tahun kemarin. Kalau tidak salah, waktu musim kampaye, katanya menerka. Bagian depan kaus tertulis nama partai politik. Setelah itu, ia tidak lagi kemari. Dia lebih suka ke luar negeri. Ketimbang ke kampung terpencil seperti ini.

Kedatanganku ke rumah makan reot itu terpaksa membuatnya harus beranjak dari ambin berbahan bambu. Lebih tepatnya bale-bale dengan sarung bantal terlihat kusam nan kumal. Tak tahu sudah berapa lama tidak dicuci.

Kalau diperhatikan, gubuk itu tidak layak disebut warung makan. Lihat saja isinya. Sebuah etalase kayu usang tanpa isi. Hanya ada beberapa perabotan makan seperti mangkuk, sendok, dan mug. Kursi meja sudah dilahap rayap. Tak semegah rumah makan ala Barat yang tepat berada di seberang jalan. Sangat kontras.

Tidak ada daftar menu makanan yang diberikan. Pelanggan seolah tak diberi peluang untuk memilih makanan apa yang disukai. Jika sudah masuk di dalamnya, pelanggan hanya disajikan makanan lokal. Persis seperti yang tertera pada papan iklan yang digantung di depan warung makan. Tersedia penganan lokal.

Sebetulnya ada seorang lelaki paruh baya yang sering mengambil alih segala pekerjaan jika ada pelanggan yang tersesat di rumah makannya. Maklumlah sang kakek sudah tidak kuat untuk meracik masakan. Jangankan memasak, jalan saja pun sudah tertatih.

Aku tak rela membiarkannya melakukan hal itu. Tapi apa boleh buat. Perut ini tak bisa dinegosiasi. Memang harus segera diisi. Akhirnya kuputuskan untuk membantu apa yang tidak bisa dilakukannya.

Dengan gerakan ala slow motion, ia mengambil peralatan peralatan masak. Seadanya saja. Kuawasi dengan saksama setiap gerak-geriknya dengan penuh iba. Pria setua ini sudah layak untuk beristirahat di rumah. Itu kalau di desaku, kataku dalam hati. Jika masih ada yang bekerja seperti itu, maka akan menjadi perguncingan masyarakat. Anak-anaknya bakal dituduh tak menghormati orang tuanya.

Tetapi tidak di sini. Orang-orang bekerja hingga maut menjemputnya. Buktinya pak tua yang ada di hadapanku ini. Keras memang hidup di kota. Dan barangsiapa yang lebih keras daripada hidup, dialah yang mampu bertahan hidup. Kata-kata Mas Pram yang fenomenal itu tergiang di kepala.

Baca juga:

“Udah dapat berapa pelanggan hari ini, Pak?” aku membuka percakapan.

“Wah…belum dapat apa-apa, Mas,” suaranya berat.

Padahal hari sudah mulai hitam. Itu berarti sejak pagi, ia belum mendapatkan pelanggan, simpulku.

“Maklum, mas, korona,” ia berkeluh. “Sepi pelanggannya,” lanjutnya.

Memang benar katanya. Pandemi Covid-19 yang mewabah bisa jadi salah satu faktor yang membuat banyak orang mengalami penurunan pelanggan. Juga penghasilan.

Jangankan warung makan sekecil ini, perusahaan-perusahaan besar pun gigit jari. Tak mampu membayar gaji karyawan. Bahkan ada yang harus kehilangan pekerjaan. Di-PHK. Akhirnya, luntang-lantung tak jelas juntrungannya.

Lihat saja di lampu merah pada setiap sudut kota. Menjalar para pengemis yang merengek minta receh dari saku pengguna jalan. Bahkan ada yang nekat melumuri sekujur tubuhnya dengan cat berwarna perak. Manusia perak. Demikian julukan yang ditempelkan pada mereka. Mereka beraksi saat para pengendara berhenti. Bagi mereka, lampu merah adalah momen emas mendulang iba dari pengguna jalan.

Tetapi bagiku, bukan itu penyebab utamanya. Toh rumah makan di depan sana tetap ramai meski sudah ada larangan sana sini untuk membatasi kuota para pengunjung.

“Disyukuri wae, mas. Berapa pun yang didapat,” katanya mengagetkanku dari lamunan.

Aku hanya diam. Memasang kuping pada ocehannya. Akh, hidup memang terasa ringan bagi mereka yang tahu bersyukur terhadap apa yang diperoleh. Namun terasa berat bagi yang berkeluh. Suka. Duka. Sukses. Gagal. Itulah sederet pengelaman yang mesti dilalui. Seperti jarum jam yang menunjuk pada setiap angka. Tanpa pernah melewatkan seangka pun.

“Yah, rezeki sudah ada yang ngatur,” katanya pasrah. “Banyak atau sedikit itu semua adalah garis Ilahi,” ia mulai berbijak kata.

“Udah berapa tahun buka warung makan, Pak?” kataku mengalihkan percakapan.

“Sudah 20 tahunan, Mas,” jawabnya bangga.

“Kalau dulu orang suka makanan lokal, Mas, “jelasnya. “Tetapi sekarang tidak.”

Lidah orang Indonesia sepertinya sudah ketagihan dengan makanan barat, ia mulai ceramah. Apa yang dikatakannya bisa jadi benar, pikirku. Tidak heran kalau rumah makan ala barat tidak sepi pengunjung. Bahkan di saat pandemi pun. Orang lebih takut kehilangan makanan kesukaannya ketimbang kesehatan.

Padahal kalau boleh dibilang, sajian-sajian itu tergolong fast food. Tidak sehat untuk tubuh. Inilah bentuk paling nyata dari penjajahan. Juga bisa jadi satu simbol kesuksesan kapitalisme global dalam membenamkan rasa barat ke lidah orang Indonesia.

“Silakan dicoba, Mas,” katanya mempersilakan.

Kulihat di atas nampan berkarat itu, ia menyuguhkan sepiring burung garuda. Katanya ini makanan khas negeri ini. Makanan yang berkhasiat bagi lidah agar tak menjadi kacang yang nyaris lupa dengan kulit. Agar tak terus-terusan dikuasai oleh pengaruh kebarat-baratan. Penganan lokal yang memerdekakan. Membuat pelanggan terbang bebas di langit negeri sendiri.

Malam itu kusantap dengan lahap. Sepulangnya di rumah, aku menjadi kaget melihat lidahku jadi merah putih.

Jetho Lawet
Latest posts by Jetho Lawet (see all)