Magdalena

Magdalena
©Metrord

Puisi itu gugur di musim hujan
Yang kau cintai melebihi rintiknya
Kopi itu mengampas sebelum sempat kau sesap
Dan membiarkan pahitnya bermenung tanpa ucap

Bagaimana menerjemahkan kedukaan
Segenap nafsu yang ujungnya hanyalah derai
Meski sekadar tentang cuaca dan kata-kata yang menurutmu
Makin menggurita dalam jemu

Narasi-narasi bergulir tanpa henti
Membagi-bagi gelap dan merejang teriak dari semak
Sedang di ranjang kau masih sibuk menghitung barapa banyak
Lelaki yang meninggalkan luka pada tubuhmu

Kepada Eva

Ibu
Di langit jingga itu
Belum ada yang sempat
Mengenali sepasang payudaramu
Mendengarkan nyanyian merdumu
Dan menceritakanmu seperti bidadari

Serabut petir yang menyala melindungi Eden
Tak lebih mengerikan
Ketimbang dosa pertama singgah di tubuhmu

Setangkai melati kau tinggalkan
Di jendela kematianmu tempat dosa menyapa
Kami tanamkan dalam setangkup harapan
Sebab di surga
Tempat di mana cinta dan nama-nama
Akan senantiasa dikenang tanpa mengibarkan bendera kemerdekaan

Doa Puisi

Dalam nama kata
Segala yang mendidih dalam kepala
Tidak nyata
Setelah amin didamaikan
Menjelma doa yang gugur

Ah, Tuhan, aku salah

Surat dari Putrimu yang Beranjak Dewasa

: Buat Yanny

Ibu, sudah dua tahun kita tidak menciptakan cerita
Tentang supernova yang jatuh di atap rumah kita
Atau hujan yang panjang memburuh tubuhmu

Ibu, aku ingin tidur di pelukanmu sambil mendengar nyanyian
Nina bobomu yang memberi kehangatan
Sebab kisah selalu baru memutih rambut, berkerut kulit
Kurang mendengar dan mata pun kian awas
Tapi kasihmu tak berubah

Ibu, kurindu mendengar panggilanmu
Yang adalah nyanyian paling merdu
Dan mencium tubuhmu seharum kamboja
Dan melihat senyum tulusmu seindah mawar

Ibu, bolehkah aku menyita waktumu sebentar di surga
Agar aku bisa menyanyikan lagu untukmu
Dan ingin melihat engkau tersenyum sekali lagi

Ibu, aku merindukanmu

Doa Malam

Tuhan
Di ujung doa ini ada syukur
Yang merdu pada amin yang berkicau di bibirku

    Sonny Kelen
    Latest posts by Sonny Kelen (see all)