Literasi sebagai Media Aktualisasi Diri

Literasi sebagai Media Aktualisasi Diri
©Unsplash

Literasi mengarah bagaimana seseorang dapat terampil dalam mengaplikasikan kemampuan tersebut sesuai dengan kebutuhannya.

Menulis itu rumit, begitu kata Puthut Ea. Katanya, menulis itu tidak sulit dan juga tidak mudah, hanya rumit. Sebagian besar penulis setuju, mereka harus melewati kisah-kisah, mendalami peran, menyeimbangkan antara batin dan pikiran, sebelum menuangkannya ke dalam tulisan.

Menulis adalah kegiatan untuk mengabadikan pemikiran. Dengan menulis, kita akan menyampaikan pandangan kita kepada orang lain. Bukan hanya untuk mereka yang hidup hari ini, tetapi juga untuk mereka yang hidup di masa depan.

Meskipun hanya mengangkat hal-hal yang sederhana, menulis sepatutnya menjadi sebuah kebutuhan. Berhenti menulis sama saja dengan mati sia-sia. Seperti halnya kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

sebelum menulis, terlebih dahulu harus membaca. Tanpa membaca, kita tidak akan tahu apa yang akan kita tulis, benar tidaknya tulisan, kuat atau lemah datanya, dan bermanfaat atau tidak tulisan kita. Karena itu, membaca adalah syarat pertama dan utama ketika hendak menulis. Istilah kerennya, dua kegiatan ini sering dikenal dengan literasi.

Kebanyakan orang sering memaknai literasi hanya sebatas keterampilan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi bermakna kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan menyelesaikan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Jadi, literasi juga mengarah bagaimana seseorang dapat terampil dalam mengaplikasikan kemampuan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. (National Institute of Literacy).

Berliterasi akan membantu kita untuk berpikir kritis dan sistematis. Bagaimana tidak, jika kemampuan literasi kita baik, kita tidak akan mudah termakan hoaks ataupun informasi-informasi yang tidak jelas kebenarannya. Dalam istilah jurnalisme, ini yang kita kenal dengan verifikasi data.

Baca juga:

Selain itu, kemampuan literasi juga membantu kita dalam berpikir sistematis. Sebagai contoh, ketika menulis, kita kita akan dihadapkan pada sebuah masalah atau persoalan, dan kita juga yang dituntut untuk mencari solusinya. Tak hanya itu, kita harus menyajikannya dalam bahasa yang mudah dipahami, mulai dari membuat kalimat, paragraf, narasi, plot, dan sebagainya.

Sama halnya ketika kita sedang menghadapi masalah. Entah itu tugas kuliah, pekerjaan, beban hidup, kita dapat menghadapinya dengan tenang, berpikir sebelum bertindak, dan mencari solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahannya.

Aktualisasi Diri

Menurut Maslow (1954), aktualisasi berarti proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologi yang unik. Maslow menyebut aktualisasi diri sebagai proses pemanfaatan secara penuh bakat, kapasitas, dan potensi untuk memenuhi kebutuhan diri. Untuk itu, proses aktualisasi harus diawali dengan pengenalan potensi diri, dengan cara meliterasi diri sendiri.

Literasi diri menjadi bagian penting dalam hidup. Literasi dapat membantu kita mengenali potensi diri dan mengembangkannya. Sehingga dengan itu kita akan memiliki cara pandang yang luas terhadap dunia, dan dapat bertindak yang tepat sesuai kemampuan dan kemauan kita.

Memaksimalkan aktualisasi diri berarti mengenali potensi diri secara menyeluruh, menggalinya, dan mengembangkannya pada lingkungan yang tepat. Sementara pengembangan potensi biasanya terjadi pada usia tumbuh kembang manusia, maka dalam tahapannya harus disisipi dengan kegiatan literasi.

Mengapa demikian? Karena membangun budaya literasi harus diupayakan sejak dini mulai dari kebiasaan membaca buku.

Tentunya hal ini akan berjalan efektif ketika didukung dari berbagai pihak, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Lebih penting lagi adalah upaya sadar mulai dari diri sendiri, mengingat rendahnya tingkat literasi di Indonesia yang tak sebanding dengan tingginya intensitas bermain gawai. Sehingga upaya pemerintah dalam mendongkrak tingkat literasi di Indonesia tidak akan sia-sia. Dan gerakan-gerakan literasi yang digagas dapat berjalan optimal.

Hasyim Asnawi