Lock Down, Look Down, dan Lauk Daun, serta Pageblug

Lock Down, Look Down, dan Lauk Daun, serta Pageblug
©Shutterstock

Sebuah istilah yang sekarang ini populer di seantero jagat seiring dengan mengglobalnya wabah virus korona ialah istilah lock down. Maka lahir pula sederet istilah dan kata yang berkaitan dengan itu. Covid-19, korona, social distancing, physical distancing, disinfektan, dan pandemi.

Selain itu lahir pula sejumlah istilah yang khas Indonesia. Misalnya Pasien dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL), protokol kesehatan, Alat Pelindung Diri (APD), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dan Orang dalam Pantauan (ODP). Istilah wabah, cuci tangan, jaga jarak, masker, dan di rumah saja ikut meramaikannya.

Lock Down Itu Dikucilkan

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi dan situasi di Wuhan, China, pada saat pandemi atau wabah korona mulai merebak, seperti kota mati atau kota hantu. Jalan-jalan lengang. Toko-toko dan kantor-kantor tutup.

Sekolah dan kampus juga tutup karena pelajar dan mahasiswanya diliburkan. Akses transportasi umum seperti pesawat terbang, kereta api, dan bus tidak ada. Padahal saat itu orang-orang dari seluruh penjuru bumi mudik. Mereka hendak merayakan tahun baru Imlek

Orang-orang dilarang bepergian. Mereka tak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Hanya melakukan apa saja di dalam kamar. Mereka bertahan di kompleks perumahan, asrama, atau apartemen tempat mereka tinggal. Tentu saja mereka tak pernah melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya. Mereka harus mematuhi aturan lock down yang diberlakukan pemerintah China.

Lock down bermakna kuncian atau terisolasi atau dikucilkan. Mereka yang berada di wilayah yang ter-lock down tidak akan mendapat akses keluar-masuk atau bepergian ke wilayah mana pun. Tujuannya agar mereka tidak tertular dan menularkan penyakit. Ketika masa pandemi Covid-19 atau wabah korona mengglobal, banyak negara di belahan bumi ini melaksanakan kebijakan lock down demi keselamatan warganya.

Look Down Itu Ndingkluk

Di buku Sedang TUHAN pun Cemburu (Refleksi Sepanjang Jalan) (Yogyakarta: Sipress, 1994, halaman 12 – 15) yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, saya menemukan istilah look down. Dalam tulisannya yang berjudul Look Up atawa nDangak, Look Down atawa nDingkluk, Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa jabatan adalah salah satu pos terpenting untuk peristiwa ndangak-ndingkluk.

Padahal, aslinya rakyat itu posisinya tertinggi: kedaulatan rakyat itu lebih tinggi dibanding kedaulatan pemerintah. “Pemerintah itu pembantu rumah tangga negaranya rakyat.” Jadi ndangak-ndingkluk-nya terbalik.

Pos yang lain dari keharusan ndangak-ndingkluk misalnya adalah satuan-satuan status sosial yang lain, umpamanya gelar, pendidikan, kekayaan, atau mungkin juga ras. Orang yang punya gelar (akademis ataupun kebangsawanan) selalu dianggap di atas rata-rata. Dengan demikian manusia rata-rata bersikap ndangak kepalanya. Tak peduli apakah ia punya fungsi atau reputasi yang sesuai dengan gelarnya atau tidak.

Sementara itu, orang biasa yang tak punya jabatan, gelar, pendidikan, kekayaan, atau mungkin ras tertentu, cuma bisa look down atau ndingkluk. Mereka tak bisa look up atau ndangak. Apa boleh buat.

Lauk Daun Itu Kreativitas Grafiti

Pandemi Covid-19 atau wabah virus korona mendorong orang-orang yang memiliki kreativitas mencoret-coret tembok dengan cat pylox meninggalkan tanda tertentu. Penyekatan atau penutupan gang di suatu tempat saat ini dipasangi papan yang dibubuhi kata-kata lauk daun.

Mungkin maksudnya lock down. Namun, lidah kita lebih akrab dengan lauk daun. Jangan salah paham dengan ungkapan ini. Tidak terbayang di kepala saya ketika kita sedang makan siang atau sarapan pagi dengan lauk daun pisang, apalagi daun pintu. (Di rumah makan padang kita biasa menyantap daun singkong).

Ternyata wabah virus korona juga memberikan pengaruh bagi penggunaan bahasa Indonesia. Ada-ada saja.

Arogansi Xi Ping

“Tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang fondasi negara besar ini,” kata Xi dalam naskah pidato berbahasa Mandarin, yang diterjemahkan secara resmi oleh media pemerintah, dikutip dari CNBC, Selasa (1/10/2019).

“Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang-orang China dan bangsa China untuk terus maju,” lanjutnya pada pidato HUT yang ke-70 Kemerdekaan RRC. Dengan percaya diri yang berlebihan, tampak Xi Ping menunjukkan arogansinya kepada dunia.

Empat bulan setelah pernyataan itu keluar dari mulut orang nomor satu di China, virus korona merebak. Pejabat resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutnya Covid-19.

Tepat pada tahun baru China, Imlek, 25 Januari 2020, China diguncang monster korona. Mereka tak dapat merayakan malam tahun baru seperti pada tahun-tahun sebelumnya yang berlangsung meriah setelah para perantau dari seluruh penjuru bumi mudik ke kampung halamannya.

Wuhan. Di sana monster korona diduga berasal. Kelelawar yang mereka konsumsi ternyata terinfeksi korona. Lalu Wuhan ditutup. Bagaikan kota hantu atau kota mati, tak ada lalu-lalang manusia dan kendaraan. Semua moda transportasi berhenti. Mereka bersembunyi di kamar. Melakukan aktivitas di rumah.

Seperti Pageblug

Seperti pageblug, dongeng yang pernah saya dengar dari ibu ketika saya masih kanak-kanak, korona terus merangsek. Menjarah ke mana-mana. Hampir tak ada negara di dunia ini yang lolos dari incaran korona. Semua orang ketakutan.

Pageblug? Semacam wabah penyakit yang menakutkan. Karena pada pagi hari seseorang sakit, sore harinya meninggal. Jikalau sore hari mereka sakit, pagi harinya mereka menemui ajal.

Suami kehilangan istri. Istri kehilangan suami. Anak kehilangan orang tua. Orang tua kehilangan putra atau putrinya. Orang-orang kehilangan sanak saudaranya. Di seluruh pelosok dunia, korbannya mencapai ratusan ribu orang.

Baca juga:

Di negeriku, petingginya kebingungan, antara menutup sebuah kota atau tidak. Bagaikan makan buah simalakama. Jika tidak ditutup, orang-orang akan mati. Jika ditutup, perekonomian mati.

Orang-orang di negeriku juga sulit diatur. Sudah ada perintah dari pejabat kesehatan agar mereka tinggal di rumah, tetapi mereka nekat bepergian. Monster korona mendapat kesempatan menjelajah ke mana-mana menularkan virusnya.

Sudah puluhan dokter dan perawat yang meninggal dunia karena tertular korona dari pasien yang dirawat di berbagai rumah sakit. Sebuah tragika yang mengkhawatirkan dan mengenaskan. Menakutkan dan menyedihkan.

Hal-Hal Ganjil

Pandemi Covid-19 menimbulkan hal-hal yang ganjil di negeri ini. Ini tampak dari tanggapan masyarakat dan pemerintah terhadap wabah korona. Perilaku dan cara berpikir yang aneh muncul sehingga berakibat kontraproduktif.

Korona menjadi kambing hitam ketika berita duka menyelimuti sebuah keluarga. Orang yang meninggal dunia karena bukan terinfeksi virus korona, dicap pula sebagai korban wabah korona. Padahal mereka sakit jantung, asam lambung, atau stroke.

Para narapidana yang telah menjalani dua pertiga hukuman, dilepas dari penjara. Rupanya monster korona mampu membuat orang-orang kehilangan akal. Lumpuh berpikir.

Pengambilan secara paksa jenazah korban terinfeksi virus korona oleh keluarga korban terjadi di berbagai rumah sakit. Penghadangan mobil ambulans yang membawa jenazah korban virus korona juga terjadi di banyak tempat.

Tes Covid-19 digalakkan di mana-mana. Ada yang dibiayai oleh anggaran pemerintah dan ada pula yang dibiayai oleh masyarakat sendiri. Tes Covid-19 dan surat keterangan bebas Covid-19 terindikasi menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Para pencoleng ekonomi dan spekulan dagang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Harga masker melonjak seribu persen. Harga sembako juga ikut membubung tinggi.

Kita tak tahu hingga kapan wabah korona meneror penduduk bumi. Kita juga tak tahu kapan obat dan vaksin virus korona ditemukan. Namun, hal-hal ganjil yang memengaruhi pola pikir dan perilaku kita senantiasa muncul ke permukaan sebagai dampak pandemi Covid-19.

    Syukur Budiardjo
    Latest posts by Syukur Budiardjo (see all)