Louisa May Alcott, Seorang Pendidik yang Tersembunyi

Louisa May Alcott, Seorang Pendidik yang Tersembunyi
©Historic Boston Inc

Louisa May Alcott adalah nama yang tidak asing di belantara kesusastraan dunia. Karya-karyanya pun tersebar luas, hingga di toko buku Indonesia. Ia didaulat sebagai salah satu penulis perempuan paling berpengaruh pada abad 19.

Louisa May Alcott dikenal sebagai penyair dan novelis. Gelar ini tentu disesuaikan dengan berbagai karya-karyanya yang berhasil memikat perhatian pembaca dunia. Namun begitu, tak sekali pun yang pernah menyebutkan pengarang besar ini sebagai pendidik.

Ya, pendidik. Gelar ini seharusnya patut disandangnya karena ia berhasil membuktikan dengan karya tulis dan karya nyata. Dan tulisan ini hadir untuk menjawab serta mempertanggung-jawabkan atas julukan tersebut.

Pertama-tama kita perlu menengok riwayat pendidikan Louisa kecil.

Diketahui bahwa Louisa sejak dini ditempa secara ketat oleh ayahnya, Amos Bronson Alcott. Selain di rumah, Louisa kecil juga menimbah ilmu di Temple School Boston.

Hingga 16 tahun kemudian, pendidikan formalnya berhenti. Kebutuhan keluarga yang makin meningkat menuntut Louisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri.

Meski begitu, bukan berhenti belajar, Louisa malah meningkatkan semangat belajarnya pada teman-teman ayahnya yang sudah masyhur masa itu. Teman-teman yang dimaksud itu adalah Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, Theodore Parker, dan lain-lain.

Berkat lingkungan keluarganya yang peduli nilai-nilai intelektualisme, Louisa akhirnya terkondisikan untuk makin memantapkan kualitas pribadinya.

Kemudian dari semua hal di atas, Louisa harus menghidupi kedua orang tua dan ketiga saudaranya. Oleh karenanya, bermacam-macam profesi dilakukan agar tetap melanjutkan hidup bersama keluarganya, termasuk menjadi pengajar di suatu sekolah.

Tercatat, Louisa menjabat sebagai pengajar pada tahun 1850 hingga 1862. Pengalaman ini rupanya terus terekam di memorinya dan lahirlah sebuah karya berjudul Little Men. Karya inilah, bagi saya, sebagai tapak tilas pemikiran pendidikannya.

Novel Little Men memang tidak setenar Little Women atau Good Wives. Dua karya terakhir berhasil melejitkan karier kepenulisan Louisa ke antero dunia.

Meski demikian, Little Men tidak akan kalah menariknya dengan novel laris Louisa lainnya. Buktinya, hingga sekarang, novel ini masih diterjemahkan ke berbagai bahasa dan sudah naik ke panggung perfilman. Jadi, selanjutnya, saya akan paparkan cuplikan pemikiran Louisa yang terpatri di novelnya ini.

***

Little Men adalah serial kisah tentang keluarga March yang sudah berkembang menjadi keluarga yang mandiri. Dalam novel ini, berkisah perjuangan Jo March bersama suaminya, Fritz Bhaer, mengembangkan sekolah Plumfield.

Plumfield merupakan sekolah yang memfasilitasi belasan anak laki-laki dan perempuan. Mereka dituntut belajar dan mengembangkan kemampuan diri dan menjadi manusia yang baik.

Dengan metode pendidikan yang humanis, serta disokong sikap lemah-lembutnya, Bu Bhaer dan Pak Bhaer berhasil mendidik anak-anaknya meraih cita-cita, cita-cita sebagai dirinya sendiri.

Nilai-Nilai Pendidikan Louisa May Alcott

Pertama, pentingnya memanggil dengan sebutan yang baik dan positif.

Memanggil anak-anak dengan panggilan yang positif adalah pintu pertama memasuki dunia anak-anak. Oleh karenanya, lewat Pak Bhaer dan Bu Bhaer, mereka tidak pernah lupa untuk menguluk anak didiknya dengan nama-nama yang bagus. Sehingga, dengan begitu, si anak akan mudah terbuka dan merasa menjadi bagian dari sekolah tersebut.

Benar saja, ketika Pak Bhaer bertemu pertama kalinya pada siswa barunya, ia berkata: Jadi ini anak baruku? Aku senang melihatmu di sini, sayang, dan mudah-mudahan kau akan bahagia di sini. Lalu dengan hangat Pak Bhaer menarik tubuh anak tersebut mendekat, menyibakkan rambut dari dahinya dengan lembut.

Kedua, menerapkan sedikit aturan dan membebaskan bermain dan belajar.

Dasar kecenderungan anak-anak adalah bermain. Dalam hal ini, Louisa menunjukkan pentingnya kebebasan bermain dan menyederhanakan peraturan di sekolah. Dalam hal ini, Louisa menulis: Kami tidak ingin anak-anak merasa sengsara karena terlalu banyak belajar, dan terlalu banyak peraturan.

Sekolah ini membolehkan anak didiknya bermain sesuka hatinya, dan sepuasnya. Tetapi begitu, kebebasan yang diberikan kepada anak-anak tidak berlebihan; tetap terkontrol dengan ketat. Dengan begitu, anak-anak bermain dengan batasan-batasan tertentu sehingga membuat mereka tetap belajar dengan baik.

Menurut Louisa, peraturan yang sederhana dan mudah membuat anak-anak tumbuh dengan baik. Oleh sebab itu, aturannya anak-anak tidak banyak menghafal, tidak belajar terlalu berat dan lama. Begitulah, kata Louisa: Membiarkannya tumbuh dengan alami dan indah seperti matahari dan embun membangun setangkai mawar untuk mekar.

Bahkan Louisa mengutuk guru atau orang tua yang menjejali anaknya dengan berbagai hal, memberinya berbagai pelajaran sulit, mengharuskan membaca buku yang tidak dimengerti. Bagi yang lain itu bagus, tapi, tulis Louisa: Dia pikir telah melakukan tugasnya, padahal dia hampir membunuh anak itu.

Kemudian Louisa mengkritik sekolah yang hanya mengajarkan pelajaran-pelajaran di buku saja. Bagi Louisa, itu kesalahan. Karena yang benar, selain pelajaran di buku, seorang anak harus belajar tentang kearifan yang menjadi mereka manusia yang baik.

Pelajaran Bahasa Latin, Yunani, dan Matematika, semuanya penting. Tetapi, kata Lousia: Pengetahuan akan diri sendiri, kemampuan menolong diri sendiri, dan pengendalian diri lebih penting. Oleh sebab itu, sekolah Plumfield diciptakan untuk bersenang-senang, untuk belajar menolong diri mereka sendiri, dan kuharap menjadi orang yang berguna.

Ketiga, menghargai dan memuji. Inilah nilai pendidikan selanjutnya yang perlu dilakukan oleh praktisi pendidikan.

Dengan menghargai dan memuji, anak-anak tambah percaya diri dan menanamkan mental positif dan tidak rendah diri. Dalam hal ini, Louisa mengisahkan saat Nat, salah satu siswanya, seusai bermain piano, semua anak-anak yang mendengarnya diajak bertepuk tangan.

Menurut Louisa: Tepuk tangan meriah adalah penghargaan yang lebih indah baginya daripada lemparan uang logam. Begitulah. Penghargaan dan pujian merupakan bagian penting dalam pendidikan.

Keempat, hukuman yang menyadarkan.

Penghargaan dan hukuman adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan cara efektif untuk memastikan peraturan tetap berjalan dengan baik, sebagaimana yang diterapkan di sekolah Plumfield itu. Sekolah itu memberlakukan hukuman yang di luar kebiasaan, tetapi dampaknya sungguh luar biasa.

Hukuman seperti apa? Hukuman yang menyadarkan, bukan untuk menakutkan.

Dikisahkan dalam novel ini bahwa suatu hari salah seorang siswanya melakukan hal melanggar aturan. Atas pelanggaran itu, membuat Pak Bhaer memutuskan untuk menghukum si anak tadi.

Alih-alih menghukum si pelanggar, justru Pak Bhaer-lah yang menghukum dirinya sendiri, dengan memukul badannya agar siswanya ikut merasakan betapa sakitnya melanggar itu; betapa memalukan sekali bagi si anak bila dirinya yang berbuat salah malah gurunya yang dihukum.

Hukuman dengan cara tersebut, tentu, tulis Lousia: Kau akan lebih ingat kalau kamu membuatku sakit daripada kalau kau sendiri merasakan sakit.

Luar biasa! Adakah guru kita kini berani menerapkan hukuman seperti itu?

***

Demikianlah beberapa cuplikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Little Men. Dengan begitu, saya berani berkata bahwa Louis May Alcott bukan saja penyair dan novelis, tetapi ialah pendidik yang sesungguhnya.

Nilai-nilai pendidikan di atas adalah nilai universal yang bisa dan seharusnya diberlakukan pada dunia sekarang. Saya pikir, Louisa May Alcott sudah memulai pendidikan karakter yang kini tengah digalakkan oleh menteri pendidikan.

Selanjutnya, novel Little Men ini wajib dimiliki oleh guru dan masyarakat umum. Harapannya, agar terus tercipta anak-anak yang bebas dan baik sebagaimana yang dipraktikkan di sekolah Plumfield.

Artikel Terkait:
Latest posts by Muhdar Muhrianra (see all)