Literasi, Pengetahuan, dan Nasionalisme

Literasi, Pengetahuan, dan Nasionalisme
Ilustrasi: Ist

Literasi, sebagaimana asal katanya, adalah kegiatan tulis-menulis dalam rangka menuangkan pikiran, baik dalam bentuk buku, majalah, buletin, koran, dan sebagainya. Namun pada umumnya, menulis dan membaca merupakan satu kesatuan dalam literasi. Orang yang menulis sudah pasti dia membaca.

Data, sebagaimana dilansir banyak media, menyatakan bahwa Indonesia berada pada minat literasi yang rendah di bawah Malaysia dan Thailand. Hal ini menjadi evaluasi segenap rakyat Indonesia dalam melihat kemungkinan-kemungkinan ke depan. Walaupun tolok ukur kemajuan sebuah bangsa dinilai secara global, bukan lokal maupun nasional.

Lihat juga:

Membaca adalah kebutuhan pokok manusia. Karena orang yang membaca sudah pasti pengetahuannya bertambah, seiring teks yang dia baca.

Namun, pada faktanya, ketersediaan buku bacaan di masyarakat masih minim. Jangankan perpustakaan, sekolah saja belum merata. Sehingga membudayakan literasi di negeri kita membutuhkan setidaknya 3 tahap tindakan.

Dimulai dari Bawah

Disorientasi pendidikan hari ini semakin menutup peluang pemerataan pengetahuan di masyarakat bawah. Pasalnya, sekolah di perkotaan selalu lebih maju dari pada di pedesaan, dan bahkan lebih lengkap.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa objek literasi kita hari ini salah sasaran. Yang semestinya dimulai dari masayarakatnya. Karena sasaran sesungguhnya dari dadikalisme adalah masyarakat umum.

Penyediaan Taman Baca dan Perpustakaan

Taman baca dan perpustakaan di desa diperlukan untuk membudayakan para generasi dalam literasi. Literasi yang sudah dibudayakan akan membuat pikiran generasi muda semakin cemerlang dan tidak mudah dihasut oleh berita-berita bernuansa radikalisme. Karena mereka sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, melalui buku yang mereka baca.

Pengetahuan dapat Mencegah Radikalisme

Masyarakat yang sudah paham berbagai sudut pengetahuan melalui apa yang mereka baca, akan tidak mudah terhanyut dalam gerakan-gerakan yang tidak sesuai dengan kearifan lokal.

Kearifan dalam konteks Indonesia adalah nasionalisme Indonesia yang diasaskan pada Pancasila. Jika mayarakat paham apa itu pancasila dan kerangka pikirnya, maka nasionalisme tak pernah tergoncang dengan gerakan radikal apa pun.

Faktanya, masyarakat masih buta literasi dan mudah ikut pada gerakan radikal yang berasaskan kebencian. Sehingga pemerintah perlu menggerakkan literasi yang merata secara nasional, agar nasionalisme terjaga pula.

Lihat artikel menarik lainnya dari Ali Munir S

Ali Munir S
Ali Munir S 3 Articles
Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Anggota komunitas menulis Gajahwong dan LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga