Lihatlah Niat Mulia di Balik Penyusunan UU Cipta Kerja

Lihatlah Niat Mulia di Balik Penyusunan UU Cipta Kerja
©AS

Nalar Politik – Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengajak semua pihak untuk menilik kembali UU Cipta Kerja, terutama niat mulia di balik penyusunannya.

“Kita sudah punya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dengan segala kontroversi terhadap undang-undang ini, saya mengajak semua melihat niat mulia di balik penyusunan UU Cipta Kerja,” kata Menaker Ida dalam acara Peluncuran Layanan Digital Pengesahan Peraturan Perusahaan dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama di Jakarta, Kamis (19/9).

Ia mengingatkan bahwa dalam pelantikan untuk periode kedua Presiden Joko Widodo, telah ditegaskan salah satu prioritas kerjanya adalah melakukan reformasi birokrasi dan struktural.

Hal itu dilakukan karena Jokowi melihat Indonesia ke depan yang tingkat pertumbuhannya akan terus naik dan mendorong langkah Indonesia menjadi salah satu negara maju di dunia dengan tingkat kemiskinan mendekati nol persen.

Menaker Ida juga mengetengahkan tumpang-tindihnya birokrasi di Indonesia yang menyulitkan produktivitas kerja.

“Melihat kondisi itu, betapa tidak kompetitifnya bangsa kita dibandingkan negara-negara lain yang iklim berusahanya makin membaik. Padahal itu sebagai salah satu pintu masuk untuk menyelesaikan pekerjaan berat kita berupa tingginya pengangguran terbuka.”

Meski sempat menekan angka pengangguran yang pada Februari 2020 menyentuh angka 6,9 juta dari sebelumnya pada 2019 sekitar 7,05 juta. Namun data dari Badan Pusat Statistik sampai dengan November 2020 melihat kenaikan angka pengangguran menjadi 9,77 juta. Ini salah satunya sangat terpengaruh oleh dampak Covid-19.

Selain itu, terdapat juga penambahan angkatan kerja baru sekitar 2,9 juta setiap tahunnya.

“Tidak ada pilihan lain bagi pemerintah. Dikomandani Bapak Presiden, kita harus melakukan reformasi struktural, transformasi ekonomi. Maka dengan segala mungkin kontroversi yang ada, memang tidak mudah memperkenalkan sesuatu yang baru, mengajak mereka yang dalam situasi zona nyaman kemudian harus melakukan pemangkasan berbagai birokrasi yang rumit.” [an]