Louis Althusser: Kebebasan Itu Omong Kosong

Louis Althusser: Kebebasan Itu Omong Kosong
Louis Althusser | Verso

“Kebebasan itu omong kosong.” Begitulah kira-kira ringkasan teori dan praktik dari kaum Marxis strukturalis yang dipelopori Louis Althusser.

Lha, kok bisa kebebasan cuma omong kosong? Bukankah selama ini kita petentang-petenteng, bebas memilih ini-itu? Mari kita bongkar meminjam teorinya Althusser.

Kenapa manusia harus berpakaian? Ajaran siapa itu? Kenapa harus potong rambut? Kenapa harus bermoral? Kenapa harus memotong kuku, mandi, dan lainnya?

Harus melakukan sesuatu atau meyakini sesuatu, itulah yang dinamakan ideologi menurut pandangan Louis Althusser. Jadi, ideologi nggak harus yang wah, atau rumit, tapi praktik sehari-hari itu juga merupakan ideologi.

Kenapa Anda harus mengatur diri? Dari mana semua ajaran itu? Siapa yang pertama kali mengajari menggunting kuku? Dari mana kepercayaan “harus” menggunting kuku? Atau, kenapa Anda memilih gondrong? Kenapa nggak potong rambut mirip mangkok yang tengahnya cekung?

Apakah Anda yakin Anda punya pilihan bebas? Ah, gombal itu.

Anda membeli baju saja, semua sudah disediakan perusahaan. Anda memilih nomor HP atau milih beli jam, semua diatur perusahaan. Bahkan ketika Anda memilih untuk membuat baju sendiri, pasti bahan-bahannya disediakan perusahaan.

Cara membuat baju juga harus ada gurunya. Itulah ideologi mikro dalam pandangan Althusser.

Ideologi adalah yang menyebar pada seluruh praktik kehidupan, pada tindakan kecil atau besar, pada pikiran awam atau ilmiah, mulai dari percakapan soal pertanian sampai politik. Ideologi adalah segala yang sudah tertanam dalam diri individu sepanjang hidupnya, sejak bayi sampai mati.

Semua yang kita lakukan dan kita percayai itu sudah dibentuk oleh struktur-struktur di dalam dan di luar diri. Tidak ada istilah oposisi karena oposisi juga sudah diatur oleh struktur.

Louis Althuser bilang, “Ideologi bertindak atau berfungsi dengan suatu cara merekrut subjek-subjek di antara individu-individu atau mengubah individu menjadi subjekek. Ideologi menempatkan individu, manusia yang lahir dari alam, sebagai subjek, sebagai pihak yang bertanggung jawab, sebab memiliki juga kebebasan.”

Namun, di sisi lain, sang subjek diletakkan dalam rangkaian struktur yang mengandung relasi antar-unsurnya. Sang subyek ternyata adalah salah satu unsur dari struktur ketika menjalin relasi dengan unsur lainnya.

Gerak-gerik subjek yang seolah-olah bebas ternyata dibatasi oleh relasi dalam struktur. Kebebasan subjek pada dasarnya hanyalah ilusi yang diciptakan ideologi agar ia merasa bertanggung jawab dan mendorong dirinya melakukan serangkaian tindakan untuk menghidupkan struktur yang ada sebelum ia lahir.

Sejak semula ia telah dipersiapkan untuk “mengabdi” kepada jaringan struktur. Bahkan sebelum lahir, seorang anak sudah dipersiapkan sebagai pelengkap struktur keluarga.

Nah, coba, kira-kira hal apa yang lepas dari ideologi? Ideologi itu ibarat udara untuk bernapas. Mulai dari keluarga, masyarakat, negara, semua tidak bisa lepas dari jerat ideologi.

Kapitalisme dan gaya hidup turunannya itu ideologi. Apalagi soal iman, moral. Ideologi itu membuat manusia tunduk tanpa diawasi. Pikiran manusia itu, kan, nggak mungkin bisa dilepaskan dari kehidupan sosial yang melingkupinya? Inilah yang dinamakan struktur.

Kenapa Anda mesti sekolah? Kenapa harus kerja? Kenapa memilih golput? Asal-usul golput itu dari mana? Apakah memilih atau tidak memilih orang bukan termasuk lingkup dalam struktur? Semua ada di struktur.

Mungkin kalau Jean Paul Sartre dan Louis Althusser ketemuan, pasti akan debat soal kebebasan sambil gebrak-gebrak meja. Yang Sartre bilang, “Manusia itu bebas”.

Si Althusser membantah, “Bebas gimana? Bahkan ketika seseorang memilih semaunya sendiri saja itu merupakan bagian dari struktur. Semuanya tunduk pada fungsi masing-masing. Anda tunduk pada fungsi kebebasan Anda.”

    Aly Mahmudi
    Latest posts by Aly Mahmudi (see all)